Tuesday, 16 October 2012

Dari kantin berasap, sebuah renungan

Barusan aja, habis sharing sama senior dari kriminologi UI. Ceritanya si kakak habis turun lapangan buat bikin tugas. Tema kerjaannya itu tentang tempat hiburan malam dan gadis di bawah umur.

Wow.

Dari judulnya aja sebenernya udah kebayang kan apa yang seniorku teliti? Dan mendengar semua penuturan dan ceritanya.. Entahlah, i feel sorry for them. Kebanyakan dari mereka dipekerjakan karena orang tua yang rata-rata petani. Petani upahnya nggak banyak kan. Cuma sekitar dua puluh ribu seharinya. Mereka, anak anak dibawah umur itu, putus sekolah dan bekerja dengan cara yang seperti itu untuk membantu menopang beban keluarga. Mereka dipamerkan. Dipamerkan.


Mereka dihargai dengan sangat murah. Hanya tiga ratus ribu hingga satu setengah juta. Untuk semua hal yang mereka lakukan. Untuk semua hal yang tidak mereka lakukan tepatnya. Dan lokasi-lokasi seperti itu di Indonesia nggak cuma satu. Bayangkan seberapa banyak anak yang harus melakukan pekerjaan hina hanya karena kemiskinan? Seberapa banyak dari mereka yang mengorbankan putusnya sekolah mereka hanya karena kemiskinan?

Mereka dipamerkan.

Dan dihargai sangat murah.

Diperbudak.

"Makanya bersyukur, Bes. Kamu masih beruntung"
Iya, sungguh, aku masih sangat beruntung. Sangat. Masih hidup dalam taraf cukup. Masih mampu belajar hingga ke kampus perjuangan ini. Apa lagi yang bisa ku keluhkan?