Thursday, 10 December 2015

Week 12: How is The Feeling?



Hmmm.. Rasanya? Kayak inget balik ke awal tahun dan kita sama-sama janji bakal ngebikin tahun ini tahun yang bakal dikenang semua orang karena prestasinya.

Selamat untuk treble-nya

Akhir Tahun Terakhir

Selama kuliah, ini akhir tahunku yang keempat.

Dan selama empat tahun mengalami akhir tahun di kampus senja ini, ada yang khas dari cara FISIP menutup tahun.

FISIP selalu menutup tahun dengan semangat kompetisi. Kompetisi dimana-mana. Olim, OIM, Artwar, Gelmab, Limas (kompres), FPG (Olimfis), semua kompetisi. Mungkin karena itu, akhir tahun di FISIP selalu diwarnai dengan kebahagian kemenangan, haru perjuangan, dan optimisme kesempatan kedua. Karena baik kalah maupun menang dalam kompetisi apapun itu, yang dicari selalu adalah perbaikannya dan bagaimana menutup kompetisi di tahun depan dengan lebih baik lagi. Bagaimana menjadikan kompetisi di tahun depan lebih manis lagi. Karena sesungguhnya kompetisi adalah tentang perjuangan dan persaudaraan...

FISIP selalu menutup tahun dengan cerita. Semua orang menjadi jumawa dan menggembar-gemborkan apa saja yang sudah dilakukannya sebelum menutup tahun. Maka FISIP di akhir tahun selalu penuh dengan cerita-cerita kontribusi yang membuat iri siapapun yang mendengarnya dan membuat tinggi siapapun yang bercerita. Cerita-cerita ini seolah menjadi pembuktian, seolah diceritakan karena sang pencerita ingin mencari pembelaan dan pembenaran akan hal-hal lain yang lalai dilakukan. Menjadi ilusi kepuasan diri bahwa aku sudah melakukan banyak dan bermanfaat untuk orang lain. Ah, FISIP di akhir tahun memang penuh dengan hati yang bernanah.

FISIP selalu menutup akhir tahunnya dengan awal. Karena berakhir selalu berarti kembali ke awal. Maka akhir tahun adalah sarana menyiapkan awal tahun yang baik. Untuk segala-galanya. Pembicaraan tentang masa depan terdengar dimana-mana, entah apakah yang dibicarakan adalah masa depan penuh pikiran matang atau hanya tergesa menunjukkan kemampuan, tanpa sadar menjadi antitesis bagi tahun yang bahkan belum berakhir ini. FISIP di akhir tahun selalu penuh kecurigaan dan semangat tinggi untuk awal tahun. Bukan, bukan karena terburu ingin meninggalkan tahun ini, tapi karena cintanya pada FISIP untuk terus mengambil langkah baru.

FISIP di akhir tahun. Mungkin karena ini akan menjadi akhir tahun yang terakhir, rasanya berbeda buatku. Rasanya lebih meyentuh haru. Karena yang dikenang bukan hanya tahun ini, tapi juga tahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu. Rasanya lebih haru karena akhir tahun ini akan menjadi yang terakhir. Terakhir dinikmati di depan panggung bersama sekumpulan orang irasional yang merelakan banyak waktunya. Terakhir dinikmati dengan berjalan-jalan malam di lorong-lorong kampus. Terakhir dinikmati dengan menantikan tegangnya kompetisi, atau curiga pada awal tahun nanti.

Menjadi sangat haru karena ternyata bila melihat ke belakang, jejak-jejak yang tertapak sudah sangat panjang. Melewati banyak haru gembira sedih murka yang lain. Melewati banyak wajah orang lain. Banyak kenangan lain. Akhir tahun ini menjadi berbeda karena mungkin, menjadi akhir yang manis. Yang meskipun dibawa dengan hati bernanah, tapi ternyata tak ada penyesalan tertinggal di dalamnya. Yang meskipun diiringi rasa curiga, terdapat kepercayaan di dalamnya. Yang meskipun di gemuruh oleh rasa sedih, ada janji bahwa akan ada orang-orang lain yang menjaga, dengan sama cintanya...

Tolong dijaga...
Dan buat tak ada yang pernah menyesal ketika akhir tahun selanjutnya datang
Dan tak ada yang mengutuk ketika awal tahun selanjutnya tiba
"If you want to know what a man's like,
take a good look at how he treats his inferiors,
not his equal"

-Sirius Black-


Pada tersenyum atau tidaknya seseorang pada pedagang tisu
Pada terucap atau tidaknya terima kasih pada supir bikun
Pada cara memilih jalan saat ibu-ibu penyapu tengah menyapu jalan
Pada sopan atau tidaknya pada yang lebih muda
Pada berteriak atau tidaknya pada bucil saat mau pesan teh tarik

How we treats them define our qualities

Saturday, 5 December 2015

(That Thing They Called) Manners

As I'm going older and older, I found myself critics easily about younger people. One thing I critics most is manners.

I don't know is it because I'm a javanese, or because my family hold manners value highly, or because everyone else doesn't think much about manners, but I do found it very hard to find people with manners here in the place I'm staying, nowadays.

To find people that says, "excuse me" before passing by
To find people that says, "What can I help with?" when seeing someone in a hard time
To find people that says, "I'm sorry I couldn't attend" when he can't
To find people that speak soft in front of elder
that smile alot for other people
and help alot
well behaved
manners

Is it a very difficult request? Or is it actually a quest?

Week 11: 5 fashion item I cherish

1. Bagpack

2. A jacket with hoodie on it
 
3. Black Skirt
 
4. A Flower Pin
 
5. Sandals

Saturday, 7 November 2015

Detective Stories

I really love detective stories. And I don't know why. It is just so enjoyable to read (or watch) mysteries cases, murder event, and to deduct the culprit behind it. Regrettably, I am a part of the mainstream reader (and watcher) so I don't read (or watch) varies thing.

I found reading mysteries fun probably in my first grade of elementary. My cousin has that Detective conan book in his home and I read it because I don't have anything to read that time (I like reading so much since the beginning of my ability to read. And I love book ever since before I can read. And I swallow everything from novel and comic books to science and critical reading). So there, I read it and I got addictive.

The First Series that I read, Though before, it still has a white edge in the cover and the title still called "Detective Conan"


In elementary, I found many of my friends like read too, so we often share what have we read and exchange book. At the end of 5th grade in elementary, I've read all the Detective Conan books and I want to have more stories. So, I was introduced into Q Detective School. It was a short but meaningful story. Even now I have the scanned version of that comic. And I like it so much.

