Thursday, 14 April 2016

Kenapa Kita (Saya) Bisa Segitunya Sama K-Pop?

Itu. Adalah. Pertanyaan. Yang. Menarik.

Kurang lebih sepuluh tahun saya mengenal K-Pop, dengan segala kegilaannya, dengan segala pasang surutnya. Saya termasuk orang-orang pertama yang merasakan patah hati ketika Hangeng keluar dari Suju, leleh karena gemesnya Yogeun dengan SHINee appa-nya, menyaksikan serunya saingan antara Suju, Bigbang, dan SS501, masih kenal dengan lagu-lagu Trax, nonton MV Timeless Zhang Li Yin yang fenomenal, dan mengikuti semua kegilaan 2PM dan 2AM dari awal debut. Sekarang, setelah saya menjadi mahasiswa ilmu komunikasi yang hampir lulus (dikompori oleh teman sekamar yang adalah mahasiswa hampir lulus psikologi),  selama empat tahun ini belajar mengenai media dan pelakunya, jadi merasa aneh: kenapa saya bisa segitunya sama K-Pop?

Untuk semua pecinta K-Pop yang sedang baca ini pasti merasakan, untuk yang belum, saya ceritakan sedikit apa makna dari segitunya dalam tulisan ini.

credit: allkpop meme, owner: on pict



Menjadi seorang K-popers berarti mengurangi malam-malam untuk tidur (dan belajar) demi menonton oppa di layar laptop. Mulai dari MV (alias Music Video), drama yang dibintangi, reality show, hingga potongan-potongan berita. K-Popers akan merelakan banyak uang untuk membeli merchandise, tiket konser, atau seminimal-minimalnya, paket internet untuk bisa mengakses idola mereka. Normalnya, setiap kegilaan ini dimulai ketika seorang (calon) K-popers  memiliki satu bias dan mendedikasikan banyak waktunya untuk mencari tahu segala hal tentang biasnya, mulai dari tanggal lahir, jumlah saudara, sekolah, kota kelahiran, golongan darah, siapa mantan pacarnya, kontroversi apa yang pernah dialami, apa posisinya (dalam grup), dari manajemen mana, apa hobinya, warna kesukaan, angka kesukaan, tipe ideal, akun media sosialnya dan sebagainya dan sebagainya. Setelah selesai dengan satu orang, maka kami akan menaruh perhatian pada grupnya (vice versa), kami akan mencari semua MV-nya, comeback stage, good bye stage, segala jenis wawancara, showcase, reality show, dan bahkan fancam saat konser atau kejadian sehari-hari si idola. Tidak berhenti sampai disini, biasanya, K-Pop akan menimbulkan efek domino yang tidak berujung. Misalkan, saya suka EXO, lalu saya menonton salah satu member EXO menjadi bintang tamu Crime Scene (reality show). Akhirnya saya akan suka Crime Scene, kemudian saya akan tonton semua episode Crime Scene. Setelah saya tonton semua, saya suka pada Hong Jinho (salah satu cast Crime Scene), kemudian saya akan tonton semua reality show Hong Jinho, kemudian saya jatuh cinta pada The Genius (salah satu reality show Hong Jinho), di sana saya akan bertemu dengan Jang Dongmin dan saya akan suka dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya, tak berujung. Gila? Ya, K-Pop sangat menyeramkan.
credit: allkpop meme


Ketika kita sudah benar-benar jadi fans, atau stan, atau bahkan sasaeng, kegilaan yang lebih gila akan dimulai. Tidak cukup dengan memantau site-site tertentu setiap pagi menanti kabar, kita juga akan memantau akun media sosial idola kita, memastikan mereka sehat dan baik. Bila ada anti-fans yang meninggalkan komen buruk tentang idola kita, kita akan membela idola kita melalui komen-komen ata ruang diskusi forum (atau minimal marah dan kesal tanpa komentar) bahkan tak jarang fanwar terjadi. Ketika idola kita mengatakan "Dukung aktivitas kami" maka kita akan benar-benar berdoa supaya mereka dapat beraktivitas dengan lancar. Ketika mereka diisukan pacaran dengan idola lain, kita akan mencari bukti-bukti untuk itu. Dan ketika mereka benar berpacaran, kita akan menangis menyesali mengapa oppa berkhianat dan meninggalkan kami. Ketika mereka bermasalah dengan kontrak dan pergi dari grup, kita akan ikut menangis dan sedih dan marah. Kita akan mulai mengamati setiap tingkah laku mereka dan menyadari mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil yang lucu. Tanpa paham apa yang mereka tulis dan apa yang mereka katakan (terjadi ketika english sub video belum muncul), kita akan tertawa ketika mereka tertawa dan sedih ketika mata mereka berkaca-kaca. Ketika mereka katakan "menurutlah pada Ibumu" kita akan menurut pada Ibu dan sebagainya dan sebagainya dan masih banyak kegilaan lain yang terjadi dalam dunia K-Pop ini.

