Saturday, 30 May 2015

Week 2: Apa lima film favorit kamu?

"Nggak boleh drama atau TV series nih?"
"Nggak lah, harus film as in movie"

Jadi, ini adalah challange ke dua ku. So, here we go.

Wednesday, 20 May 2015

21 Week Writing Challnge

Ada yang bilang kalau membentuk kebiasaan harus dimulai dengan melakukannya terus-menerus secara rutin, selama dua puluh satu kali. Jadi, here we go, berusaha menumbuhkan lagi kebiasaan menulis yang sudah mati bertahun lalu dibunuh keasyikan berkegiatan dan bermedia. Seorang sahabat berbaik hati membantu mengkultivasi kebiasaan ini dengan 21 week writing challange.

Aturan

Peraturannya mudah, setiap minggu, selama 21 pekan, sahabatku itu akan memberikan topik untuk dipikirkan dan ditulis pada pekan tersebut. Topiknya apapun, selama dalam jagad imajinasi sahabatku itu. Kamu bisa mengikuti postingan challange-ku itu dengan label "21 week writing challange".

Berhasilkah?

Pekan pertama baru saja dilewati, untuk bisa menulis seperti itu, aku harus banyak merenung, harus berjuang menyisihkan waktu untuk menulis, harus membaca, dan belajar lagi menuliskan abstraksi ide dalam kata-kata yang bisa dipahami orang lain. Jadi, bisa aku klaim bahwa ini cukup berhasil. Tapi penentuan berhasil tidaknya bukan terletak pada post pertama, bukan? Melainkan pada post yang tidak pernah berakhir nanti (amin).

Jadi?

Selamat malam :)

Week 1: Mencintai (Tuhan) Dengan Ikhlas

Mungkinkah? Manusia mencintai dengan ikhlas?
Berbulan yang lalu, aku menulis dalam sebuah pos di blog ini, mengenai cinta. Dan apa yang kutuliskan kala itu ku dengungkan terus menerus. Dimanapun, karena aku mempercayainya hingga kini. Aku mengatakan bahwa cinta adalah energi positif. Apapun yang membuatmu mau melakukan hal-hal, yang irasional sekalipun, dengan positif, itu adalah cinta. Pada teman, pada benda, pada manusia, siapapun (atau apapun) yang bisa memberi kita energi positif adalah cinta. Maka bohong bila atas dasar cinta, seorang ibu membunuh anaknya. Seorang kekasih membuat pujaan hatinya tenggelam dalam kesedihan, dan seorang murid membuat gurunya murka. Itu bukan cinta namanya, itu adalah bagian dari diri kita yang bersalah dan berusaha menghilangkan disonansi kognitif yang terjadi.