In middle school, I found another detective stories while I was bored and stay in the library all day long. I found the complete series of Sherlock Holmes. Of course I know Sherlock from Conan series, so I tried to read that, even though all of the books was in english. So I read it all, from the Study in Scarlet until The Return of Sherlock from the Reichenbach Falls.

And so on, by the times, I read and watch many things, The Five (a book by Enid Blyton), Sherlock (BBC Series), Magic Kaito (a Manga by Aoyama Gosho), Detective Kindaichi (a manga illustrated by Fumiya Sato), Dr Frost (a manhwa by jung jaebum), and many more novel that I cannot remember the title anymore. I really like Dan Brown's books too. Lately I watch Crime Scene too (a Korean Variety Show). I love that thing, I love detective stories. So much.

Wednesday, 4 November 2015

(That Thing They Called) Affection

Belakangan ini lagi sering banget denger kata afeksi. Protes-protes terkait kurang afeksi pada kami, pada mereka, pada aku, dan kamu. Keinginan-keinginan untuk mencurahkan afeksi pada orang-orang tertentu, pada benda tertentu pada sekelompok orang tertentu.

Ada ekspektasi-ekspektasi akan afeksi. Ada tuntutan sejumlah besar afeksi.

Tapi, ketika kita memberikan afeksi kita karena tuntutan (pada akhirnya), masihkah itu kita sebut sebagai afeksi? Atau sebenarnya itu hanyalah kepura-puraan yang kita bungkus senyum palsu dan kita namakan kasih sayang?

Buatku, afeksi adalah ketika aku benar menyayangi dia. Ingin tersenyum padanya dan memberitahunya bahwa semua baik saja. Buatku, afeksi adalah ketika aku memang ingin memberikan suhu hangatku padanya ketika ia membutuhkan seorang untuk menemaniya berduka. Buatku afeksi adalah ketika dia belari memelukku dan aku menyambutnya dengan tangan dan hati yang terbuka lebar. Tanpa paksa, karena aku ingin.

Afeksi adalah ketika aku memberikannya tanpa embel apapun. Tanpa teringat ata apapun. Dan ketika aku memberikannya atas nama afeksi, maka masihkah itu bernama afeksi?

Tuesday, 3 November 2015

Week 10: My Future Plan

Habiibati Bestari, S.Sos
Social Researcher
Mau pulang

Getting Married
Going back to school :3

Monday, 26 October 2015

Things We Never Knew


It had never occurred to Remus that Tonks could return his feelings because he had become so used to considering himself unclean and unworthy. One night when they lay in hiding outside a known Death Eater’s house, after a year of increasingly warm friendship, Tonks made an idle remark about one of their fellow Order members (‘He’s still handsome, isn’t he, even after Azkaban?’). Before he could stop himself, Remus had replied bitterly that he supposed she had fallen for his old friend (‘He always got the women.’). At this, Tonks became suddenly angry. ‘You’d know perfectly well who I’ve fallen for, if you weren’t too busy feeling sorry for yourself to notice.’

Source: pottermore.com

Sunday, 25 October 2015

Can You Imagine The Breeze In Hobbiton? And The Thrill In Battlefield?


Week 9: My Favorite Subject

You Should know beforehand, karena aku anak sombong yang kompetitif, maka mata kuliah favoritku biasanya adalah mata kuliah yang aku ahli, atau yang memberiku nilai bagus. Tapi setelah melalui proses peenungan yang cukup menyenangkan, semua mata kuliah itu aku kerucutkan menjadi tiga,

1. Teori Komunikasi (Semester 3, nilai akhir A)
Mata kuliah ini menyenangkan sekali. Selama kurang lebih empat belas pertemuan, kami belajar tentang teori-teori komunikasi secara bertigkat. Mulai dari komunikasi antar pribadi (Sejenis Coordinated Management Meaning) hingga teori mengenai media dan budaya (Hal-hal semacam Spiral of Silence dan Cultivation Theory). Entah kenapa mata kuliah ini membuatku memahami dengan baik bagaimana manusia berpikir dan merasa, dan bagaimana manusia memanipulasi orang lain untuk akhirnya menjalin hubungan-hubungan yang rumit. Mata kuliah ini adalah satu diantara sedikit yang aku memiliki bukunya, hardcopy! Dan aku bekerja sangat keras untuk memahami mata kuliah ini. Karena aku suka.

2. Metode Analisis Teks (Semester 6, nilai akhir A)
Mungkin memang aku yang menyukai hal-hal berbau teori dan metode-metode. Penelitian terbagi menjadi dua, kuantitatif dan kualitatif. Sementara penelitian kualitatif terbagi menjadi dua lagi, penelitian lapangan dan analisis teks. Aku suka kuliah ini karena kita mempelajari sebelas metode analisis teks yang umum digunakan (setidaknya di Jerman). Dan yang paling menyenangkan adalah, aku langsung mempraktikkannya. Kami diminta membuat sebuah analisis teks, sendirian. Aku suka.

3. Kemahiran Bahasa Isyarat (Semester 7, nilai akhir belum keluar)
aku sadar betul bahwa bahasa ini tidak akan aku pakai setiap hari dan akan terlupakan seiring berjalannya waktu. Tapi tetap saja, mempelajai bahasa baru selalu menjadi hal yang menyenangkan. Bagaimana melihat bahwa sebuah bahasa dan simbol dapat membuat kita mengerti satu sama lain. Mengetahui hal-hal yang pada umumnya orang tidak mau ambil pusing untuk tahu. Suka.

Saturday, 24 October 2015

(That Thing They Called) Friendship



I often watch dramas or films that shows years friendships. Decades of friendships. And now I came to the time where I challenged that. Next year will be the first year of me not going to school (or college), which is a source of friends. Starting next year, I don’t know if I have a friend stay by my side and hear me every day. Starting next year.

But more importantly, do people need friends?

Twenty past year I believe that friendship is something I should treasure more than anything. I have to make a good friends, have some best friends, help them when I could, and asking for help when I need. But people change, people become mature. In that thing we called matureness, we thought we were became considerate. We were afraid to tell others our problem, because we were scared to add more burden to their life. That thing called matureness is none other than our selfish side to be recognized as a considerate person. 

I still believe that friendship is something I has to treasure.

But what to do? Me too, change. Me too, become more mature. Me too, become afraid to tell others my stories. Don’t know who to tell or what should I tell. In the name of being considerate, in the name of becoming adults, slowly, I lost my boldness to share a little bit of my life to my friends and stupidly wants to bear everything all alone, trying to act tough. 

