Sunday, 9 August 2015

Week 4: Lima Belas Orang yang Berpengaruh dalam Hidup

Sulit kalau aku diutus memilih lima belas orang saja dalam hidupku. Karena ada banyak sekali orang-orang yang namanya ingin kumasukkan karena aku terlampau sayang pada mereka. Atau terlalu merasa bersalah pada mereka. Tapi kita buat mudah saja untuk pekan ini, yang akan aku tulis adalah orang-orang yang perkataannya memengaruhiku mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupku. Dan siapa saja mereka?

1. Mama
From head to toe, she is just a reason what make me I am today. Tanpa mencoba normatif,sejauh aku mengingat, semua keputusan yang aku buat hingga hari ini selalu dipengaruhi oleh keputusan ibuku. Mulai dari pilihan sekolah menengah, hingga preferensi pasangan hidup. Aku akan highlight yang satu ini. Dulu sekali, aku lupa kapan, Ibuku pernah bilang, "Tar, kalo cari suami, itu yang sudah kamu kenal. Seenggaknya kamu udah tau dia aslinya seperti apa, kamu yakin dia orangnya baik". Dan seterusnya-dan seterusnya. Hingga sekarang, bila mengacu pada buku Devito, aku termasuk tipikal storgic lover, tipikal orang yang hanya bisa jatuh cinta setelah melalui proses panjang. Dan perlahan. Seperti jatuh cinta pada sahabat.

2. Papa
Oke, sekali lagi tanpa mencoba normatif. Dan sekali lagi, karena begitu banyak pengaruh orang ini dalam hidupku, aku akan mengambil dua yang paling terlihat. Pertama, namaku. Nama panjangku, Habiibati Bestari berarti kekasih kebijaksanaan, atau yang mencintai pengetahuan luas. Nama yang kugunakan di media sosial, adalah Bestari Zain. Zain ini aku ambil dari nama ayahku, Zainurrowatib. Dan melekat hingga kini. Yang kedua, track record-ku sebagai sekretaris. Itu semua diilhami dari bapak-bapak berperut buncit dan beruban ini. Suatu sore, saat aku masih menjadi anak 2 SD yang culun, si bapak pernah bilang padaku, "Tar, dalam sebuah organisasi, Ketua boleh jadi pintunya, tapi kuncinya adalah sekretarisnya. Ketua boleh jadi kepalanya, tapi sekretaris adalah kuncinya". Dan well, here I am.

3. Berlin
She is the very person I often look up to. She is my five-year-older-sister. Semuaaaaa kelakuan dan karakterku (yang positif maupun negatif) pasti mendapat pengaruh dari si gendut ini. Mulai dari keinginan untuk selalu berbeda, jiwa kompetitif, hingga pilihan-pilihan yang aku lakukan dalam hidupku: mengenakan jilbab, pilihan SMA, pilihan buku bacaan, pilihan film, hingga pilihan pakaian. Bagiku, kakakku selalu terlihat hebat. Bagiku dia selalu berjalan di depanku dan membiarkan aku melihat punggungnya. Bagiku, dia adalah gunung yang belum bisa kutaklukkan.

4. Bara
My cute little brother is not the same cute boy I've ever seen anymore. Bara adalah adik kecilku yang lucu (atau setidaknya dia pernah menjadi lucu) yang lebih muda delapan tahun dibandingkan aku. Anak kecil ini, lucunya selalu menjadi cermin yang paling ampuh dalam hidupku. Bayangkan, delapan tahun aku hidup lebih dulu dibanding dia, tapi tabungannya jauh lebih banyak dariku, temannya (juga fansnya) lebih banyak dariku. Ibadahnya, lebih istiqomah dariku, ia lebih rapi, lebih tulus, dan lebih lembut hatinya... Bagiku, dia adalah cermin kecil yang selalu bisa menjadi sumber refleksi untukku. Delapan tahun, dan dia berusaha lebih banyak dibandingku. Delapan tahun, dan aku masih dibuat terkagum pada adik kecilku.

Dari kiri ke kanan: Bes, Mams, Mas Andra, Mbak Ber, Paps, Bara


5. Pak AB
Dari enam wali kelasku sewaktu SD, beliau adalah yang paling bisa ku ingat secara jelas. Mungkin karena namanya aneh, atau mungkin karena gaya mengajarnya yang eksentrik, atau mungkin karena banyak sekali yang beliau ajarkan pada murid-murid kelas 5B yang super bandel-bandel ini. Pak Aberor namanya. Dia adalah guru pertama yang mengajarkanku untuk berani menjadi berbeda. Untuk bisa mengambil keputusan-keputusan dan keluar dari zona nyaman, dari orang-orang yang kita merasa nyaman. Beliau guru pertama yang mengajarkanku bagaimana untuk berpikir secara logis, dan mudah, dan berani. Yang paling aku ingat dari cara mengajar uniknya adalah: pengaturan tempat duduk, sebelah kanan adalah bangku laki-laki dan sebelah kiri adalah bangku perempuan. Satu hari, laki-laki akan maju satu bangku ke depannya sementara para perempuan diam. DI hari berikutnya perempuan mundur satu bangku, dan para lelaki diam. Dengan sistem duduk ini, we end up sitting with every opposite-gender in my class. 