Source: instagram


Pertanyaannya adalah, kenapa ini bisa terjadi?

Dalam komunikasi terdapat sebuah teori yang dinamakan dengan teori parasosial (Horton dan Wohl, 1956). Teori ini menggambarkan mengenai hubungan antar pribadi yang bersifat satu arah. Umumnya terjadi pada fans kepada selebriti yang mereka idolakan. Fans merasa dekat dengan selebriti melalui berbagai kegiatan yang mereka lakukan dan merasa memiliki keterikatan yang memberikan ilusi pada penggemar bahwa selebriti yang diidolakan menyayangi mereka sama besarnya seperti mereka mendukung seleb tersebut.

Oke, secara teori sudah terjelaskan. Tapi mengapa, penggemar musik pop Amerika atau musik lainnya tidak pernah segila ini? Karena nyatanya, bukan hanya kita penduduk Asia yang menggilai Korea, hampir seluruh belahan dunia merasakannya, mulai dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Afrika, apalagi Asia dan Australia, semua menderita demam K-Pop dengan masalah dan kegilaan yang sama (beberapa mungkin lebih parah daripada penderita di Indonesia). Kenapa, teman saya yang menyukai One Direction dan juga Super Junior, menyediakan lebih banyak memori di laptopnya, waktunya, dan uangnya untuk Super Junior yang adalah sebuah grup band dari benua Asia?

Jawabannya, menurut saya, terletak pada senjata entertainment Korea yang paling menjamur: reality show. Di Korea, ada banyak jenis acara televisi. Mulai dari berita dan drama yang wajar, acara musik, survival game show, reality show, variety show, game show, talkshow, dan show-show lain. Tujuannya sama, menyajikan sisi lain selebriti yang tidak bisa dilihat di panggung musik. Ketika saya, yang biasa saja terhadap EXO misalnya, disuguhi untuk menonton reality show EXO yang menunjukkan interaksi antar-anggotanya, kerja keras mereka, secuil kecil kehidupan pribadi mereka, melihat mereka tidur dan bangun, memiliki kamar yang berantakan, berebut jatah bicara, sakit, belajar, berinteraksi dengan orang tua, mengunjungi tempat pariwisata, makan, bertukar candaan tidak lucu, melalui itu semua, saya akan melihat EXO sebagai manusia biasa yang sama seperti saya. Hidup dan lemah dan mengantuk dan berproses seperti saya. Dengan adanya kesamaan ini, maka keterikatan kita dengan idola kita akan menjadi lebih terjalin. Karena kita merasa ada persamaan, ada yang sama dari cara saya dan mereka tidur dengan lampu yang dinyalakan, dengan cara memasak yang serampangan, dan selera makan. Pengungkapan (atau biasa disebut exposure ) ini yang memberikan ilusi bahwa kita mengenal idola kita. Bahwa kita memasuki ranah privat mereka dan kita memiliki kesamaan dengan mereka. Ketika persamaan ini semakin banyak, maka afeksi yang akan kita berikan juga semakin besar, yang berujung pada penggunaan kuota internet yang semakin dahsyat. Inilah yang kurang dimiliki industri hiburan Amerika. Industri hiburan Korea menyajikan sisi humanistik idolanya dengan cantik. Sangat rapi dan mempermainkan emosi kita sebagai khalayak.