In the name of time, maybe I would lost my friends someday. Not because they left, but because I don’t dare to disturb them. Stupidly.

Monday, 12 October 2015

Week 8: Principles in my life

1. Sigma aksi sama dengan sigma reaksi
Aku percaya apapun yang kita lakukan di dunia ini pasti akan kembali pada kita. Apapun. Segala macam keburukan dan kebaikan. Merasa sudah banyak berbuat buruk tapi belum ada keburukan datang pada kita? Belum, keburukannya belum tiba. Atau, merasa sudah banyak berbuat baik tapi belum pernah ada balasannya? Balasan akan kebaikan kita selalu datang dengan bentuk yang berbeda. Datang dalam jumlah yang tidak langsung besar, atau mungkin sedang diakumulasikan menunggu saat yag tepat untuk dicurahkan. Apapun itu, aku percaya bahwa apapun yang kita berikan pada orang lain akan kembali pada kita. Segala kelelahan yang kita rasakan, akan menghasikan jerih yang sama besarnya. Segala cinta yang kita berikan, akan kembali sama besarnya, meski dalam bentuk yang berbeda. Atau dari orang yang berbeda.

2. Ketulusan itu pasti akan selalu menyentuh orang lain
Tulus itu memang seharusnya kita tulis di atas pasir. Agar angin keikhlasan dapat menerbangkannya jauh dari ingatan. Dan ketika ketulusannya telah terbang menjauh, siapa yang akan mengingatnya? Kita sendiri yang akan mengingat segalanya sendiri. Tidak pernah ada bukti bahwa ketulusan dapat dirasakan orang. Tapi aku percaya itu. Dan ketika hal-hal seperti ini tidak aku percayai, apa yang bisa aku percaya untuk tulus kepada orang lain?

3. Cinta adalah energi positif
Ini adalah rumusan yang luar biasa bagiku. Bagiku, cinta adalah energi positif. Segala hal yang kita lakukan degan positif, pasti ada cinta di dalamnya. Maka ketika ada kerusakan-kerusakan yang timbul atas nama cinta, itu tak lebih adalah dusta. Maka ketika seorang menjadi memburuk karena ia sedang jatuh cinta, bukan cinta itu namanya, hanya balutannya saja yang menyalahkan cita. Maka ketika seorang ibu membunuh anaknya karena cinta, bohong itu namanya. Bagiku cinta adalah energi positif. Dan jika kamu mencinta tapi tak membaik, tinggalkan. Mungkin itu bukan cintamu.

Wednesday, 26 August 2015

Week 7: Masakan Favorit

Bukan masakan favorit sih ya. Ini cuma karena baru-baru ini habis bikin aja dan dibilang enak sama beberapa orang. nama masakannya? Apa ya? Bentuk dan rasanya paling mirip sama pepes tahu sih. Tapi bahan dan cara buatnya nggak seribet itu. Mmmm, mungkin bakal aku sebut tahu-telor kukus. Hahahaha. Seperti namanya, bahannya cuma tahu dan telor, yang dikukus. Hahaha.

Bahan:
1 buah tahu (apapun, yang putih yang kuning ataupun yang hitam)
1 butir telur ayam
1 batang daun bawang
1 batang seledri
Bawang merah
Bawang putih
Garam
Gula
Merica bubuk

Cara buat
1. Haluskan bawang merah dan bawang putih sesuai selera. (Bisa haluuuuus banget, atau kasar-kasar aja)
2. Hancurkan tahu dengan garpu
3. Masukkan telur dan bumbu halus bawang, aduk dengan rata
4. Tambahkan garam gula dan merica
5. Tambahkan irisan daun bawang dan irisan seledri, aduk rata
6. Bungkus dengan daun pisang (bisa diganti dengan olastik)
7. Kukus

Jadi deh. Mudah murah sehat. Takarannya? Dikira-kira sendiri aja ya. Hahahaha.

Sunday, 16 August 2015

Week 6: Lagi Sibuk Apa sih Kamu?

Ah, aku tahu. Pertanyaan ini cuma kedok sebenarnya kan? So we could catch up to each other lives. Kesibukanku sama saja seperti kesibukan mahasiswa lainnya. Sedikit sama mungkin dengan gadis-gadis berusia dua puluhan lainnya. Dan sama saja seperti anak rantau lainnya.

Aku sedang sibuk menyelamatkan kuliahku. Menyelamatkan lulus empat tahunku dan skripsiku. Semoga semua yang tengah kesulitan dengan tugas akhirnya selalu dimudahkan, amin. Aku juga sedang sibuk menjadi tante untuk keponakan lucuku yang baru lahir 15 Agustus lalu (yay). Di sela-sela kesibukan itu, aku juga sedang sibuk menambal-nambal kesempatan untuk menjadi anak yang berbakti untuk kedua orang tuaku (hal ini termasuk mencoba memberi kabar dan menghindari meminta uang, juga mendoakan mereka ketika ingat, dan memikirkan apa yang harusnya dilakukan untuk masa pensiun mereka ketika sempat). Dan tentunya aku juga sedang sibuk menjadi hamba yang diciptakan utuk beribadah kepada Tuhannya.

Aku cukup sibuk kan?

Kalau ingin membicarakan kesibukan yang lain, aku sedang sibuk menyelamatkan minat membaca dan menulisku. Tapi hasilnya, aku hanya tetap membaca komik dan novel fantasi yang sebenarnya sudah kubaca beberapa kali (oke, kuakui, mungkin beberapa belas kali. Kamu pasti tahu novel apa yang kumaksud). Dan menulis pun hanya kulakukan melalui blog picisan ini haha. Tapi aku juga sedang menulis hal-hal lain kok. Aku sedang sibuk mengumpulkan segala jenis tulisan, esai, dan tugas kuliahku yang bagus-bagus untuk ku upload di suatu tempat entah dimana. Aku juga sedang sibuk menulis kembali puisi dan cerpen yang dulu sangat kugandrungi. Oh ya, dan jangan lupa, aku juga sedang sibuk menonton banyak drama dan film dan menulis reviewnya. Aku juga sibuk melakukan segala aktivitas terpuji sebagai seorang netizen.

Sangat sibuk kan?