6.  Devita Rahmadhani
Devita adalah sahabat kecilku. Aku sadar bahwa ada makhluk bernama Devita Rahmadhani semenjak aku berada di kelas 2 SD. Dia adalah anak kelas sebelah yang katanya pintar sekali. Aku yang aslinya adalah makhluk sombong dan tak mau kalah, langsung tidak suka pada Devita ini. Saat kami kelas 3 SD, teman-teman sepermainanku suka meninggalkanku dan bermain bersama Devita ini. Siapa yang tidak sebal coba? Lalu, saat kami kelas 4 dan untuk pertama kalinya kami satu kelas, dia adalah ketua kelas, sementara aku wakilnya. Saat kelas kami sedang mengikuti pramuka, aku dan Devita diminta untuk mengambil entah-apa-aku-lupa di kelas. Dalam perjalanan ke kelas itu, Devita dengan polosnya berkata "Bes, mau jadi sahabatku nggak?" Dan itulah mulanya aku memiliki sahabat yang bahkan sampai sekarang masih sangat ku sayang itu.
 

7. Dian Nirmala Aprilia
Dian ini, adalah teman sebangku-ku selama tiga tahun di SMA. Dian ini selalu diam saja ketika aku mencubit atau memukulnya. Dian selalu membangunkan setiap kali aku tidur di kelas. Membantuku mengerjakan PR (dan ujian). Mengingatkanku untuk selalu berusaha menjadi orang baik. Bahkan, dia pernah membawakanku bekal makan karena aku tidak pernah sarapan. Dian ini, selalu jadi teman dalam jalan kebaikan. Yang bahkan saat pengumuman SNMPTN, kami membukanya bersama. Sama-sama tercengang karena kami lulus pada pilihan pertama kami. Yang hingga kini, masih kuingat kata-kata ampuhnya, "Males itu nggak dosa Bes, tapi bisa mencegah dari berbuat kebaikan". Terima kasih, Di.

8. Nindy Adhilah
Ada satu masa dimana aku jatuh dalam kesedihan dan kekecewaan berat saat aku berada di bangku kelas 11 SMA. Masa-masa dimana Bestari seakan tidak bisa bangkit dan akan terpuruk selamanya itu, Nindy Adhilah mengirim sebuah sms.
"Kecewa itu wajar. Tapi jangan tenggelam disitu. Slalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Dan anggap aja smua ini bakal buat kamu lebih kuat, lbih banyak pengalaman.Jangan mau dijatuhkan oleh kegagalan. Jdikan tantangan. Instropeksi diri juga. Ambil plusnya, ilangi minusnya. Saya buka psikolog ataupun motivator ataupun Sidharta Gautama, tapi saya teman anda. Dan saya tau anda kuat. Lifes go on. Smangat :)"
Itu adalah saat dimana aku memulai rasa sayang yang tercurah-melimpah pada seorang Nindy Adhilah. Yang hingga kini, kami masih berbagi cerita. Masih berbagi beban hidup. Masih berkaca pada masa SMA yang telah lewat yang begitu membahagiakan untuk kami berdua. Hingga kini, bahkan rumahnya menjadi salah satu tujuan singgah setiap pulang ke kampung halaman. Kamu pasti lupa kan Ndek, kalo kamu pernah kirim sms itu ke aku? Tenang aja, aku inget kok :)


atas: Dian, Mede. Bawah: Bes, Babi, Ndek

9. Nur Izzatul Muthi'ah
Ica-Yaya
Apa lagi yang bisa dikatakan tentang sahabatku yang satu ini? Beruang yang suka tidur dan suka makan. Pertama kali aku bertemu Ica saat kami sama-sama menjadi panitia Perisai. Berlanjut menjadi teman satu liqo. Lalu menjadi teman satu tempat les. Lalu menjadi teman satu kampus. Teman satu kamar. Dan entahlah, buatku Ica adalah rival, sekaligus cermin, sekaligus teman berdiskusi yang kritis, sekaligus orang yang menyebalkan. Ica bisa menjadi segalanya. Dan banyak sekali keputusan-keputusan dalam hidupku yng dipengaruhi oleh Ica.
Aku tidak mau menjadi orang yang berlari di depanmu atau di belakangmu, Bes. Aku mau kita adalah rival yang sama, yang akan ada di garis finish berdampingin dan bersama, meski dalam prosesnya akan banyak dinamika.

