Friday, 11 November 2016

Seri Hortensia #8: Para Pengacau Kehidupan

Halo, kalian orang-orang nggak waras dan nggak tahu terima kasih :))
Alkisah, ada sembilan manusia ajaib yang berkumpul untuk bersama-sama membangun rumah. Masing-masing tahu kalau bangun rumah itu berat dan capek, tapi masing-masing tetap mau berpartisipasi. Tahun terakhir saya di BEM ditemani oleh mereka berdelapan ini. Tertawa ngegosipin orang dari pagi sampai pagi lagi, serius mikirin gimana BEM ke depannya setiap malam, berdarah bareng dan nangis dalam diam, makan makanan sampah sambil rapat nggak karuan, saling ejek dan hina, seru-seruan bareng secara virtual maupun di dunia nyata. Semuanya bersama delapan orang ini, sepanjang tahun.
sok sosialita kekinian

Tampang Ngeselin


Friday, 2 September 2016

Seri Hortensia #7: Rumah Saya di Kampus

Tiga dari empat tahun masa kuliah saya habiskan di Takor lantai dua. Dan keluarga besar BEM FISIP UI, lebih dari layak untuk mendapatkan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Seri Hortensia #6: Mereka Yang Berisik

Awalnya entah dari apa. Ada sebuah group chat berisi 31 orang. Ada yang curhat tiap hari, ada yang datang cuma buat di-bully, ada yang kerjaannya nge-kick orang di grup, ada yang jadi orang bijak penuh nasehat, ada yang jualan baju renang, ada yang cantik luar biasa, semuanya ada. Nama grupnya JIP. kepanjangannya apa kami sudah lupa. Sejak 8 Juli 2013, nama grupnya sudah beribu kali berubah (sekarang namanya simply JIP), icon grupnya juga sudah berjuta kali berubah (sekarang gambar rektorat). Tapi isinya tetap sama, berisik, dan hangat.

Untuk Alvin, Anom, Nisa, Bob, Abang Tian, Dean, Elisa, Ellya, Gandes, Gea, Umik Vanya, Wika, Aya, Naya, Bela, Olvy, Ranyo, Rayhan, Enok, Reza, Glo, Tiffany, Un-chan, Yobo, Kakyay, Mamih Ira, Bebe, Sarpal, Diaz, dan teteh Refa, terima kasih ya. Selama tiga tahun ini sudah berisik sekali, sudah jadi salah satu sumber kehidupan dan semangat. Maafin suka gak nyaut di grup. Tapi aku sayang kalian kok. Sungguhan. Makasih ya buat semuanya. Jangan sepi karena udah pada kerja :(



Aku sungguh berterima kasih

6. Sahabat-sahabat berisik di JIP, orang-orang yang selalu mengingatkan untuk tersenyum di kala beban sudah terlampau berat. Terima kasih untuk tiga tahun ini, obrolan informatif hingga gosip-tak-laku-di-pasaran kita akan tetap berlanjut kan?

Seri Hortensia #5: Tiga Puluh Dua Schramm Muda

Dua (dan setengah) tahun dari empat tahun kuliah saya, diramaikan oleh orang-orang ini. Ada tiga puluh dua orang dalam satu kelas Kajian Media. Kami dipertemukan dalam kelas, berbagi kecintaan pada diskusi dan ilmu pengetahuan, dan sama-sama gila karenanya. Mulai dari diskusi ala-ala Habermas, Zizek, Marx, dan pemikiran-pemikirannya; kritik-kritik sosial dalam kajian budaya; pusing-pusing ria mengutuk kapitalisme media dalam ekonomi media; dan banyak kelas-kelas lain dimana kami bersama-sama, tidak takut melihat dunia melalui sisi yang berbeda.



Kami, bersama-sama, dicap sebagai orang-orang nerd komunikasi namun dalam waktu bersamaan kami bersama menjadi orang-orang pemalas yang tidak pernah baca di hadapan dosen. Hanya kami yang tahu bahwa sesungguhnya kami hanyalah makhluk-mahkluk haus diskusi yang akan menyambar apa saja sebagai bahan bicara: mulai dari kuntilanak dan feminisme, hingga sidang kasus sianida yang tak kunjung usai. Group chat kami tak pernah sepi dengan ilmu baru. Dan selama dua (setengah) tahun ini kami saling tolong untuk meyakinkan bahwa kami bertahan bersama. Saling menguatkan idealisme masing-masing dan merasa bodoh bersama. Karena sesungguhnya, mereka yang merasa bodohlah yang akan terus mencari pengetahuan.



Dan untuk itu, saya berterima kasih.

5. Rekan sejawat Kajian Media yang menjadi keluarga sekaligus partner kritis selama dua setengah tahun kita bersama-sama. Untuk Ridho, David, Vira, Emil, Wika, Nadia, Chika, Yoan, Finka dan Nisa yang mengangkat toga lebih dulu. Untuk Ajet, Afifah, Artika, Afit, Dika, Annis, Bahrul, Abang Tian, Dwi, Gea, Cece, Aya, Rangjod, Subhan, Neil, Ellya dan Carnis yang sudah sama-sama panik setiap mendekati tenggat skripsi ini. Juga untuk Dinda, Edu, dan Alvin yang akan menyusul semester depan. Terkhusus Scholastica Gerintya yang menjalani susah senang bimbingan bersama-sama.

Seri Hortensia #3: Muara Karya Saya

Namanya Leila Salikha Chudori. Beliau sudah menulis banyak cerpen dan novel dan skenario film. Pulang, novel pertama beliau mengenai nasionalisme, adalah novel yang saya gunakan dalam skripsi saya. Novel ini saya analisis dan saya bedah, saya kaitkan ideologi Leila dengan isi novelnya.