Oh oh oh oh ya, aku juga sedang sibuk menikmati setiap embusan nafas yang bisa kurasakan. Merasakan aliran udara masuk ke tenggorokanku dan keluar lagi. Merasakan setiap denyut nadi yang menderu dari banyak titik di tubuhku. Merasakannya berdebam ketika suatu hal terjadi, atau seseorang lewat. Merasakannya tenang dan hampir tak terasa ketika tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku juga sedang sibuk berkedip hampir setiap detik. Dan itu semua aku lakukan sekaligus.

Yah. jadi itulah kesibukanku sekarang.
Oh ya, di tengah segala macam kesibukan itu, aku sedang membantu menjalankan rumah tangga bem fisip ui, dan membantu meringankan beban administrasi orang-orang pusat kajian komunikasi.

Tentang Puisi

"Kalo Kak Bes bikin puisi pasti bagus deh"
"Kok gitu?"
"Soalnya bahasa yang dipake di tulisannya gitu"

Yes. I like poetry. So much. I've write and read so much poetry since elementary school. I'm not saying that I'm a poet. I'm just saying that I like ones. I don't have any formal knowledge about poetry. I don't know which year produce what poetry or who is the great poet of each era. I don't know such thing. So don't ask me that kind of question after you read this.

The fact is, I write poetry as an expression of my overflown emotion that has to be transferred somewhere. Anger, disgust, joy, sorrow, even yearn, all of that emotion could easily written all over the blank paper as a poetry. No genre. No theme. Just a poetry.

And I read a poetry just like that. I read it everywhere. I don't fancy certain people or certain era, just read a poetry. I just read it because I think I could feel the emotion. I don't need to verify the meaning behind it, nor even care if the poet has meaning. Just want to read it and interpret it as I like.

I write a poetry for me
I read ones for me
And I like it
And I decide to share what I like to you

Monday, 10 August 2015

Week 5: 5 Weirdest Thing I've Ever Done

Berat rasanya mau nulis tema ini. Satu tema ini bisa menghancurkan seluruh citra yang sudah aku bangun :"
Jadi, mari kita terjemahkan dulu apa itu weirdest thing. Aku mengartikannya sebagai hal-hal yang aku lakukan yang sangat jarang dipikirkan oleh orang lain. Aku yakin, kamu pasti pernah melakukan ha-hal aneh ini juga. Dan aku percaya pada dasarnya manusia memang makhluk aneh yang punya sisi uniknya masing-masing. So, don't judge me wrong after you read these.

1. Solving Math Problems
Sebagai latar belakang, aku punya Ibu seorang guru matematika. Kakakku, selalu lulu Ujian Nasional (SD hingga SMA) dengan nilai matematika sempurna. Dan adikku juga begitu. Tapi, aku pernah mendapatkan nilai matematika 3 untuk ujianku. Dan bahkan nilai 6 untuk raportku. Matematika adalah titik pembeda aku dan keluargaku.
Di usiaku yang hampir 21 tahun ini, sebagai mahasiswa ilmu sosial yang bebas, aku merasa kemampuan berpikir logis dan memikirkan probabilita penyelesaian masalah semakin lemah. Jadi kamu bisa tebak apa yang aku lakukan? Aku menyelesaikan soal-soal matematika untuk persiapan ujian kelulusan SMP. Benar-benar dikerjakan dan dinilai. Hahaha, aku senang.

2. Making a short list over a drama review
Aku suka sekali nonton drama korea. Dan aku sudah menontonnya dari lamaaaa sekali. Tapi aku sama sekali bukan golongan orang yang suka ber-kya-kya melihat oppa-oppa tampan atau menangis sendu karena plot mengharukan. Aku suka menganalisisnya. Membandingkan kemampuan aktornya, juga penulis naskahnya. Karena itu, aku membuat daftar drama yang pernah ku tonton dan aku mereviewnya. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk berbahagia saja ^^
Review yang kubuat

3. Disorakin anak kecil
Aku pernah beli boneka anak ayam yang lucu sekali. Namanya Pyo. Setelah aku beli boneka itu, aku beli susu indomilk yang ada di botol kecil lucu. Aku bawa boneka Pyo ku dan minum susu itu sambil berjalan pulang ke kosan. Mari kita bayangkan sejenak, seorang remaja gendut pake jilbab bawa ransel mengayun-ayun boneka sambil minum susu dalam botol berjalan dengan rona muka bahagia. Hasilnya? AKu disorakin oleh anak-anak kecil yang sedang main-main di sore hari. "Kakaknya minum susu!" "Ih bawa boneka!" "Bonekanya lucu!"

4. Boneka dari siapa?
Ini masih tentang Pyo, boneka anak ayam yang culun itu. Aku suka iseng bertanya pada orang-orang, "Coba tanya dong tanya, ini boneka dikasih siapa?" "Dikasih siapa Bes?" "BELI SENDIRI"

5. Dancing in the ATM booth
Di kampusku, ada booth ATM BNI. Di dalam booth itu, ada dua mesin ATM. Pernah suatu sore, aku mau menarik uang dari tabunganku. Sore itu, kampus sedang sangaaaat sepi. Aku masuk ke booth, and I don't know why I just have this urge to dance along. So I just dance. And you know what? There is this person enter the booth and looking and me with disgust in his face. I paused my dance momentarily, then just flew away and never look back. Sorry mister~

Sunday, 9 August 2015

Week 4: Lima Belas Orang yang Berpengaruh dalam Hidup

Sulit kalau aku diutus memilih lima belas orang saja dalam hidupku. Karena ada banyak sekali orang-orang yang namanya ingin kumasukkan karena aku terlampau sayang pada mereka. Atau terlalu merasa bersalah pada mereka. Tapi kita buat mudah saja untuk pekan ini, yang akan aku tulis adalah orang-orang yang perkataannya memengaruhiku mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupku. Dan siapa saja mereka?

1. Mama
From head to toe, she is just a reason what make me I am today. Tanpa mencoba normatif,sejauh aku mengingat, semua keputusan yang aku buat hingga hari ini selalu dipengaruhi oleh keputusan ibuku. Mulai dari pilihan sekolah menengah, hingga preferensi pasangan hidup. Aku akan highlight yang satu ini. Dulu sekali, aku lupa kapan, Ibuku pernah bilang, "Tar, kalo cari suami, itu yang sudah kamu kenal. Seenggaknya kamu udah tau dia aslinya seperti apa, kamu yakin dia orangnya baik". Dan seterusnya-dan seterusnya. Hingga sekarang, bila mengacu pada buku Devito, aku termasuk tipikal storgic lover, tipikal orang yang hanya bisa jatuh cinta setelah melalui proses panjang. Dan perlahan. Seperti jatuh cinta pada sahabat.

