Friday, 29 August 2014

Taken for Granted

Aku sudah lama mengenalmu. Terlalu lama. Dulu, hal-hal kecil yang kita lakukan seperti saling menemukan, atau saling menanyakan apa kabar menjadi hadiah yang dapat mempertahankan mood sepanjang hari. Dulu, ketika kamu ada dan tidak pergi, merupakan suatu hal yang patut untuk disyukuri, harus disyukuri.

Tapi semakin waktu tertumpuk, semakin kisah kita terbentuk, lucunya, bukan rasa syukur atau rasa cinta yang semakin besar. Alih-alih hal itu, justru ketidaksabaran, kemarahan, dan keegoisan yang terlihat semakin besar. Semakin waktu bertumpuk menyesakkan kita, semakin kita menginginkan lebih. Tidak cukup hanya dengan sapaan apa kabar. Tidak cukup hanya dengan mengerti. Tidak cukup hanya dengan ada. Ah, manusia memang serakah..

Seiring waktu yang menumpuk mengungkung kita, kita lupa untuk bersyukur. Lupa untuk menyenandungkan terima kasih dalam hati untuk hal-al kecil yang kita lakukan untuk satu sama lain.

Terima kasih telah mengerti. Terima kasih untuk kadonya. Terima kasih untuk doanya. Terima kasih kita telah bertemu. Terima kasih telah ada.



Seiring waktu berjalan dan kenangan semakin panjang, kita menerima segalanya. Taken for granted. Lupa bahwa mulanya tidak begitu adanya. Mungkin itu yang membuat manusia meninggalkan. Karena akhirnya, segala sesuatu dianggap terjadi karena sewajarnya memang begitu. Mungkin itu sebabnya manusia meninggalkan, karena mereka lupa untuk terus mengucapkan terima kasih. Karena mereka lupa, bahwa justru, hal-hal kecil yang mereka sepelekan itulah yang membuat mereka kini ada.

Thursday, 21 August 2014

Kosong

Ada satu bagian dalam ilmu komunikasi yang mengumpamakan manusia layaknya lapis-lapis bawang. Berlapis-lapis, dengan kelebaran tertentu, dan pada dasarnya dibalik lapisan-lapisan rumit itu, manusia tak lebih dari sebuah....... apa? kekosongan?

Mungkin kekosongan inilah yang kita kenal dengan tujuan hidup.

Dan selama kita belum bisa menentukannya, maka kekosongan ini akan tetap kosong dan tak terlihat. Hanya ditutupi oleh kepalsuan-kepalsuan lapis-lapis bawang. Hanya dilindungi oleh kelebaran jati diri yang dibentuk--tanpa tahu untuk apa. Atau mungkin sebagian sudah merasa tahu, apa yang diwakili kekosongan ini. Tanpa sadar bahwa bisa saja tujuan itu hanyalah semu. Fatamorgana yang diciptakan sejalan dengan ambisi hidup yang bermunculan. Tujuan hidupnya ada di sana, ya, tapi hanya untuk waktu sementara. Hanya untuk menjawab beberapa pertanyaan. Tapi tidak menjawab semua pertanyaan yang muncul dari jawaban itu.

Sebagian lain sudah mengisi kekosongan dengan Dzat yang solid. Yang tak tergoyahkan, yang siap untuk diyakini. Tapi ternyata lapis-lapis bawangnya tidak merepresentasikan tujuan hidupnya. Kamu tahu? Seperti berharap pergi ke Rinjani tapi kamu memilih jalan ke arah Sumatra. Kekosongan yang solid ini, bukan lagi tertutup oleh lapis-lapis kepalsuan, tapi sudah tersembunyikan oleh kebohongan besar.

Apa yang dicari manusia?

Untuk bisa mengerti dirinya sendiri, manusia terus menjelajah lapisan bawang. Satu per satu. Dan ketika lapisannya sudah terkupas habis, apa yang ditemukan manusia sebagai intinya?

Apa yang dicari manusia?

Pada mulanya manusia memang hanya lapisan kosong.. Pada akhirnya, terserah padamu akan mengisi kekosongan ini dengan apa

Friday, 14 March 2014

Dan



 “Kamu itu orangnya anti-kritik Bes” seseorang pernah berkata seperti itu padaku.