Skripsi saya bisa jadi cuma analisis dangkal mengenai novel beliau. Tapi saya boleh bangga, karena, sejauh yang saya tahu, skripsi saya merupakan karya ilmiah pertama yang membahasa Pulang melalui mata feminisme. Dan untuk itu saya sangat berterima kasih pada Leila Chudori yang telah melahirkan karya ini sedemikian luar biasa yang mengajarkan saya, bukan hanya bagaimana menjadi seorang Indonesia, tapi juga menjadi seorang perempuan.

3. Leila S. Chudori, seorang penulis, jurnalis, dan perempuan penuh pengabdian yang memperkenalkan saya kepada sejarah, pewayangan, nasionalisme, keluarga, cinta, dan hakikat mencari rumah melalui Pulang. Terima kasih untuk karyanya yang mengendap dalam hati saya, skripsi ini saya dedikasikan untuk karya Anda yang luar biasa itu.

Seri Hortensia #4: Keluarga Departemen Ilmu Komunikasi

Tahun 2012, saat SNMPTN, saya memilih S1 Reguler Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama sekolah tinggi saya. Dan ternyata, semesta memang mengizinkan saya kuliah disini.



Thursday, 25 August 2016

Seri Hortensia #2: Ibunya Komunikasi

Buket hortensia yang kedua, saya berikan pada Ibundanya Komunikasi UI. Namanya Endah Triastuti, kami simply mengenalnya sebagai "Mbak Titut". Mbak Titut ini penguji saya. Beliau Kepala Program Sarjana Komunikasi, dan beliau adalah dosen yang meninggalkan banyak kenangan selama empat tahun saya berkuliah.

Kelas spesial kajian budaya


Kalau membicarakan Mbak Titut, yang paling saya ingat adalah satu hari kelas Kajian Budaya dimana kami diminta untuk memakai pakaian yang tidak semestinya dipakai oleh mahasiswa. Hari itu, teman-teman kajian media saya benar-benar seperti serombongan cosplayer. Dan menyenangkan sekali mengamati respon orang terhadap cosplay kami.

Mbak Titut yang sering saya temui dalam mata kuliah kajian media, yang mengajarkan bahwa, "dalam penelitian kualitatif, ya kita, peneliti adalah tools-nya. Kalau penelitinya nggak tajam, nggak cerdas, ya jangan harap penelitiannya akan baik". Yang selalu mengingatkan bahwa kita harus memandang segala fenomena sosial dengan God-Eye-View alias harus luas dan lihat ke segala arah. Yang selalu meminta kami untuk baca dan baca dan baca sebelum masuk kelas, untuk terlebih dahulu menjadi pelaku media, bukan hanya analisnya saja. Siapa yang sangka Mbak Titut yang itu yang akan menjadi pembimbing saya. Sungguh saya takut sekali, kali pertama saya dengar kabarnya.

Tapi yang namanya ibu tetap ibu, di ruang sidang sekalipun. Saya bersyukur sekali, sidang yang saya hadapi bukan menjadi ajang keras kepala dan arogansi tulisan yang saya buat. Sebaliknya, sidang saya justru menjadi ajang saya untuk mulai melihat dunia sebagai seorang perempuan. Dan yang terpenting, menjadi ajang bagi saya untuk berani mengapresiasi apa yang saya kerjakan. Sungguh, saya bersyukur diberikan penguji yang begitu hangat, dan menyempurnakan skripsi saya.

Dan untuk itu, saya berterima kasih.

2. Clara Endah Triastuti, ibu satu anak, seorang perempuan, seorang dosen, sekaligus Penguji Ahli yang telah meminjamkan kacamata pengetahuannya pada saya untuk melihat hal-hal yang luput dalam skripsi ini. Untuk semua kekurangan skripsi ini yang Mbak tunjukkan, juga untuk kelebihan skripsi ini yang Mbak apresiasi, sungguh, saya ucapkan terima kasih banyak.

Seri Hortensia #1: Ibu Yang Terlambat Saya Temukan

Buket hortensia yang pertama, ceritanya saya berikan pada seorang perempuan berambut pendek yang anggun sekali. Namanya Billy Sarwono (gelarnya Profesor) yang saya panggil dengan "Mbak Oni" saja. Meski banyak orang manggil beliau Bu Oni. (Di pogram sarjana FISIP UI, ada tradisi memanggil dosen dengan sebutan mbak dan mas, seberapa pun jauh jarak umur antara dosen dan mahasiswa).

Mbak Oni ini, cerdas sekali. Dan baik luar biasa. Saya masih ingat loh, bimbingan pertama, beliau bilang begini pada saya, "Bestari, coba deh kamu tulis apa yang mau kamu tulis. Nggak perlu dikhawatirkan kajian ilmiahnya, teori siapa, sumbernya dari mana. Tulis aja dulu kamu sebenarnya mau ngapain sih? Kalau kayak begini namanya tayloring. Kamu ambil teori-teori terus kamu jahit jadi satu di tulisan kamu. Saya jadi nggak dapet maksudnya apa. Tulis aja dulu, bebas. Nggak perlu ilmiah. Nanti kalau kamu sudah bisa menuangkan apa yang mau kamu tulis, baru saya bantu mengilmiahkannya."

Dalam bimbingan-bimbingan selanjutnya pun, Mbak Oni nggak kalah baik. Beliau benar-benar bantu brainstorming sampai bantu cari metode, kasih pinjam buku-buku, nge-chat saya duluan, telpon saya, dan bahkan mengizinkan saya datang ke rumahnya untuk bimbingan. Yang paling bikin tersentuh, H-1 sidang saya, beliau minta saya ke rumah beliau. Di rumah beliau, kita "simulasi" sidang. Mbak Oni bertanya dan eksplorasi skripsi saya dan saya coba jawab. Terharu sekali, merasa dibimbing dengan segala keilmuan yang dicurahkan buat saya, mahasiswa cupu S1 yang nulis saja masih jelek sekali. Padahal Mbak Oni yang sudah profesor juga membimbing mahasiswa S2 dan S3. Tapi beliau selalu berusaha menjadi pembimbing yang baik tanpa menyepelekan satu mahasiswa pun. Saya merasa beruntung mendapat pembimbing semenyenangkan Mbak Oni.

