Wednesday, 25 September 2013

Jauh



Sepertinya aku terlalu jauh
Terlalu jauh dari kata dan terlalu jauh dari dia
Terlalu jauh berjalan dan mengelana hingga mungkin kini aku tengah tersesat
Tak tau kemana akan kembali, tak tau kapan akan pulang atau bahkan tak tau kemana arah jalan pulang
Ke belakang?
Atau mengambil jalan memutar di depan?
Dan bahkan ketika aku telah berpikir aku terlalu jauh dari rumah
Aku tak lagi tau apa itu rumah
Aku tak lagi ingat pada siapa aku pernah membagi kehangatan hati
Pada apa atau siapa yang pernah menyambut dalam nama rumah

Sepertinya aku terlalu jauh
Pada kata dan pada dia
Terlalu jauh hingga lupa apa hakikatku berada disini
Untuk apa
Untuk siapa
Hendak kemana
Rumah kian menjauh meninggalkanku tercenung memikirkan apa sebenarnya rumah
Kata terlalu jauh meninggalkanku membeo tak tau apa yang kuucap
Dan dia terlalu jauh meninggalkanku mencari

Atau apakah aku yang meninggalkan?
Kenapa tak kalian katakan bahwa aku yang telah berubah?

Tak lagi pada kata dia dan rumah
Tak lagi tau kemana harus melaju
Tersesat dalam pikiran sendiri yang mengurung diri bersama ocehan pintar orang-orang
Ah, aku tidak tersesat
Ini hanya jalan lain yang kuambil karena pengetahuan
Tapi tetap saja membuat jauh

Aku sudah terlalu jauh
Pada racau-racau kata juga pada dia
Pada kewarasan rumah yang membara

Jauh
Bukan berarti tak bisa pulang kan?
Tapi dimana pulang itu?
Aku tidak tahu
"Mungkin memang belum ketemu dan belum ada cerita. Atau mungkin sudah. Old people new story. Dan siapa yang tahu, ternyata, tadaaaaaaaa, dia sudah lama berdiri di depan pintumu, menunggu kamu sadar bahwa dia hendak mengetuk pintu."

Aku saksinya



         Pernah dengar kisah cinta yang indah? Tragis mungkin, tapi akan indah pada waktunya. Aku saksinya, aku melihat dua orang yang saling menyayangi yang dipertemukan di jalan perjuangan. Dan mereka berpisah dengan menitipkan hati kepada satu sama lain demi berkah yang lebih besar. Saling menitipkan hati kepada satu sama lain demi jalan yang lebih cerah, lebih indah. Saling menitipkan rindu satu sama lain demi bahagia yang coba mereka cari ketika takdir memang menceritakan bahwa perahu telah tertambat di dermaga hati masing-masing. Saling menitipkan rindu demi menunggu takdir tersenyum kepada mereka dan menceritakan bahwa nama mereka telah tertulis untuk satu sama lain di kitab kehidupan bahkan sebelum mereka diberi nama. Aku saksinya, kisah cinta dua makhluk Tuhan yang fana. Yang mencari cinta-Nya bersama dengan mendapatkan satu sama lain. Mendekap satu sama lain, menjadikan satu sama lain pegangan yang akan indah pada waktunya nanti. Ketika Tuhan telah meyakinkan bahwa apa yang mereka rasa takkan pernah lagi goyah. bahwa siapa yang mereka cinta takkan lagi mempertanyakan alasan-alasan dibalik pertemuan mereka. Aku saksinya.

Papan Catur

Pasca LDKMS V 2010, sampai saat ini, aku sering mengasosiasikan diriku sebagai pion catur. Bidak paling lemah yang selalu dikorbankan. Aku terpesona pada kerendahan hati sebuah pion. Yang selalu maju dan belajar perlahan dari setiap petak yang dilaluinya. Aku selalu terkesima pada keikhlasan sebuah pion untuk memulai dan menjadi bidak yang kematiannya tidak pernah disesali, justru membuka jalan bagi yang lain. Dan selama ini, aku bangga memiliki paradigma seperti itu.


Aku selalu mengasosiasikan diriku sebagai pion catur. Kenapa? Karena pion catur adalah lambang pembelajar yang abadi menurutku. Bukan karena dia bidak yang selalu dikorbankan, bukan. Tapi karena dia melangkah satu demi satu kotak. Tidak pernah berjalan mundur. Selalu berada di barisan depan perjuangan... Aku ingin menjadi seperti itu. Bestari yang kuat, yang dapat diandalkan, yang selalu belajar. Dan bila si pion catur sudah sampai di ujung, ia dapat menjelma menjadi apapun. Tapi aku belum sampai di ujung. Belum di ujungku sendiri. (lembar pengenalan diri BEM FISIP)

Hingga negara api menyerang...

Hingga tadi malam...

"Kalo Raja sebagai simbol, yang nyerang ada ratunya. Dia bisa jalan kemana aja, kanan kiri serong depan belakang. Perannya sangat krusial, kayak minion"

Dalam catur, sekian tahun ini aku mengasosiasikan diri sebagai pion. Dan sekarang ada yang mengatakan bahwa aku adalah ratu. Mungkin, aku sudah sampai di ujung dan kembali memulai. Bukan lagi sebagai tumbal, bukan lagi sebagai buruh yang maju tanpa paham mengapa harus maju.