Wednesday, 4 November 2015

(That Thing They Called) Affection

Belakangan ini lagi sering banget denger kata afeksi. Protes-protes terkait kurang afeksi pada kami, pada mereka, pada aku, dan kamu. Keinginan-keinginan untuk mencurahkan afeksi pada orang-orang tertentu, pada benda tertentu pada sekelompok orang tertentu.

Ada ekspektasi-ekspektasi akan afeksi. Ada tuntutan sejumlah besar afeksi.

Tapi, ketika kita memberikan afeksi kita karena tuntutan (pada akhirnya), masihkah itu kita sebut sebagai afeksi? Atau sebenarnya itu hanyalah kepura-puraan yang kita bungkus senyum palsu dan kita namakan kasih sayang?

Buatku, afeksi adalah ketika aku benar menyayangi dia. Ingin tersenyum padanya dan memberitahunya bahwa semua baik saja. Buatku, afeksi adalah ketika aku memang ingin memberikan suhu hangatku padanya ketika ia membutuhkan seorang untuk menemaniya berduka. Buatku afeksi adalah ketika dia belari memelukku dan aku menyambutnya dengan tangan dan hati yang terbuka lebar. Tanpa paksa, karena aku ingin.

Afeksi adalah ketika aku memberikannya tanpa embel apapun. Tanpa teringat ata apapun. Dan ketika aku memberikannya atas nama afeksi, maka masihkah itu bernama afeksi?

No comments:

Post a Comment