Dan untuk itu, saya berterima kasih.

1. Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A. selaku pembimbing skripsi saya, yang membantu proses berpikir dan pengembangan diri saya selama melahirkan skripsi ini. Untuk semua waktu yang Mbak berikan di sela kesibukan sebagai seorang perempuan dan akademisi yang hebat; untuk semua kehangatan obrolan dan kepedulian Mbak, baik di Depok, di Salemba, hingga di teras rumah yang menyenangkan di Pasar Minggu, saya ingin mempersembahkan skripsi ini untuk waktu-waktu tersebut. Saya belajar banyak, Mbak. Terima kasih.

Seri Hortensia: Awal


Salah satu bahasa bunga dari hortensia (hydrangea) adalah terima kasih. Dan melalui rangkaian pos berjudul seri hortensia ini saya mau ngucapin terima kasih untuk beberapa orang yang selama beberapa bulan dan beberapa tahun ini berkontribusi untuk kelahiran anak saya: skripsi setipis delapan puluh satu halaman berjudul Studi Semiotika Roland Barthes terhadap Karya Penulis Perempuan Indonesia (Menilik Ideologi Posfeminisme Leila S. Chudori dalam Novel Pulang). 

Dikarenakan halaman ucapan terima kasih di skripsi yang terbatas sekali, dan berhubung hari-hari ini dekat dengan pekan wisuda, saya ingin mengabadikan rasa terima kasih saya pada orang-orang ini lewat setiap pos seri hortensia. Semoga kalian baca yah~

Enjoy

Wednesday, 10 August 2016

Review on Harry Potter and the Cursed Child

Sebagai seorang Potterhead selama bertahun-tahun, saya bisa bilang kalau saya adalah fans yang pilih jalur aman. Saya tidak baca buku-buku Rowling yang lain, saya tidak baca fanfiction, dan saya sama sekali tidak excited ketika berita tentang Cursed Child yang akan di teaterkan maupun Fantastic Beast yang akan difilmkan muncul. Buat saya, Hogwarts selamanya akan jadi fantasi terliar saya, tapi sudah cukup. Cukup ditutup dan disimpan sebagai bagian dari masa kecil yang menyenangkan.



Tapi, sebagai orang yang tumbuh bersama Harry Potter, saya tidak bisa tidak penasaran dengan isi ceritanya. Jadilah saya baca Special Rehearseal Edition Script Harry Potter and the Cursed Child Part I and II dan inilah pendapat saya,

Warning! Contain major spoiler. Do not read unless you have finished the Cursed Child book or if you want to know the story

Sunday, 19 June 2016

Beauty and the Beast

Sebelum membahas tentang Beauty dan Beast, saya mau cerita tentang skripsi saya. Skripsi saya adalah buah dari penasaran saya selama kuliah. Saya suka sekali baca novel dan karenanya saya jadi bertanya-tanya. Penulis perempuan, dan penulis laki-laki, menggambarkan perempuan dalam novelnya sama nggak ya?

Ramadhan Hari #13

Sabtu, 18 Juni 2016
23.00, Layar laptop



Tau nggak kalau Mulan yang asli kisahnya jauh lebih menyedihkan? Dan dia nggak pernah ketahuan bahwa di perempuan selama perang. Dan dia pernah jadi jendral.
Tau nggak kalau Ariel si putri duyung itu nggak pernah hidup bahagia sama pangerannya dan dia jadi buih di lautan? Menghilang

Banyak orang nggak tau karena versi Disney dibuat berbeda. Lantas kenapa karya Disney yang popule? Bukan kisah aslinya?

Mungkin, karena orang-orang menyukai kisah yang aman. Kisah yang pasti berakhir bahagia.

Wednesday, 15 June 2016

Ramadhan Hari #10

Rabu, 15 Juni 2016
08.40, Dalam pikiran

Alhamdulillah, saya bersyukur, selama hampir 22 tahun, hidup saya diberi banyak kemudahan. Sama Allah, sama orang tua saya juga. Pencapaian-pencapaian yang saya inginkan (pilihan sekolah, pilihan organisasi dan kegiatan, kompetisi) semua dimudahkan. Karena itu, kegagalan-kegagalan yang saya temui dalam hidup cenderung merupakan kegagalan kecil. Dan karena itu, buat saya yang cupu ini, kegagalan kecil itu cukup sekali untuk membuat saya drown in a slump.

Karena hidup saya dimudahkan oleh banyak hal, itu juga yang membuat saya tumbuh sebagai orang yang tinggi hati (ceritanya ini mentalitas saya yang Indonesia sekali: lebih senang menyalahkan faktor eksternal ketimbang instropeksi). Ketika saya mengalami kegagalan-kegagalan kecil, akhirnya saya cenderung merasa it's their loss, atau saya bisa lebih baik dari orang lain yang mereka pilih atau mereka pasti akan nyesel banget nggak pilih saya yang luar biasa dan super duper kompeten ini. Yang saya sendiri malu banget mengakui bahwa pikiran-pikiran begitu sering terlintas di benak saya saat saya gagal. Saya juga malu sekali sebenarnya mengakui bahwa yang saya maksudkan gagal disini adalah hal sepele macam, tidak jadi pengurus OSIS-MPK atau tidak diterima di divisi acara atau tidak dipuji dosen pembimbing. Sepele sekali kan kegagalan saya?