Well, aku merasa aku tidak anti-kritik. Saat itu. Tapi yah, aku memang seorang anti-kritik. Bukan dalam artian menolak mentah-mentah kritik orang padaku, bukan. Tapi ketika kau dikritik, aku akan tenggelam. Aku akan berpikir, panjang dan tak pernah selesai. Berujung pada self-blaming dan menjadi tidak maksimal mengerjakan apapun hari hari ke depan. Well that’s my bad side.

Aku tidak membenarkan ini, tidak.

Tapi manusia memang diciptakan di dalam ruang ruang tanpa sekat. Ruang ruang dengan garis yang bersilangan. Hari ini, aku melewati batas gaaris teritorialku. Hari ini. Bagaimana dengan minggu lalu? Tahun lalu? Mungkin telah ribuan garis kulewati tanpa aku menyadarinya. Tanpa seorang pun mengingatkannya.

...


Dan aku memang tidak belajar apa-apa.

Monday, 3 March 2014

(lagi-lagi) Rindu



Ah, betapa aku cepat merindu. Aku rindu pada mereka yang berada ribuan kilometer dari tempatku berada sekarang. Aku juga rindu pada mereka yang dekat, namun kehangatannya sudah susah untuk dirasakan. Juga pada mereka yang jauh dan belum kutemukan kehangatannya. Ah, aku sudah rindu.



Pantai

"Pantai atau gunung Bes?" "Gunung!"

Pantai Sawarna, masih sepi, masih bersih, tapi jauh ._.


Mungkin karena aku belum pernah ke pantai ya. Ini pertama kalinya aku main-main di pantai. Aku terpesona sama ombaknya yang mengalun pake irama. Itu keren bangeeeeet. Bunyinya, anginnya, baunyaaaa.



Sepertinya aku jatuh cinta pada pantai, pada kali pertama aku disana.



With septi si bayi kastrat






Tapi tetep, "Jadi, pantai apa gunung Bes?" "Gunung!"

Cara Pandang

Kemarin, bukan kemarin juga sih, yah beberapa hari yang lalu, habis ngobrol sama senior. Mulai dari di tangga, di lapangan, sampe akhirnya tiduran di lapangan sambil ngeliatin langit Depok yang merah dan nggak ada bintangnya.

Kita ngobrolin banyak hal, masalah orang-orang, masalah ekspektasi, masalah kritik. Tapi kemarin aku ngomong sesuatu yang kalo dipikir-pikir, iya juga ya (?)

"Sedih deh, ketika kita ada di tempat yang sama tapi orang lain nggak bisa ngelihat keindahan yang sama yang kita lihat"

Iya, sedih deh. Asli. Kita berdiri di depan meja yang sama. Aku melihat gelasnya setengah penuh tapi ada yang ngelihat gelasnya setengah kosong. Kita berdiri di lapangan yang sama, aku melihat bunga liar warna ungu tapi ada yang ngelihat rumput liarnya aja. Kita berdiri menghadapi laut yang sama, aku terpesona pada ombaknya tapi ada yang merasakan asin airnya aja.

Hidup memang bergantung pada cara pandangnya sih ya. Aku menganut prinsip hidup tanpa penyesalan. Jadi ya, hidupku kubuat semenyenangkan itu. Tapi bakal lebih indah lo kalo semua bisa melihat hal sama indahnya. Atau nggak ya? Karena keindahan akhirnya jadi barang murah yang bisa dilihat semua orang? Ah, sudahlah.

"Bagaimana cara kita mengubah masa lalu? Dengan mengubah cara pandang kita terhadapnya"
"Kita terlempar dlam hidup ini. Kita yang sekarang adalah konstruksi keterlemparan sebelumnya, yang menjadikan kita sebenarnya bukan apa-apa. Dan kebukanapaapaan itulah yang menjadikan kita ada. Menjadikan kita melakukan aktivitas untuk mengisi pilihan yang dihadapkan pada kita. Pilihan inilah yang membuat kita bermakna"