10. Afina Raida Vinci
One of a kind. Orang ini unik sekali. Di SMA, Afina adalah seniorku. Dan salam banyak kesempatan, banyak capaian-capaiannya yang aku jadikan targetan untukku. Tanpa aku sadari bahwa kami sebenarnya berbeda, tapi dia banyak menjadi contoh dalam kegiatan SMA yang tak terhitung banyaknya. Bagaimana cara dia berpikir dan bertindak. Bagaimana cara dia merasa. Sampai sekarang, aku merasa aku belum mengenal Afina. Masuk lapisan kulit bawangnya saja belum. Aku masih di luar dan diizinkan hanya berada di luar saja. Tapi bahkan dari luar, aku belajar banyak dari seorang Afina. Bahkan dari bagaimana aku mem-branding diriku sebagai pion, semua itu berkat sentuhan tangan Afina.

11. Bara Lintar Sanggabuana
Dia adalah senior pertama di kampus yang menjadi tempat pulang. Di Depok, tempat segala hal menjadi asing dan rumah terasa begitu jauh, dia menjadi orang pertama di kampus yang bisa digantungi. Yang menjadi kakak yang bisa diandalkan, sekaligus partner kerja yang sangat menyenangkan. Tempat berbagi pemikiran, juga sebagian kehidupan. Orang ini, menjadi orang pertama yang membuat Depok menjadi tempat yang tidak asing. Dengan segala kerja sama yang kita lakukan bersama, segala ekspektasi yang terlanggar, Depok menjadi tempat dimana aku memiliki seorang kakak bernama Bara Lintar.

12. Tara Swasti Pinintasih
Tara-Bes
Tara adalah makhluk yang memberiku topik untuk kutulis setiap minggunya. Hmmm, aku menulis namanya dalam daftar ini bukan karena itu, tapi memang, melalui Tara, aku belajar beberapa hal. Aku belajar untuk menjadi orang yang menunduk. Yang harus menjadi hangat untuk orang lain. I learn to embrace people without thinking will they do the same or not. Bersama Tara aku belajar untuk menjadi pasukan yang tau tempatnya, belajar untuk banyak mendengarkan, dan belajar untuk bahagia bagi orang lain. Sungguh, Tara bukan sekadar atasan semata, tapi juga sahabat yang menjadikan aku semakin manusia.

13. Muhammad Delly Permana
Kenapa orang ini bisa masuk dalam daftar ini? Padahal dia hanya orang sekadar lewat yang bahkan jarang aku temui di kampus? Karena dia menyirami bibit yang sudah ditanam oleh ayahku. Dia yang mengajarkan bahwa there is always a secret, in secretary, dia yang mengajarkan bahwa menjadi sekretaris adalah menjadi orang yang berada di belakang layar dan mengarahkan segalanya. Keberhasilan panggung mungkin akan ditentukan dari sana. Dari rahasia-rahasia yang dibagikan, dari pengingat-pengingat yang didentangkan, dan dari dampingan-dampingan yang dilakukan. Karena itu mempengaruhi banyak keputusan hidupku sekarang, I think he deserve a place in this list.

14. Faris Muhammad Hanif
Here is another boy-bestfriend that was so rare appear in my life. Kodel namanya. Aku mengenalnya semenjak maba. Waktu itu kami adalah maba culun yang sedang semangat-semangatnya membela siapapun yang bisa kita bela. Kami bertemu di SIAGA, komunitas pergerakan FISIP UI. Kami menjadi rekan kerja yang melalui banyak hal di tiga tahun kehidupan di kampus. Menyaksikan satu sama lain tumbuh. Dulu, Kodel hanya seorang mahasiswa banyak bicara. Sekarang, dia bahkan bisa menegurku dengan sangat dewasa, bisa membendung segala kemarahanku dengan bersahaja, dan bisa mempercayaiku lebih dari aku mempercayai diriku sendiri. I'm grateful meeting him in here, in one of my pitstop in my life. Sampai akhir tahun ya, Del. Semoga gue nggak mengecewakan kepercayaan apapun yang udah lo kasih buat gue di awal tahun ini. Terima kasih sudah percaya.

15. Mungkin kamu?
Aku belum memutuskan siapa yang harusnya berada di nomor terakhir daftar singkat ini. Bisa siapa saja. Bukan berarti kamu dia dan mereka tidak berpengaruh dalam hidupku. Aku sungguh sangat bersyukur bertemu semua orang dalam hidupku. Setiap dari kalian memberikan pelajaran yang berbeda, langsung maupun tidak langsung. Dan itu tidak bisa disebutkan satu per satu.

Ketika nanti waktu telah berlalu, aku tidak bisa menjamin aku bisa tetap mengingat nama kalian satu per satu. Atau setiap momen pembelajaran yang kalian berikan satu per satu. Seiring nanti waktu berlalu, daftar ini akan semakin panjang dan beberapa orang dalam daftar ini mungkin akan kulupakan. Yang tinggal hanyalah memori dan kenangan. Akan kepahitan, atau suka bahagia yang muncul sekilas-sekilas dan hidup pyang seperti warung kopi ini. Tapi manusia hidup untu mengingat kan? Dan setiap ingatan akan setiap orang menunjukkan seberapa besar cinta kita pada setiap orang yang kita kenal. Mengingat menjadikan kita manusia.

Terima kasih, sudah menjadikan aku manusia.

No comments:

Post a Comment