Nah, ceritanya, saya baruuu saja mengalami lagi sebuah kegagalan kecil. Saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan. Lucunya mungkin karena kejadiannya di bulan Ramadhan, saya jadi mikir dan merenung. Kenapa ya saya bisa gagal? Padahal saya sudah sering membentuk tim. Harusnya saya tahu, bahwa dalam sebuah tim, bukan kompetensi yang nomor satu melainkan kecocokan. Mungkin saya memang orang yang terlihat kaku dan dinilai tidak bisa membaur dengan orang-orang. Lalu jadi ingat, banyak sekali teman saya yang suka bilang senyum kenapa sih Bes! Apa sih susahnya senyum! Nggak rugi apa-apa kok! Biar orang-orang nggak lihat kamu serem! Ah, padahal saya paling benci kalau salah dinilai. Tapi ternyata memang saya yang tidak mau berusaha dinilai baik oleh orang kan?

Hasil renungan yang kedua adalah, mungkin saya sedang ditegur sama Allah. Lagi disuruh ambil hati yang lagi di langit, buat ditanam balik ke tanah. Lagi diingetin kalo Ya, sekali-kali kamu butuh instropeksi Bes! Masa nyalahin keadaan terus! Kalo hidupmu enak terus, kapan kamu jadi butuh Aku kan? Mungkin gitu kali ya. Mungkin Allah lagi cemburu karena saya merasa saya sudah bisa sendiri. Sudah cerdas, sudah hebat, sudah mampu berdiri sendiri. Padahal mah, mana....... Didiemin sebentar sama Allah juga langsung kalang kabut.

Hmmm, jadi begitulah hasil renungan hari ini. Ternyata menyambut kegagalan bisa sebegini melegakan ya.

Oya, ini tulisan rapel untuk empat hari ya. Hahahaha. Sekian.

Saturday, 11 June 2016

Ramadhan Hari #6

Sabtu, 11 Juni 2016
23.37, Sebuah drama historis di layar laptop



Merenungi, is there any hope for our nation? Shall we watch it fall apart? Or save it? How?

When Love Arrives

Jadi, saya sama Nur Izzatul Muthiah bikin writing challenge lucu-lucuan. Tiap dua minggu sekali kita gantian ngasih tema untuk nulis buat satu sama lain. Maka inilah tema pertama untuk saya: when love arrives.

Seinget saya, saya sering sekali bilang, ke orang orang maupun di blog ini, cinta itu energi positif. Apapun yang membuat kamu jadi lebih baik dari sebelumnya karena seseorang atau sesuatu, itu adalah energi positif. Artinya itu adalah cinta.

Jadi ketika love arrives, ya we have to embrace it tightly. Kita harus memeluk dengan erat segala hal yang membuat kita jadi tambah positif toh? Karena aktualisasi diri ke arah yang lebih baik adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Tapi, yang perlu digarisbawahi adalah it is the love that we need to embrace and welcome, not the man himself. Perubahan diri yang harus kita terima dengan lapang dada dan bahagia. Bukan orangnya. Once we fall hard with some man, we always blinding ourselves. Tricking our heart and assuring our brain that he is the one, that he is the best match for us. Itu kenapa cinta selalu diikuti kata buta dan diawali dengan jatuh. Pasalnya, ketika kita sudah jatuh dan buta, bukan lagi energi positif yang kita dapat, melainkan hanya kecemasan dan kegelisahan. Kalau sudah bukan energi positif, berarti bukan cinta toh?

Lantas apa yang kita lakukan pada dia ketika dia datang? Pilihannya hanya dua, perjuangkan hingga ke pelaminan, atau diam saja. Diam saja. Diam dan mari disimpan baik-baik. Diam dari dia, dan juga diam dari orang-orang lain. Apa yang akan datang dari membicarakannya ke banyak orang? Apa yang akan datang dari mengaguminya melalui cerita kepada orang lain? Selain pengharapan berlebihan dan rasa cemas yang semakin tinggi. Sekali lagi, karena selalu ada jatuh di depan cinta, dan buta di belakangnya.

Saya percaya masanya akan datang di saat cinta mengetuk pintu hati kita dan mempermainkannya. Dan masanya akan datang pula ketika cinta akan mengucap salam dan masuk, alih-alih hanya tersenyum di pintu saja. Tapi sampai cinta siap untuk masuk, maka sebaiknya kita diam saja dan terus memantaskan diri toh? Karena, kata siapa memantaskan diri bukan bagian dari memperjuangkan cinta?




ps: sebenernya gambarnya nggak ada hubungannya sama sekali, I cannot help but loves that pic
pps: saya juga belum bisa mencintai dalam diam, tapi saya ingin belajar. Seperti Ali kepada Fatimah, yang mendapatkannya.
ppps: menulis tema ini, sulit sekali. Karena saya harus benar-benar berpikir dan merasa berulang kali.

Ramadhan Hari #5

Jumat, 10 Juni 2016
15.30, Depan Ruang Sidang

"Aaaaah nanti kalo gue yang sidang gimana dong~ Gue panik banget~"
"Shalat dhuha ga Bes? Shalat tarawehnya bolong ga Bes? Kalo dhuha sama qiyamul lailnya rajin, insya Allah sidangnya juga lancar"

Thursday, 9 June 2016

Ramadhan Hari #4

Kamis, 9 Juni 2016
18.30, Kontrakan tercinta

Hari ini, Ica sama Thifal main (ngebut ngerjain deadline skripsi) di kontrakan. Sebagai pengangguran yang nggak punya kerjaan selain blogging dan baca novel dan nonton drama, maka saya merasa punya tanggung jawab untuk masakin sesuatu buat buka puasa. Maka jadilah saya masak cream pasta.






