Friday, 29 August 2014

Taken for Granted

Aku sudah lama mengenalmu. Terlalu lama. Dulu, hal-hal kecil yang kita lakukan seperti saling menemukan, atau saling menanyakan apa kabar menjadi hadiah yang dapat mempertahankan mood sepanjang hari. Dulu, ketika kamu ada dan tidak pergi, merupakan suatu hal yang patut untuk disyukuri, harus disyukuri.

Tapi semakin waktu tertumpuk, semakin kisah kita terbentuk, lucunya, bukan rasa syukur atau rasa cinta yang semakin besar. Alih-alih hal itu, justru ketidaksabaran, kemarahan, dan keegoisan yang terlihat semakin besar. Semakin waktu bertumpuk menyesakkan kita, semakin kita menginginkan lebih. Tidak cukup hanya dengan sapaan apa kabar. Tidak cukup hanya dengan mengerti. Tidak cukup hanya dengan ada. Ah, manusia memang serakah..

Seiring waktu yang menumpuk mengungkung kita, kita lupa untuk bersyukur. Lupa untuk menyenandungkan terima kasih dalam hati untuk hal-al kecil yang kita lakukan untuk satu sama lain.

Terima kasih telah mengerti. Terima kasih untuk kadonya. Terima kasih untuk doanya. Terima kasih kita telah bertemu. Terima kasih telah ada.



Seiring waktu berjalan dan kenangan semakin panjang, kita menerima segalanya. Taken for granted. Lupa bahwa mulanya tidak begitu adanya. Mungkin itu yang membuat manusia meninggalkan. Karena akhirnya, segala sesuatu dianggap terjadi karena sewajarnya memang begitu. Mungkin itu sebabnya manusia meninggalkan, karena mereka lupa untuk terus mengucapkan terima kasih. Karena mereka lupa, bahwa justru, hal-hal kecil yang mereka sepelekan itulah yang membuat mereka kini ada.

No comments:

Post a Comment