EXO's Chanyeol form Law of The Jungle

SNSD's Taeyon from We Got Married


BTOB from BTOB's Diary


Jadi, pada dasarnya itulah yang disasar pelaku industri Korea, emosi dan keadaan mental kita untuk menciptakan ilusi kedekatan dengan idola. Dari manipulasi emosi ini, uang, tenaga, dan waktu kita diperas dengan jumlah yang tak terbatas. Dan karena kedekatan emosi inilah kita benar-benar segitunya dengan K-Pop.

Buat saya, ini masalah, karena artinya kesadaran saya sebagai manusia sedang diperjualbelikan.
Tapi lucunya, sekalipun saya tahu saya telah diperbudak dan dijadikan sekrup bagi mesin uang industri hiburan Korea, toh saya sekarang pun sedang mendengar musik mereka.

Sejujurnya, siapa yang bisa menolak wajah seperti itu dan suara seperti itu dengan aksi panggung seperti itu? Haha. Selamat mencoba keluar dari sumur tak berdasar ini >:}








Penjelasan kosakata:
2AM: Grup Ballad yang terdiri dari empat orang laki-laki, debut tahun 2008 dibawah JYP Ent
2PM: Dance Group yang awalnya terdiri dari tujuh orang laki-laki, debut tahun 2008 dibawah JYP Ent.

Appa: Ayah dalam bahasa Korea. Reality Show Hello Baby adalah acara dimana grup idola diminta menjaga (membesarkan) seorang balita selama beberapa bulan.
Bigbang: Dance Group yang terdiri dari lima orang laki-laki debut tahun 2006, di bawah YG Ent.
Comeback Stage: Istilah yang digunakan untuk menyebut masa promosi album di acara musik.
Crime Scene: Deduction Game Show pada channel JTBC (2014-2015)
EXO: Dance Group yang awalnya terdiri dari dua belas laki-laki, debut tahun 2012 di bawah SM Ent.
Fancam: Kependekan dari Fans Camera, sebutan bagi video yang diambil amatir oleh Fans.
Fanwar: Secara harfiah berarti Perang Fans, ketika Fans dari berbagai Fandom berselisih pendapat dan saling menjelekkan.
Good Bye Stage: Istilah untuk menyebut panggung terakhir grup idola pada masa promosi dalam suatu acara musik.
Hangeng: Nama anggota Super Junior yang meninggalkan grup karena masalah kontrak pada 2009.
Hong Jinho: Mantan Profesional Starcraft Gamer yang menjadi profesional TV di Korea.
Jang Dongmin: Komedian.
Oppa: Sebutan untuk laki-laki yang lebih tua dari perempuan yang lebih muda (bahasa korea)
Sasaeng:Istilah yang digunakan untuk Fans yang obsesif yang menginvasi kehidupan pribadi idolanya hingga melakukan hal-hal ekstrim seperti menulis petisi dengan darah (secara harfiah berarti berdarah)
SHINee: Dance Group yang terdiri dari lima orang laki-laki, debut tahun 2008 di bawah SM Ent.
SS501: Dance Group yang terdiri dari lima orang laki-laki, debut tahun 2005 di bawah DSP Ent.
Stan: Sebutan untuk penggemar yang lebih ekstrim dari sekadar fans namun belum mencapai level sasaeng.
Suju: Kependekan dari Super Junior, Dance Group yang awalnya terdiri dari tiga belas orang, debut tahun 2005 di bawah SM Ent.
The Genius: Game Show pada channel kabel Korea TVN (2013-2015)
Trax: Grup Band dengan tiga anggota awal, debut tahun 2004 di bawah SM Ent.
Yogeun: Nama balita yang dirawat SHINee pada acara Hello Baby!
Zhang Li Yin: Penyanyi solo yang debut pada tahun 2006 di bawah SM Ent.


Bacaan terkait
cerita kegilaan drama korea
Konsep parasosial
Kamus K-Pop


Catatan:
tulisan ini dibuat dengan impulsif, sangat tidak ilmiah, dan terdapat banyak generalisasi di dalamnya. Tidak semua K-Popers segila yang saya ceritakan, dan analisis yang saya buat belum dibuktikan kebenarannya. Jangan jadikan ini sebagai referensi kajian ilmiah apapun. Ini hanyalah sebuah renungan yang ingin dibagi

2 comments:

  1. kok kamu melupakan beast bes :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha, nggak lupa kok mak. Cuma ketemu dedek-dedek ucul aja

      Delete