Bahannya simpel dan seperti biasa aja. Pasta, paprika, sosis, sama bawang bombay. Ditambah susu sama keju. Sudah dikira-kira buat tiga orang yang laper karena seharian nggak makan dan lagi stress ngurusin deadline. Hasilnya? Ternyata kebanyakan :( Enak sih. Tapi masih sisa banyak. Kan sayang.

Hikmahnya, segala hal yang berlebihan itu emang nggak baik. Meskipun sedang laper. Secukupnya saja. Insya Allah berkah.

Anw lagi, itu gambarnya saya ambil dari google. Soalnya cream pasta yang saya masak, saat ini udah habis.

Ramadhan Hari #3

Rabu, 8 Juni 2016
19.58, Percakapan di WhatsApp

Ceritanya habis bangkrut. Jadi minta subsidi ke Ibu buat serentetan buka puasa bersama. Terus sewaktu udah dikirim subsidinya sama Ibu, tanpa sadar saya nge-chat gini ke Ibu, "Muuci cintaku, I love you, kiss kiss"

Terus saya sadar. Itu adalah kata-kata yang sering sekali saya bilang ke temen-temen. Tulus ataupun tidak. Tapi jarang sekali saya bilang begitu ke Ibu atau Bapak. Padahal Bapak sama Ibu kan juga pingin ya tau anaknya sayang sama mereka atau tidak. Kadang keluarga memang jadi yang paling acuh dalam hal menunjukkan kasih sayang bukan? Jadi mari saling ucapkan sayang ke Bapak dan Ibu selagi masih bisa.

Anw, Ibu senang sekali loh kalo diucapin I love you atau sejenisnya.  Meski konteks I love you disini cuma sebagai suap karena abis dikasih subsidi HAHA.

Ramadhan Hari #2

Selasa, 7 Juni 2016.
13.30, Gedung MBRC FISIP UI, Depok.

Berkumpul bersama anak-anak 2015 yang lucu. Mereka lagi belajar Teori Komunikasi. Terus sebagai senior baik hati dan pengangguran yang punya banyak waktu, saya ikutan mereka belajar. Lucu sekali. Anak-anak ini sungguhan gitu belajarnya. Maksudnya, mereka benar-benar dengerin dengan sungguh-sungguh, nyatet apapun yang butuh dicatat, tanya kalau nggak paham, dan ngebenerin penjelasan kalo saya salah ngejelasinnya. Lucu sekali kan?

Lantas jadi instropeksi. Kenapa ya dulu saya nggak pernah belajar sekeras ini? Bukan cuma belajar mungkin, dalam segala hal, saya nggak pernah melakukannya dengan maksimal, dan selalu bikin menyesal.

Lantas jadi bersyukur juga. Saya masih dianugerahi bocah-bocah ini, yang semangat nanya-nanya tentang kuliah dan kampus. Yang mungkin mereka nanti yang bakalan bikin saya masuk surga. Siapa yang tahu. Terima kasih ya dek, sudah mau nanya-nanya ke kakakmu ini, meskipun jawabannya bego.

Oya, ini ceritanya lagi Ramadhan Writing Challange diajakin Nindy. Sekian.

Saturday, 28 May 2016

Buku Lama

Saya sudah menunjukkan beberapa kali, lewat blog ini maupun lewat media sosial dan perilaku saya (hahaha) bahwa saya sangat, amat, sangat, menyukai buku. Dan semenjak SD hingga sekarang, kolom hobi dalam biodata apapun selalu saya isi dengan membaca. Lucunya (atau mungkin tidak lucu), buku-buku yang membuat saya jatuh cinta dengan membaca agak berbeda dengan buku-buku orang lain.

Orang tua saya keduanya guru. Terkhusus, ayah saya adalah guru SD. Dan sejak dulu, ayah saya sering meminjamkan buku-buku cerita di perpustakaan tempatnya mengajar untuk saya baca. Bukunya merupakan buku fiksi anak, tapi terbitan lama. Rata-rata buku yang saya baca ditulis oleh penulis yang remaja dan dewasa zaman sekarang mungkin tidak pernah dengar. Buku-buku ini terbit sekitar tahun 1980-1990an dan sebagian besar adalah buku milik negara, tidak diperdagangkan karena merupakan bagian dari proyek penyediaan buku bacaan anak Sekolah Dasar milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Saturday, 7 May 2016

Bahasa Indonesia

Tenggat, bukan deadline
Kerangka Acuan, bukan Term of Reference
Peluncuran Akbar, bukan Grand Launching
Bung dan Nona, bukan Ladies and Gentleman

Saya cinta kamu, bukan I love you

Bahasa kita indah. Kenapa tidak memilih menggunakannya?

Monday, 25 April 2016

Tentang Jalan dan Kehidupan

Sebenernya udah lama pingin tulis tentang ini. Sejak pulang ke rumah Januari lalu dan main ke rumah kakak yang sekarang tinggal dengan suaminya. Rumahnya agak jauh, di daerah Sidoarjo. Saya dan Ibu kesana berboncengan naik motor beberapa kali. Jalannya rumit, awalnya melewati jalan raya penuh truk berlalu lalang, terus masuk ke jalan sempit, lalu keluar ke jalan raya lagi, kemudian masuk ke perkampuangan untuk kembali ke jalan raya lagi.

Lalu, sembari menyetir motor dan membonceng ibu, saya berpikir,
Mungkin hidup itu sebenarnya seperti jalan. Ada jalan besar, ada yang kecil. Ada yang berpolusi, ada yang damai sekali. Kadang kita ketemu motor yang lebih bagus, mobil, atau truk besar. Tapi tidak jarang kita juga ketemu pejalan kaki atau motor yang lebih butut. Ada rambu-rambu di jalan, ada peraturan. Hidup juga begitu kan? Kita bertemu yang lebih superior, dan yang lebih inferior. Kadang hidup serasa sesak dan melelahkan, tapi juga menjadi menyenangkan dan indah. Ada rambu juga, ada norma, ada agama, ada stigma sosial.