2. Papa
Oke, sekali lagi tanpa mencoba normatif. Dan sekali lagi, karena begitu banyak pengaruh orang ini dalam hidupku, aku akan mengambil dua yang paling terlihat. Pertama, namaku. Nama panjangku, Habiibati Bestari berarti kekasih kebijaksanaan, atau yang mencintai pengetahuan luas. Nama yang kugunakan di media sosial, adalah Bestari Zain. Zain ini aku ambil dari nama ayahku, Zainurrowatib. Dan melekat hingga kini. Yang kedua, track record-ku sebagai sekretaris. Itu semua diilhami dari bapak-bapak berperut buncit dan beruban ini. Suatu sore, saat aku masih menjadi anak 2 SD yang culun, si bapak pernah bilang padaku, "Tar, dalam sebuah organisasi, Ketua boleh jadi pintunya, tapi kuncinya adalah sekretarisnya. Ketua boleh jadi kepalanya, tapi sekretaris adalah kuncinya". Dan well, here I am.

3. Berlin
She is the very person I often look up to. She is my five-year-older-sister. Semuaaaaa kelakuan dan karakterku (yang positif maupun negatif) pasti mendapat pengaruh dari si gendut ini. Mulai dari keinginan untuk selalu berbeda, jiwa kompetitif, hingga pilihan-pilihan yang aku lakukan dalam hidupku: mengenakan jilbab, pilihan SMA, pilihan buku bacaan, pilihan film, hingga pilihan pakaian. Bagiku, kakakku selalu terlihat hebat. Bagiku dia selalu berjalan di depanku dan membiarkan aku melihat punggungnya. Bagiku, dia adalah gunung yang belum bisa kutaklukkan.

4. Bara
My cute little brother is not the same cute boy I've ever seen anymore. Bara adalah adik kecilku yang lucu (atau setidaknya dia pernah menjadi lucu) yang lebih muda delapan tahun dibandingkan aku. Anak kecil ini, lucunya selalu menjadi cermin yang paling ampuh dalam hidupku. Bayangkan, delapan tahun aku hidup lebih dulu dibanding dia, tapi tabungannya jauh lebih banyak dariku, temannya (juga fansnya) lebih banyak dariku. Ibadahnya, lebih istiqomah dariku, ia lebih rapi, lebih tulus, dan lebih lembut hatinya... Bagiku, dia adalah cermin kecil yang selalu bisa menjadi sumber refleksi untukku. Delapan tahun, dan dia berusaha lebih banyak dibandingku. Delapan tahun, dan aku masih dibuat terkagum pada adik kecilku.

Dari kiri ke kanan: Bes, Mams, Mas Andra, Mbak Ber, Paps, Bara


5. Pak AB
Dari enam wali kelasku sewaktu SD, beliau adalah yang paling bisa ku ingat secara jelas. Mungkin karena namanya aneh, atau mungkin karena gaya mengajarnya yang eksentrik, atau mungkin karena banyak sekali yang beliau ajarkan pada murid-murid kelas 5B yang super bandel-bandel ini. Pak Aberor namanya. Dia adalah guru pertama yang mengajarkanku untuk berani menjadi berbeda. Untuk bisa mengambil keputusan-keputusan dan keluar dari zona nyaman, dari orang-orang yang kita merasa nyaman. Beliau guru pertama yang mengajarkanku bagaimana untuk berpikir secara logis, dan mudah, dan berani. Yang paling aku ingat dari cara mengajar uniknya adalah: pengaturan tempat duduk, sebelah kanan adalah bangku laki-laki dan sebelah kiri adalah bangku perempuan. Satu hari, laki-laki akan maju satu bangku ke depannya sementara para perempuan diam. DI hari berikutnya perempuan mundur satu bangku, dan para lelaki diam. Dengan sistem duduk ini, we end up sitting with every opposite-gender in my class. 

6.  Devita Rahmadhani
Devita adalah sahabat kecilku. Aku sadar bahwa ada makhluk bernama Devita Rahmadhani semenjak aku berada di kelas 2 SD. Dia adalah anak kelas sebelah yang katanya pintar sekali. Aku yang aslinya adalah makhluk sombong dan tak mau kalah, langsung tidak suka pada Devita ini. Saat kami kelas 3 SD, teman-teman sepermainanku suka meninggalkanku dan bermain bersama Devita ini. Siapa yang tidak sebal coba? Lalu, saat kami kelas 4 dan untuk pertama kalinya kami satu kelas, dia adalah ketua kelas, sementara aku wakilnya. Saat kelas kami sedang mengikuti pramuka, aku dan Devita diminta untuk mengambil entah-apa-aku-lupa di kelas. Dalam perjalanan ke kelas itu, Devita dengan polosnya berkata "Bes, mau jadi sahabatku nggak?" Dan itulah mulanya aku memiliki sahabat yang bahkan sampai sekarang masih sangat ku sayang itu.
 

7. Dian Nirmala Aprilia
Dian ini, adalah teman sebangku-ku selama tiga tahun di SMA. Dian ini selalu diam saja ketika aku mencubit atau memukulnya. Dian selalu membangunkan setiap kali aku tidur di kelas. Membantuku mengerjakan PR (dan ujian). Mengingatkanku untuk selalu berusaha menjadi orang baik. Bahkan, dia pernah membawakanku bekal makan karena aku tidak pernah sarapan. Dian ini, selalu jadi teman dalam jalan kebaikan. Yang bahkan saat pengumuman SNMPTN, kami membukanya bersama. Sama-sama tercengang karena kami lulus pada pilihan pertama kami. Yang hingga kini, masih kuingat kata-kata ampuhnya, "Males itu nggak dosa Bes, tapi bisa mencegah dari berbuat kebaikan". Terima kasih, Di.

