Friday, 2 September 2016

Seri Hortensia #7: Rumah Saya di Kampus

Tiga dari empat tahun masa kuliah saya habiskan di Takor lantai dua. Dan keluarga besar BEM FISIP UI, lebih dari layak untuk mendapatkan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Seri Hortensia #6: Mereka Yang Berisik

Awalnya entah dari apa. Ada sebuah group chat berisi 31 orang. Ada yang curhat tiap hari, ada yang datang cuma buat di-bully, ada yang kerjaannya nge-kick orang di grup, ada yang jadi orang bijak penuh nasehat, ada yang jualan baju renang, ada yang cantik luar biasa, semuanya ada. Nama grupnya JIP. kepanjangannya apa kami sudah lupa. Sejak 8 Juli 2013, nama grupnya sudah beribu kali berubah (sekarang namanya simply JIP), icon grupnya juga sudah berjuta kali berubah (sekarang gambar rektorat). Tapi isinya tetap sama, berisik, dan hangat.

Untuk Alvin, Anom, Nisa, Bob, Abang Tian, Dean, Elisa, Ellya, Gandes, Gea, Umik Vanya, Wika, Aya, Naya, Bela, Olvy, Ranyo, Rayhan, Enok, Reza, Glo, Tiffany, Un-chan, Yobo, Kakyay, Mamih Ira, Bebe, Sarpal, Diaz, dan teteh Refa, terima kasih ya. Selama tiga tahun ini sudah berisik sekali, sudah jadi salah satu sumber kehidupan dan semangat. Maafin suka gak nyaut di grup. Tapi aku sayang kalian kok. Sungguhan. Makasih ya buat semuanya. Jangan sepi karena udah pada kerja :(



Aku sungguh berterima kasih

6. Sahabat-sahabat berisik di JIP, orang-orang yang selalu mengingatkan untuk tersenyum di kala beban sudah terlampau berat. Terima kasih untuk tiga tahun ini, obrolan informatif hingga gosip-tak-laku-di-pasaran kita akan tetap berlanjut kan?

Seri Hortensia #5: Tiga Puluh Dua Schramm Muda

Dua (dan setengah) tahun dari empat tahun kuliah saya, diramaikan oleh orang-orang ini. Ada tiga puluh dua orang dalam satu kelas Kajian Media. Kami dipertemukan dalam kelas, berbagi kecintaan pada diskusi dan ilmu pengetahuan, dan sama-sama gila karenanya. Mulai dari diskusi ala-ala Habermas, Zizek, Marx, dan pemikiran-pemikirannya; kritik-kritik sosial dalam kajian budaya; pusing-pusing ria mengutuk kapitalisme media dalam ekonomi media; dan banyak kelas-kelas lain dimana kami bersama-sama, tidak takut melihat dunia melalui sisi yang berbeda.



Kami, bersama-sama, dicap sebagai orang-orang nerd komunikasi namun dalam waktu bersamaan kami bersama menjadi orang-orang pemalas yang tidak pernah baca di hadapan dosen. Hanya kami yang tahu bahwa sesungguhnya kami hanyalah makhluk-mahkluk haus diskusi yang akan menyambar apa saja sebagai bahan bicara: mulai dari kuntilanak dan feminisme, hingga sidang kasus sianida yang tak kunjung usai. Group chat kami tak pernah sepi dengan ilmu baru. Dan selama dua (setengah) tahun ini kami saling tolong untuk meyakinkan bahwa kami bertahan bersama. Saling menguatkan idealisme masing-masing dan merasa bodoh bersama. Karena sesungguhnya, mereka yang merasa bodohlah yang akan terus mencari pengetahuan.



Dan untuk itu, saya berterima kasih.

5. Rekan sejawat Kajian Media yang menjadi keluarga sekaligus partner kritis selama dua setengah tahun kita bersama-sama. Untuk Ridho, David, Vira, Emil, Wika, Nadia, Chika, Yoan, Finka dan Nisa yang mengangkat toga lebih dulu. Untuk Ajet, Afifah, Artika, Afit, Dika, Annis, Bahrul, Abang Tian, Dwi, Gea, Cece, Aya, Rangjod, Subhan, Neil, Ellya dan Carnis yang sudah sama-sama panik setiap mendekati tenggat skripsi ini. Juga untuk Dinda, Edu, dan Alvin yang akan menyusul semester depan. Terkhusus Scholastica Gerintya yang menjalani susah senang bimbingan bersama-sama.

Seri Hortensia #3: Muara Karya Saya

Namanya Leila Salikha Chudori. Beliau sudah menulis banyak cerpen dan novel dan skenario film. Pulang, novel pertama beliau mengenai nasionalisme, adalah novel yang saya gunakan dalam skripsi saya. Novel ini saya analisis dan saya bedah, saya kaitkan ideologi Leila dengan isi novelnya.

Skripsi saya bisa jadi cuma analisis dangkal mengenai novel beliau. Tapi saya boleh bangga, karena, sejauh yang saya tahu, skripsi saya merupakan karya ilmiah pertama yang membahasa Pulang melalui mata feminisme. Dan untuk itu saya sangat berterima kasih pada Leila Chudori yang telah melahirkan karya ini sedemikian luar biasa yang mengajarkan saya, bukan hanya bagaimana menjadi seorang Indonesia, tapi juga menjadi seorang perempuan.

3. Leila S. Chudori, seorang penulis, jurnalis, dan perempuan penuh pengabdian yang memperkenalkan saya kepada sejarah, pewayangan, nasionalisme, keluarga, cinta, dan hakikat mencari rumah melalui Pulang. Terima kasih untuk karyanya yang mengendap dalam hati saya, skripsi ini saya dedikasikan untuk karya Anda yang luar biasa itu.

Seri Hortensia #4: Keluarga Departemen Ilmu Komunikasi

Tahun 2012, saat SNMPTN, saya memilih S1 Reguler Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama sekolah tinggi saya. Dan ternyata, semesta memang mengizinkan saya kuliah disini.