Sunday, 5 April 2015

Pulang

Ini sebuah novel, karya Leila S. Chudori. Ceritanya unik, tentang peristiwa G30S yang mengakibatkan empat orang wartawan dari Indonesia yang diduga dekat dengan "kiri" melarikan diri ke Peking hingga ke Paris. Tentang salah satu dari empat sahabat itu, Dimas Suryo, bagaimana hatinya tertinggal di Indonesia, tertambat pada sekuntum melati yang telah dipetik sahabatnya sendiri, bagaimana Dimas akhirnya bertemu Vivienne, bait puisi yang telah ia genapkan dan bagaimana ia memiliki Lintang sebagai putri tunggalnya.

Yang membuatku merasa novel ini unik adalah, bagaimana cerita yang bergulir dari tahun 1965 hingga 1998 ini dituturkan oleh Dimas dan Lintang. Dan menarik bagaimana mereka menarik pemahaman pada apa yang mereka saksikan dan rasakan. Dan aku sampai pada satu kesimpulan,

"Orangtua adalah yang paling mengenal anaknya, menyaksikan mereka tumbuh, menanamkan banyak hal yang membuat anak mereka what they are today. Tapi sang anak, tidak pernah mengenal orangtuanya. Seberapapun ia tumbuh bersama orangtua, sang anak tidak pernah tahu what makes their parents today. Sang anak tak pernah terlibat dalam masa lalu penuh cerita, penuh duka. Ketersinggungan-ketersinggungan, rasa bersalah, secuil kecil hati yang hilang... Lantas apa yang bisa diberikan oleh anak untuk orangtuanya? Dalam ketidakpahaman?"

While I read this thing I come to recognize that as a daughter I haven't do much for my parents. Well, everybody does. But even the small thing I could do, seperti pemahaman aja belum dilakukan dengan sempurna. Yang ada cuma gerutuan dan enggan yang bahkan tidak pernah coba disembunyikan. Lantas, seperti Lintang, apakah nanti aku siap jika orangtuaku akan pulang? Apakah pemahaman akan mereka justru datang terlambat setelah sudah tidak bisa lagi aku melihat apa yang mereka lakukan?

Anak memang belum pernah menjadi tua, dan kesalahan orangtualah bila melupakan bagaimana rasanya menjadi anak muda (Dumbledore). Tapi tidak ada salahnya kan ketika anak mencoba memahami orangtuanya?