8. Nindy Adhilah
Ada satu masa dimana aku jatuh dalam kesedihan dan kekecewaan berat saat aku berada di bangku kelas 11 SMA. Masa-masa dimana Bestari seakan tidak bisa bangkit dan akan terpuruk selamanya itu, Nindy Adhilah mengirim sebuah sms.
"Kecewa itu wajar. Tapi jangan tenggelam disitu. Slalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Dan anggap aja smua ini bakal buat kamu lebih kuat, lbih banyak pengalaman.Jangan mau dijatuhkan oleh kegagalan. Jdikan tantangan. Instropeksi diri juga. Ambil plusnya, ilangi minusnya. Saya buka psikolog ataupun motivator ataupun Sidharta Gautama, tapi saya teman anda. Dan saya tau anda kuat. Lifes go on. Smangat :)"
Itu adalah saat dimana aku memulai rasa sayang yang tercurah-melimpah pada seorang Nindy Adhilah. Yang hingga kini, kami masih berbagi cerita. Masih berbagi beban hidup. Masih berkaca pada masa SMA yang telah lewat yang begitu membahagiakan untuk kami berdua. Hingga kini, bahkan rumahnya menjadi salah satu tujuan singgah setiap pulang ke kampung halaman. Kamu pasti lupa kan Ndek, kalo kamu pernah kirim sms itu ke aku? Tenang aja, aku inget kok :)


atas: Dian, Mede. Bawah: Bes, Babi, Ndek

9. Nur Izzatul Muthi'ah
Ica-Yaya
Apa lagi yang bisa dikatakan tentang sahabatku yang satu ini? Beruang yang suka tidur dan suka makan. Pertama kali aku bertemu Ica saat kami sama-sama menjadi panitia Perisai. Berlanjut menjadi teman satu liqo. Lalu menjadi teman satu tempat les. Lalu menjadi teman satu kampus. Teman satu kamar. Dan entahlah, buatku Ica adalah rival, sekaligus cermin, sekaligus teman berdiskusi yang kritis, sekaligus orang yang menyebalkan. Ica bisa menjadi segalanya. Dan banyak sekali keputusan-keputusan dalam hidupku yng dipengaruhi oleh Ica.
Aku tidak mau menjadi orang yang berlari di depanmu atau di belakangmu, Bes. Aku mau kita adalah rival yang sama, yang akan ada di garis finish berdampingin dan bersama, meski dalam prosesnya akan banyak dinamika.

10. Afina Raida Vinci
One of a kind. Orang ini unik sekali. Di SMA, Afina adalah seniorku. Dan salam banyak kesempatan, banyak capaian-capaiannya yang aku jadikan targetan untukku. Tanpa aku sadari bahwa kami sebenarnya berbeda, tapi dia banyak menjadi contoh dalam kegiatan SMA yang tak terhitung banyaknya. Bagaimana cara dia berpikir dan bertindak. Bagaimana cara dia merasa. Sampai sekarang, aku merasa aku belum mengenal Afina. Masuk lapisan kulit bawangnya saja belum. Aku masih di luar dan diizinkan hanya berada di luar saja. Tapi bahkan dari luar, aku belajar banyak dari seorang Afina. Bahkan dari bagaimana aku mem-branding diriku sebagai pion, semua itu berkat sentuhan tangan Afina.

11. Bara Lintar Sanggabuana
Dia adalah senior pertama di kampus yang menjadi tempat pulang. Di Depok, tempat segala hal menjadi asing dan rumah terasa begitu jauh, dia menjadi orang pertama di kampus yang bisa digantungi. Yang menjadi kakak yang bisa diandalkan, sekaligus partner kerja yang sangat menyenangkan. Tempat berbagi pemikiran, juga sebagian kehidupan. Orang ini, menjadi orang pertama yang membuat Depok menjadi tempat yang tidak asing. Dengan segala kerja sama yang kita lakukan bersama, segala ekspektasi yang terlanggar, Depok menjadi tempat dimana aku memiliki seorang kakak bernama Bara Lintar.

12. Tara Swasti Pinintasih
Tara-Bes
Tara adalah makhluk yang memberiku topik untuk kutulis setiap minggunya. Hmmm, aku menulis namanya dalam daftar ini bukan karena itu, tapi memang, melalui Tara, aku belajar beberapa hal. Aku belajar untuk menjadi orang yang menunduk. Yang harus menjadi hangat untuk orang lain. I learn to embrace people without thinking will they do the same or not. Bersama Tara aku belajar untuk menjadi pasukan yang tau tempatnya, belajar untuk banyak mendengarkan, dan belajar untuk bahagia bagi orang lain. Sungguh, Tara bukan sekadar atasan semata, tapi juga sahabat yang menjadikan aku semakin manusia.

13. Muhammad Delly Permana
Kenapa orang ini bisa masuk dalam daftar ini? Padahal dia hanya orang sekadar lewat yang bahkan jarang aku temui di kampus? Karena dia menyirami bibit yang sudah ditanam oleh ayahku. Dia yang mengajarkan bahwa there is always a secret, in secretary, dia yang mengajarkan bahwa menjadi sekretaris adalah menjadi orang yang berada di belakang layar dan mengarahkan segalanya. Keberhasilan panggung mungkin akan ditentukan dari sana. Dari rahasia-rahasia yang dibagikan, dari pengingat-pengingat yang didentangkan, dan dari dampingan-dampingan yang dilakukan. Karena itu mempengaruhi banyak keputusan hidupku sekarang, I think he deserve a place in this list.

14. Faris Muhammad Hanif
Here is another boy-bestfriend that was so rare appear in my life. Kodel namanya. Aku mengenalnya semenjak maba. Waktu itu kami adalah maba culun yang sedang semangat-semangatnya membela siapapun yang bisa kita bela. Kami bertemu di SIAGA, komunitas pergerakan FISIP UI. Kami menjadi rekan kerja yang melalui banyak hal di tiga tahun kehidupan di kampus. Menyaksikan satu sama lain tumbuh. Dulu, Kodel hanya seorang mahasiswa banyak bicara. Sekarang, dia bahkan bisa menegurku dengan sangat dewasa, bisa membendung segala kemarahanku dengan bersahaja, dan bisa mempercayaiku lebih dari aku mempercayai diriku sendiri. I'm grateful meeting him in here, in one of my pitstop in my life. Sampai akhir tahun ya, Del. Semoga gue nggak mengecewakan kepercayaan apapun yang udah lo kasih buat gue di awal tahun ini. Terima kasih sudah percaya.

15. Mungkin kamu?
Aku belum memutuskan siapa yang harusnya berada di nomor terakhir daftar singkat ini. Bisa siapa saja. Bukan berarti kamu dia dan mereka tidak berpengaruh dalam hidupku. Aku sungguh sangat bersyukur bertemu semua orang dalam hidupku. Setiap dari kalian memberikan pelajaran yang berbeda, langsung maupun tidak langsung. Dan itu tidak bisa disebutkan satu per satu.