Mengenai jalannya hidup, juga sama seperti jalan. Mungkin kita mulai dari jalan yang kecil, lalu keluar ke jalan besar. Mungkin kita mengambil jalan pintas untuk lebih cepat sampai ke jalan besar. Atau mungkin, justru jalan besar itulah jalan pintas menuju jalan yang lebih kecil. Mungkin kita akan lama berada di jalan besar, untuk kemudian berbelok ke jalan kecil, dan sebaliknya. Jalan manapun yang kita pilih, akan menjadi jelas kalau tujuannya jelas, akhir jalannya jelas. Apa kita akan berhenti di toko di pinggir jalan raya? atau makan bakso di dekat pematangan sawah? Semua tergantung tujuannya.

Tapi yang pasti, sama seperti hidup, segala perjalanan ini akan selalu berakhir di rumah.

Week 14: How Do You Love Yourself?

No matter how I look like from the outside, actually I am a person with timid and coward personality. Saya menakutkan banyak hal dan banyak keadaan, dan saya sering merasa tidak pantas berada di satu tempat. Dan dalam hal mencintai diri sendiri pun, saya merasa begitu--kenyataannya memang begitu.

Secara fisik, apa yang bisa dicintai dari saya? Gendut, hitam, pendek, berkacamata, dan berhidung bulat. Saya tidak bilang saya jelek, tapi buat saya, saya juga jauh dari kata cantik (secara fisik).
Dalam hal akhlak, apa yang bisa dicintai dari saya? Tak perlulah kita bicarakan agama, moral sosial yang saya miliki biasa saja. Saya berbohong, saya berprasangka, saya mengeluh.
Secara intelektual, apa yang bisa dicintai dari saya? Hampir tidak ada.

Bagaimana saya mencintai diri saya? Tapi sebelum itu, apakah saya mencintai diri saya?

Dengan segala kualifikasi diri yang biasa saja, ternyata, sama seperti semua orang, saya masih mencintai diri saya. Kenapa dan bagaimana? Mungkin, karena saya memeluk diri saya seutuhnya, apa adanya, tanpa mengingkari suatu apapun. Saya menerima diri saya yang gendut, hitam, pendek, tukang bohong, dan tukang mengeluh seutuhnya. Saya menerima keputusan-keputusan yang saya buat dan menjalaninya tanpa penyesalan. Saya memeluk semua segi diri saya dan bangga karenanya, hidup tanpa meninggalkan penyesalan.

Mungkin itulah cara saya mencintai diri sendiri. Dengan memeluk dan mengakui diri sendiri, menerima segala kekurangannya dan segala keputusannya. Karena kalau kita tidak menerima diri kita seutuhnya, kalau kita tidak mencintai diri kita sebisanya, siapa yang mau mencintai kita?

Kampus dan Menara Gading

Saya masih ingat, bulan Agustus tahun 2012, senior-senior memberi tahu saya bahwa mahasiswa memiliki tiga kewajiban yang dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, Pengembangan Masyarakat. Maksudnya? Sangat gamblang, artinya, sebagai mahasiswa, kami harus melalui proses pendidikan dan menjadi akademisi yang dapat mengangkat derajat dan martabat bangsa; kami harus melakukan penelitian sebagai upaya mengembangkan disiplin ilmu; kami harus melakukan pemberdayaan masyarakat melalui ilmu yang telah kami peroleh, aplikasi ilmu dalam kehidupan sosial.

Begitu apik, bagus, tertata, dan diterima oleh semua orang.
Begitu mulia tugas mahasiswa.

Saat ini, bulan April tahun 2016, hampir empat tahun semenjak saya mendengar tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi, saya menyadari bahwa cita-cita dharma yang mulia itu tidak lebih hanya cita-cita lisan yang diulang terus menerus dari senior kepada juniornya, dari dosen kepada mahasiswanya. Kampus, tak lebih dari sekadar menara gading. Tinggi, agung, tapi jauh dan sendirian.

Thursday, 14 April 2016

Kenapa Kita (Saya) Bisa Segitunya Sama K-Pop?

Itu. Adalah. Pertanyaan. Yang. Menarik.

Kurang lebih sepuluh tahun saya mengenal K-Pop, dengan segala kegilaannya, dengan segala pasang surutnya. Saya termasuk orang-orang pertama yang merasakan patah hati ketika Hangeng keluar dari Suju, leleh karena gemesnya Yogeun dengan SHINee appa-nya, menyaksikan serunya saingan antara Suju, Bigbang, dan SS501, masih kenal dengan lagu-lagu Trax, nonton MV Timeless Zhang Li Yin yang fenomenal, dan mengikuti semua kegilaan 2PM dan 2AM dari awal debut. Sekarang, setelah saya menjadi mahasiswa ilmu komunikasi yang hampir lulus (dikompori oleh teman sekamar yang adalah mahasiswa hampir lulus psikologi),  selama empat tahun ini belajar mengenai media dan pelakunya, jadi merasa aneh: kenapa saya bisa segitunya sama K-Pop?

Untuk semua pecinta K-Pop yang sedang baca ini pasti merasakan, untuk yang belum, saya ceritakan sedikit apa makna dari segitunya dalam tulisan ini.

credit: allkpop meme, owner: on pict

Monday, 28 March 2016

Confucius said, the existence of human create the etiquette and ritual. But why do now the human is feeling oppressed by the etiquette? Then, when the human doesn't find any essence in doing the etiquette anymore, is it still called etiquette? Or, are we being inhumane?

Wednesday, 16 March 2016

Tentang Sekretaris

Sudah kukatakan padamu, berulang kali, tentang apa maknanya menjadi seorang sekretaris.

