Friday, 14 March 2014

Dan



 “Kamu itu orangnya anti-kritik Bes” seseorang pernah berkata seperti itu padaku.

Well, aku merasa aku tidak anti-kritik. Saat itu. Tapi yah, aku memang seorang anti-kritik. Bukan dalam artian menolak mentah-mentah kritik orang padaku, bukan. Tapi ketika kau dikritik, aku akan tenggelam. Aku akan berpikir, panjang dan tak pernah selesai. Berujung pada self-blaming dan menjadi tidak maksimal mengerjakan apapun hari hari ke depan. Well that’s my bad side.

Aku tidak membenarkan ini, tidak.

Tapi manusia memang diciptakan di dalam ruang ruang tanpa sekat. Ruang ruang dengan garis yang bersilangan. Hari ini, aku melewati batas gaaris teritorialku. Hari ini. Bagaimana dengan minggu lalu? Tahun lalu? Mungkin telah ribuan garis kulewati tanpa aku menyadarinya. Tanpa seorang pun mengingatkannya.

...


Dan aku memang tidak belajar apa-apa.

Monday, 3 March 2014

(lagi-lagi) Rindu



Ah, betapa aku cepat merindu. Aku rindu pada mereka yang berada ribuan kilometer dari tempatku berada sekarang. Aku juga rindu pada mereka yang dekat, namun kehangatannya sudah susah untuk dirasakan. Juga pada mereka yang jauh dan belum kutemukan kehangatannya. Ah, aku sudah rindu.



Pantai

"Pantai atau gunung Bes?" "Gunung!"

Pantai Sawarna, masih sepi, masih bersih, tapi jauh ._.


Mungkin karena aku belum pernah ke pantai ya. Ini pertama kalinya aku main-main di pantai. Aku terpesona sama ombaknya yang mengalun pake irama. Itu keren bangeeeeet. Bunyinya, anginnya, baunyaaaa.



Sepertinya aku jatuh cinta pada pantai, pada kali pertama aku disana.



With septi si bayi kastrat






Tapi tetep, "Jadi, pantai apa gunung Bes?" "Gunung!"

Cara Pandang

Kemarin, bukan kemarin juga sih, yah beberapa hari yang lalu, habis ngobrol sama senior. Mulai dari di tangga, di lapangan, sampe akhirnya tiduran di lapangan sambil ngeliatin langit Depok yang merah dan nggak ada bintangnya.

Kita ngobrolin banyak hal, masalah orang-orang, masalah ekspektasi, masalah kritik. Tapi kemarin aku ngomong sesuatu yang kalo dipikir-pikir, iya juga ya (?)

"Sedih deh, ketika kita ada di tempat yang sama tapi orang lain nggak bisa ngelihat keindahan yang sama yang kita lihat"

Iya, sedih deh. Asli. Kita berdiri di depan meja yang sama. Aku melihat gelasnya setengah penuh tapi ada yang ngelihat gelasnya setengah kosong. Kita berdiri di lapangan yang sama, aku melihat bunga liar warna ungu tapi ada yang ngelihat rumput liarnya aja. Kita berdiri menghadapi laut yang sama, aku terpesona pada ombaknya tapi ada yang merasakan asin airnya aja.

Hidup memang bergantung pada cara pandangnya sih ya. Aku menganut prinsip hidup tanpa penyesalan. Jadi ya, hidupku kubuat semenyenangkan itu. Tapi bakal lebih indah lo kalo semua bisa melihat hal sama indahnya. Atau nggak ya? Karena keindahan akhirnya jadi barang murah yang bisa dilihat semua orang? Ah, sudahlah.

"Bagaimana cara kita mengubah masa lalu? Dengan mengubah cara pandang kita terhadapnya"
"Kita terlempar dlam hidup ini. Kita yang sekarang adalah konstruksi keterlemparan sebelumnya, yang menjadikan kita sebenarnya bukan apa-apa. Dan kebukanapaapaan itulah yang menjadikan kita ada. Menjadikan kita melakukan aktivitas untuk mengisi pilihan yang dihadapkan pada kita. Pilihan inilah yang membuat kita bermakna"