Ketika nanti waktu telah berlalu, aku tidak bisa menjamin aku bisa tetap mengingat nama kalian satu per satu. Atau setiap momen pembelajaran yang kalian berikan satu per satu. Seiring nanti waktu berlalu, daftar ini akan semakin panjang dan beberapa orang dalam daftar ini mungkin akan kulupakan. Yang tinggal hanyalah memori dan kenangan. Akan kepahitan, atau suka bahagia yang muncul sekilas-sekilas dan hidup pyang seperti warung kopi ini. Tapi manusia hidup untu mengingat kan? Dan setiap ingatan akan setiap orang menunjukkan seberapa besar cinta kita pada setiap orang yang kita kenal. Mengingat menjadikan kita manusia.

Terima kasih, sudah menjadikan aku manusia.

Sunday, 7 June 2015

Week 3: Apa Fenomena Alam Favorit Kamu?

Ada satu teori (konsep mungkin ya lebih tepat) yang namanya Abiogenesis. Konsep ini awalnya dicetuskan oleh Aristoteles. Abiogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup bermula dari benda mati. Aristoteles terinspirasi dari belatung yang muncul begitu saja dari daging yang sudah membusuk. Dan inilah fenomena alam favoritku, bukan tentang belatung, tapi tentang takdir.

Aku bukan orang yang percaya pada teori abiogenesis. Tidak ada di dunia ini yang tercipta secara spontan dan begitu saja. Aku percaya segala hal yang terjadi dan tercipta di dunia ini, diciptakan dengan memiliki satu tujuan. Mengapa ia diciptakan di sini, mengapa ia diciptakan begini. Ada alasan mengapa kita menjadi kita dan mengapa dia menjadi dia. Dan bagaimana ini semua bermula, adalah fenomena yang, mungkin bukan favorit, tapi aku suka memikirkannya.
Kira-kira satu tahun yang lalu, seorang dosen Pengantar Teori Kritis berkata pada salah satu sesi kuliah di kelas, "Kita muncul di dunia ini melalui sebuah proses keterlemparan. Kita tidak bisa memilih kita dilahirkan dimana dan menjadi anak siapa. Ketika kita memasuki kehidupan kita sama sekali tak berdaya dan segalanya sudah siap untuk kita jalani. Tapi dalam menjalani kehidupan, ada pilihan-pilihan yang harus kita buat, dan proses memilih inilah yang membuat kita bermakna sebagai manusia"

Konsep keterlemparan yang dikatakan dosenku itu, aku setuju sekali. Ini yang dalam Islam disebut Qadha kan? Segala hal yang tidak bisa kita tentukan. While ada yang namanya Qadhar, sama-sama takdir, fate, hanya saja kita bisa bebas menentuka takdir kita sendiri. Inilah yang membuat hidup kita bermakna, pilihan-pilihan kita itu.

Saturday, 30 May 2015

Week 2: Apa lima film favorit kamu?

"Nggak boleh drama atau TV series nih?"
"Nggak lah, harus film as in movie"

Jadi, ini adalah challange ke dua ku. So, here we go.

Wednesday, 20 May 2015

21 Week Writing Challnge

Ada yang bilang kalau membentuk kebiasaan harus dimulai dengan melakukannya terus-menerus secara rutin, selama dua puluh satu kali. Jadi, here we go, berusaha menumbuhkan lagi kebiasaan menulis yang sudah mati bertahun lalu dibunuh keasyikan berkegiatan dan bermedia. Seorang sahabat berbaik hati membantu mengkultivasi kebiasaan ini dengan 21 week writing challange.

Aturan

Peraturannya mudah, setiap minggu, selama 21 pekan, sahabatku itu akan memberikan topik untuk dipikirkan dan ditulis pada pekan tersebut. Topiknya apapun, selama dalam jagad imajinasi sahabatku itu. Kamu bisa mengikuti postingan challange-ku itu dengan label "21 week writing challange".

Berhasilkah?

Pekan pertama baru saja dilewati, untuk bisa menulis seperti itu, aku harus banyak merenung, harus berjuang menyisihkan waktu untuk menulis, harus membaca, dan belajar lagi menuliskan abstraksi ide dalam kata-kata yang bisa dipahami orang lain. Jadi, bisa aku klaim bahwa ini cukup berhasil. Tapi penentuan berhasil tidaknya bukan terletak pada post pertama, bukan? Melainkan pada post yang tidak pernah berakhir nanti (amin).

Jadi?

Selamat malam :)

Week 1: Mencintai (Tuhan) Dengan Ikhlas

Mungkinkah? Manusia mencintai dengan ikhlas?
Berbulan yang lalu, aku menulis dalam sebuah pos di blog ini, mengenai cinta. Dan apa yang kutuliskan kala itu ku dengungkan terus menerus. Dimanapun, karena aku mempercayainya hingga kini. Aku mengatakan bahwa cinta adalah energi positif. Apapun yang membuatmu mau melakukan hal-hal, yang irasional sekalipun, dengan positif, itu adalah cinta. Pada teman, pada benda, pada manusia, siapapun (atau apapun) yang bisa memberi kita energi positif adalah cinta. Maka bohong bila atas dasar cinta, seorang ibu membunuh anaknya. Seorang kekasih membuat pujaan hatinya tenggelam dalam kesedihan, dan seorang murid membuat gurunya murka. Itu bukan cinta namanya, itu adalah bagian dari diri kita yang bersalah dan berusaha menghilangkan disonansi kognitif yang terjadi.

Sunday, 5 April 2015

Pulang

Ini sebuah novel, karya Leila S. Chudori. Ceritanya unik, tentang peristiwa G30S yang mengakibatkan empat orang wartawan dari Indonesia yang diduga dekat dengan "kiri" melarikan diri ke Peking hingga ke Paris. Tentang salah satu dari empat sahabat itu, Dimas Suryo, bagaimana hatinya tertinggal di Indonesia, tertambat pada sekuntum melati yang telah dipetik sahabatnya sendiri, bagaimana Dimas akhirnya bertemu Vivienne, bait puisi yang telah ia genapkan dan bagaimana ia memiliki Lintang sebagai putri tunggalnya.

Yang membuatku merasa novel ini unik adalah, bagaimana cerita yang bergulir dari tahun 1965 hingga 1998 ini dituturkan oleh Dimas dan Lintang. Dan menarik bagaimana mereka menarik pemahaman pada apa yang mereka saksikan dan rasakan. Dan aku sampai pada satu kesimpulan,

"Orangtua adalah yang paling mengenal anaknya, menyaksikan mereka tumbuh, menanamkan banyak hal yang membuat anak mereka what they are today. Tapi sang anak, tidak pernah mengenal orangtuanya. Seberapapun ia tumbuh bersama orangtua, sang anak tidak pernah tahu what makes their parents today. Sang anak tak pernah terlibat dalam masa lalu penuh cerita, penuh duka. Ketersinggungan-ketersinggungan, rasa bersalah, secuil kecil hati yang hilang... Lantas apa yang bisa diberikan oleh anak untuk orangtuanya? Dalam ketidakpahaman?"