Dia bukan buruh surat yang harus lari kesana kemari untuk mengurus perizinan untukmu. Bukan juga kacung yang harus melakukan segalanya untukmu. Menjadi sekretaris adalah jantung, yang bila ia berhenti berdetak sebentar saja, organisme ini dapat mati otaknya. Menjadi sekretaris adalah kunci, yang bila murah dibelinya, dapat dengan mudah dibobol dan rumah terjarah pencuri.

Sudah kukatakan padamu berulang kali, bila kita berjalan dalam rombongan besar, sekretaris bukan yang berada paling depan, bukan yang terlihat ada dan memimpin. Ia harus menunduk dan berjalan dengan rendah hati, ada di paling belakang, menjaga semuanya tanpa kata, memungut semua yang tertinggal tanpa minta disebut jasanya.

Sudah kukatakan padamu berulang kali, salah bila kau mencari tenar dengan menjadi sekretaris. Salah bila kau ingin namamu dikenang dengan menjadi sekretaris.

Tundukkan dulu kepalamu dan tutup mulut besarmu. Kerjakan dalam diam dan tanpa banyak jumawa. Bila yang lain menyalahkanmu, terima saja. Bila ada yang memujimu, tak perlu melangit dan lupa menjejak kembali.

Berapa kali lagi harus kukatakan padamu tentang ini semua?

Monday, 14 March 2016

Tentang Organisasi

Kenapa sih harus Ketua bukan Ketua Umum?
Kenapa harus ada wakil?
Kenapa Kepala Bidang bukan Ketua Bidang?
Kenapa Koordinator bukan Kepala Bidang?
Kenapa Biro? Apa itu Biro?
Kenapa Sekretaris Umum bukan Sekretaris saja?
Kenapa Bendahara Umum dan Wakil Bendahara bukan Bendahara satu dan dua?
Kenapa ada Departemen dan ada Divisi?
Kenapa ada leher organisasi, tangan, dan badan?
Kenapa Ketua menjadi kepala organisasi?
Kenapa kepala organisasinya bisa ada dua?
Kenapa Bidang?
Kenapa tidak dibuat kabinet saja?
Kenapa harus begitu strukturnya?


Semuanya ada alasannya. Dan menjalankannya begitu saja tanpa paham apa maksud dibaliknya, itu bodoh namanya.

Wednesday, 2 March 2016

Ketika BEM FISIP UI 2015 Berakhir

Ketika BEM FISIP UI 2013 berakhir,
masa-masa sebagai staf kastrat yang bego dan batu juga berakhir. Dan masa-masa sebagai sekretaris I yang mandiri dan bebas dimulai. Rasanya? Bahagia. Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku melakukan sesuatu yang aku inginkan sejak dulu: menjadi sekretaris sebuah organisasi.

Akhir 2013
Awal 2014


Ketika BEM FISIP UI 2014 berakhir,
masa-masa sebagai sekretaris yang selalu bermanja dan dilindungi oleh Sekum dan ketua BEM nya juga berakhir. Dan masa-masa sebagai sekretaris umum yang dituntut oleh ketua BEM nya bisa menjadi jantung organisasi dimulai. Rasanya? Takut. Mungkin karena sudah tidak ada lagi orang yang akan jadi pelindungku. Kami yang menjadi intinya, dan apa yang kami lakukan akan menentukan apa yang terjadi ke depannya.

Akhir 2014

Awal 2015


Ketika BEM FISIP UI 2015 berakhir,
Lucunya, aku tidak merasa apa-apa. Sedih, ketika melihat video BEM diputar. Mungkin karena kesadaran bahwa kami sudah melakukan sangat banyak hal tiba-tiba disodorkan begitu saja. Terharu, ketika membaca buku cinta. Mungkin karena menyesali waktu yang tidak akan bisa mengulang semua pertemuanku dengan bocah-bocah ini, dari yang menulis "Jangan galak-galak kak" hingga yang menulis "Sumpah panutan! Nggak ngerti lagi aku sesayang itu sama kak bes", semuanya terasa haru. Tapi secara umum, aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa bahagia karena sadar amanah besar itu akhirnya telah terangkat, atau rasa sedih karena tidak berada di kapal yang sama bersama orang-orang ini lagi.

Akhir 2015

Akhir yang balik ke awal

Mungkin, jadi tidak merasa apa-apa karena akhir yang ini tidak menjadi awal yang lain untukku. Mungkin juga karena aku tahu, bahwa masa-masa yang kita sayang mungkin tidak akan pernah kembali, tapi aku selalu bisa membukanya lagi dalam lembar-lembar kenangan. Mungkin orang-orang yang kita sayang tidak akan selamanya seperti ini, mereka berubah, tapi aku tahu bahwa aku pernah menemukan kehangatan pada mereka, dan kehangatan itu akan selalu siap menyambutku untuk pulang. Selalu.

Terima kasih, untuk pembelajarannya, untuk pendewasaannya, untuk tumbuh bersamanya, untuk omelan-omelan dan cerewetnya, untuk ada, terima kasih. Sungguh, aku sayang kalian semua.


See you when I see you

Membicarakan Tentang Filsafat Islam

40 menit yang penuh berisi konsep mindblowing dari kelas pertama filsafat islam:

Filsafat berasal dari bahasa Yunani philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan/kebenaran) yang artinya, mempelajari filsafat adalah untuk mendekati kebijaksanaan dan kebenaran karena orang-orang yang mempelajarinya seharusnya adalah orang-orang yang mencintai kebenaran.

Salah satu filsuf pertama Yunani, Phytagoras (ya, phytagoras yang rumusnya kita kenal waktu SD itu) menyatakan bahwa hakikat filsafat adalah untuk mempelajari kebenaran, karena itu diperlukan dua kualifikasi untuk mempelajari filsafat: Intelektualitas yang tinggi, dan spiritual yang matang. Spiritual yang matang. 