While I read this thing I come to recognize that as a daughter I haven't do much for my parents. Well, everybody does. But even the small thing I could do, seperti pemahaman aja belum dilakukan dengan sempurna. Yang ada cuma gerutuan dan enggan yang bahkan tidak pernah coba disembunyikan. Lantas, seperti Lintang, apakah nanti aku siap jika orangtuaku akan pulang? Apakah pemahaman akan mereka justru datang terlambat setelah sudah tidak bisa lagi aku melihat apa yang mereka lakukan?

Anak memang belum pernah menjadi tua, dan kesalahan orangtualah bila melupakan bagaimana rasanya menjadi anak muda (Dumbledore). Tapi tidak ada salahnya kan ketika anak mencoba memahami orangtuanya?

Friday, 6 February 2015

Hmm


 
Yeah, we cannot please everybody. In the end, how hard we try, how much hurt we got when we try to do something people expect us to do, there'll always be something missing in people's eyes. They never see us as a whole and accept it as it is, as well as we to them. The thing is, if we just going to pile those dislikeness and built up a castle around us, being defensive, it is not going to work. it will never going to work.

Then what should we do?

The Lord Of The Rings (by JRR Tolkien)






Aku mengenal novel ini bersama Narnia Series (CS Lewis), Lima Sekawan (Enid Blyton), dan Harry Potter (JK Rowling) tentunya, saat berada di bangku Sekolah Dasar. Dulu, sewaktu masih cupu dan suka-sukanya baca novel high fantasy, Harry Potter jelas jadi favorit (sekarang juga masih) karena ceritanya yang cenderung ringan dan menyimban banyak pesan. Tapi sekarang, semenjak belajar lebih banyak, membaca lebih banyak, ngobrol lebih banyak dibanding waktu SD, oh my God. This novel is so damn good. Tolkien was not create a novel, he create a world.

Dan inilah menurutku, the real meaning of high fantasy. He create a whole new world, that middle-earth thing he wrote were such a world that every character live, has it's own history, has it's own name, has it's own meaning, and have a little portion of contribution for the plot to keep being interesting. 

Dalam middle-earth, kamu akan menjumpai hobbit, dwarf, wizard, elf, ent, troll, orcs, goblin, men. Dan semua makhluk ini memiliki sejarahnya masing-masing. Memiliki ceritanya masng-masing. Memiliki asal-usul dan silsilah keluarganya masing-masing. Bahkan, memiliki bahasanya masing-masing. Tolkien dengan sangat apik menceritakan siapa mereka, darimana mereka berasal, bagaimana keturunannya, bagaimana garis waktunya. Tolkien bahkan menuangkan puisi, kebiasaan khas, dan corak budaya setiap makhluk ini dengan detail, dan nyata. Seolah-oleh middle-earth begitu dekat dengan kita.

Menurutku, Tolkien tidak hanya mencipta sebuah novel, itu adalah karya sastra, sebuah dunia.





"Tidak ada segala sesuatu di bumi ini yang jahat pada awalnya. Bahkan Sauron pun, tidak bermula seperi itu" -JRR Tolkien

Wednesday, 21 January 2015

Sudah Lama ya, tidak menulis

Iya sudah lama sekali blog ini tidak ter-update. Bagaimana kabarku?

Aku sekarang seorang ENFP. Yang jarak antara E dan I nya kecil sekali. Yang mau tau apa itu ENFP atau mau test sekalian bisa di sini. Aku sekarang dua puluh tahun, dan masih sok tau, masih sombong, dan masih jadi anak kedua ibuku.





Aku sekarang bekerja, bukan benar-benar kerja sih, cuma jadi tenaga magang di pusat kajian komunikasi Universitas Indonesia. Mungkin kedepannya aku akan banyak bercerita soal temuanku disini (karena, yes, aku memutuskan akan banyak menulis lagi). Pekerjaan magangku terikat satu project penelitian, dan aku bekerja bersama orang-orang yang luar biasa. Mereka sudah dewasa, hampir tiga puluhan, dan mereka masih memiliki idealisme yang sangat tinggi tentang bagaimana sitem yang baik seharusnya berjalan. Ah, aku belajar banyak bersama orang-orang ini. Di Puska, aku dibayar, tidak seberapa memang, tapi cukup untuk menjadi sumber pendanaan BEM setahun ke depan.

Ya, aku ada di BEM lagi. Entahlah, sepertinya BEM sudah jadi zona nyaman yang baru. terjebak dalam ilusi aku sedang berbuat sesuatu disini. Terjebak dalam bayangan bahwa aku bertemu orang-orang hebat disini. Tapi aku memang menyayangi BEM yang sudah jadi rumah di Depok ini. Mungkin kata orang aku hanya buang-buang waktu, tapi sangat menyenangkan melihat orang berkembang kan? Dan aku menemukannya disini.


Pose Mega ala BPH BEM FISIP UI 2014 ^^

Bersama squad kamed 2012


Aku sekarang adalah anak semester enam. Sudah dua semester ada di peminatan Kajian Media. Ini semseter ketigaku. Aku belajar apa? Banyak sekali. Yang paling penting adalah bagaimana media begitu sangat berpengaruh, dan bagaimana harusnya kita memandang media. Bagaimana melihat segala hal dengan god-eye-view dan belajar untuk tidak mengenaralisir segala hal. Dan yah, sama seperti mahasiswa pada umumnya, aku memiliki dosen favorit di peminatan ini. Satu sejauh ini, berpotensi menjadi dua dosen favorit. Dan sekarang aku kerap membayangkan akan menjadi seperti mereka, mengajar, dan bahagia.

Sekarang aku masih tinggal di kontrakan, bersama teman sekamar yang sudah berganti, Alwiyah namanya, mahasiswa psikologi angkatan 2012. Dia bertolak belakang denganku dalam banyak hal, tapi aku tidak menyesal membagi kehidupan bersama Yaya di kamar kami yang kecil itu.

With Mega @ balai agung

Jadi, inilah Bestari. Dan selamat menikmati tulisan-tulisan yang akan datang tentang Bestari yang sekarang.
Salam peace, love, and gaol.