Dan dosenku pun berkata, "Maka seharusnya orang yang mempelajari filsafat dengan esensial akan jauh dari atheis dan agnostik, mereka tidak akan belajar untuk meragukan kebenaran tapi belajar untuk mencari kebenaran. Maka seharusnya filsafat bukan menjadikan kita tidak percaya pada Tuhan atau agama tapi justru membuat kita semakin dekat dengan itu semua"

Pemikiran ini diteruskan oleh Socrates dengan konsep Euidaimonia miliknya. Socrates mengatakan bahwa kita harus mengenali diri sendiri untuk bisa mengenali Tuhan dan mendekati kebenaran. Karena pada dasarnya kebenaran itu absolut dan untuk itu, kita harus masuk ke dalam kebenaran itu. Kebenaran adalah sesuatu yang universal dan tidak dapat diganggu gugat, inilah yang kita namakan dengan moral.

"Coba kalau kita lihat fenomena sekarang. Kebenaran selalu dikatakan sebagai sesuatu yang subjektif, tergantung dari mana kita lihat kebenaran itu. Kenapa itu terjadi? Karena kita hanya melihat kebenaran dari luarnya saja. Kita tidak masuk ke dalam kebenaran itu. Karena seharusnya kebenaran itu universal, dan berlaku sama untuk semua orang"

Ajaran Socrates ini, ditegaskan lagi oleh Plato (yang adalah murid Socrates) yang mengatakan bahwa kebenaran yang universal itu dibatasi oleh paca indera kita. Akhirnya karena terbatas, apa yang bisa kita anggap sebagai kebenaran itu relatif dan spekulatif, maka kebenaran yang relatif ini kita sebut sebagai doksa (dugaan). Filsafat memang ilmu yang spekulatif, tapi spekulasi yang telah melalui proses pemikiran yang rasional.

Nah, Apa hubungan ini semua dengan filsafat islam?

Jelas berhubungan, karena Filsafat islam berkembang dari filsafat Yunani. Ilmu filsafat yang berkembang di Yunani, dibawa oleh Alexander The Great ke India, Mesir, dan Persia. Pada abad ke 2-3 Masehi, Romawi yang menyebarkan ajarannya menutup Academia (Sekolah Filsafat yang didirikan Plato di Yunani) karena dianggap bertentangan dengan ajaran gereja (masyarakat Yunani saat itu sebagian besar adalah kaum pagan - baca tentang pagan di sini atau di sini). Pada abad ke-7, Khalifah Umar Bin Khattab memperluas kekhalifahan Islam hingga ke India, Mesir, dan Persia. Disana, Umar tidak menutup sekolah Filsafat yang telah berkembang disana karena tidak ada ketakutan filsafat akan mengganggu iman. Tapi, karena saat itu, kekhalifahan sedang berfokus pada pengumpulan mushaf Al-Quran, maka filsafat islam belum berkembang. Filsafat islam baru benar-benar mulai berkembang pada abad ke-8 ketika negara mulai terlibat langsung dalam perkembangan filsafat islam.

Kenapa islam mau mempelajari filsafat yang bermula dari Yunani yang paganis? Karena islam melihat bahwa intisari ajaran filsafat sejalan dengan islam: meningkatkan intelektualitas dan mematangkan spiritualitas.

Mindblowing kan?

Sunday, 10 January 2016

Actually, we are not falling in love with a good person. Instead, when we are falling in love, we make up excuses to make that person look good.

Week 13: Nostalgic



Keluarga kami tidak kaya. Gang tmpat kami tinggal juga tidak berisi orang-orang kaya. Tapi aku tumbuh besar disana. Bersama anak-anak seumuran kakakku dan aku, kami bermain dengan segala macam alat sderhana yang bisa kami dapat. Petak umpet, lempar sandal, kejar-kejaran, benteng-bentengan.. Kami berangkat shalat maghrib bersama. Kami balapan mandi. Keluar main setiap malam minggu. Berkumpul bersama setiap kali orang tua kami juga berkumpul.

Keluarga kami tidak kaya. Kami baru bisa membeli mesin cuci dan lemari es sewaktu aku SD kelas empat atau lima. Dan itu pun, kami tergolong yang pertama memiliki keduanya di gang kami. Aku ingat setiap bulan puasa menjelang, setiap habis sahur ibuku akan membungkus air dalam plastic-plastik dan dimasukkannya dalam lemari es baru kami sementara aku dan teman-teman sebayaku akan bermain menghabiskan tenaga. Pernah satu hari kami nekat mencuri manga muda dari satu lapangan entah milik siapa, di bulan puasa. Siangnya kami akan mengejek siapapun yang berbuka lebih dulu saat waktu dzuhur. Selepas ashar, kami akan balapan mandi. Tak ada hadiah tentu saja, hanya kesenangan dan kenangan. Menjelang maghrib, aku akan mengantar es batu yang telah dibuat ibuku selepas sahur. Ku antar kemana? Ke setiap rumah di gang kami. Satu rumah aku bei satu atau dua es batu. Untuk dibuat es kata ibu, tidak enak buka puasa tidak pakai es. Biasanya sambil menunggu adzan, ayahku akan menyalakan motornya dan mengajak salah satu dari kami berkendara bersamanya. Entah kemana saja, yang penting jalan-jalan. Selepas buka puasa, akupun akan berlari-lari menuju mushalla untuk bersiap shalat tarawih. Saling mengisengi teman satu sama lain, brebut tanda tangan imam, mngantri untuk tadarus, dan membeli banyak jajanan beminyak.

Keluarga kami tidak kaya. Gang tempat kami tinggal juga tidak berisi orang-orang kaya. Tapi aku bahagia tumbuh disana.