Friday, 11 November 2016

Seri Hortensia #8: Para Pengacau Kehidupan

Halo, kalian orang-orang nggak waras dan nggak tahu terima kasih :))
Alkisah, ada sembilan manusia ajaib yang berkumpul untuk bersama-sama membangun rumah. Masing-masing tahu kalau bangun rumah itu berat dan capek, tapi masing-masing tetap mau berpartisipasi. Tahun terakhir saya di BEM ditemani oleh mereka berdelapan ini. Tertawa ngegosipin orang dari pagi sampai pagi lagi, serius mikirin gimana BEM ke depannya setiap malam, berdarah bareng dan nangis dalam diam, makan makanan sampah sambil rapat nggak karuan, saling ejek dan hina, seru-seruan bareng secara virtual maupun di dunia nyata. Semuanya bersama delapan orang ini, sepanjang tahun.
sok sosialita kekinian

Tampang Ngeselin





Awal ketemu dengan mereka semua beda-beda. Bodat (nama aslinya Ryo, tapi semua orang panggil dia Bodat) yang gondrong dan super aneh, tapi super baik sama pacarnya, pertama kali saya temui waktu di BEM 2013. Anaknya aneh, nggak berani deket-deket. Kerjaannya nge-band, sambil benerin sound system sekaligus jadi pawang hujan acara-acara. Awalnya waktu mau kerja bareng di BEM jadi mikir, bisa nggak ya kerja sama orang yang kayak gini. Ternyata, sungguh, Bodat adalah makhluk paling tulus dan makhluk yang paling banyak menyimpan pelajaran hidup di BEM. Banyak sekali hal yang bisa saya pelajari dari makhluk gaib satu ini. Meski ada jam-jam tertentu nasihat bagusnya keluar (yang dalam setahun itu bisa kejadian 3-4 kali saja HAHA).

Nudi yang sumbunya pendek abis tapi baiknya nggak habis-habis. Nudi bener-bener jadi abang yang bisa banget digantungin kalau untuk urusan kesejahteraan pikiran dan hati. Saya kenal Nudi juga karbitan sebenernya, waktu lagi bantuin Kodel-Prima kampanye. Pertama kali lihat Nudi, yang terlintas adalah anak super militan yang gaul abis dan beda lingkungan sosial sama saya. Setelah jalani BEM bareng, justru saya merasa cocok sekali kerja sama Nudi. Nudi adalah orang yang selalu bisa meramalkan kesempatan dalam pandangan pertama dan memanfaatkannya dengan baik sekali. Dia selalu tulus menyayangi orang dan saya sangat bersyukur jadi salah satu orang yang (mungkin) dia sayang. Dan yang paling imut tetang Nudi yang sangar adalah, dia yang sangat cinta sama ibunya. Rela nemenin ibunya kemanapun. Bahkan, saya pernah ketemu Nudi yang lagi nonton berdua sama ibunya (yang ternyata duduknya sebelahan sama saya yang lagi nonton bertiga sama temen).

Prima Oktalanta Purba (a.k.a Optimus Prime, a.k.a. pop) adalah orang yang luar biasa kucing. Suka nangkring dimana-mana, hobinya ngobrol sama orang dari A sampai Z, dari mahasiswa baru, mahasiswa lama, alumni, pedagang, anak kecil, satpam, sampai mungkin poster di dinding juga diajak ngobrol sama Prima (ini beneran saya pernah lihat, bukan dia ngajak ngobrol posternya, dia emang hobi ngomong sendiri). Paling suka kalo lagi ngobrol sama cewek (cantik). Dari hasil ngobrolnya ini, jaringan gosip Prima luar biasa. Dan kemampuan baca orangnya juga luar biasa. Wakil ketua BEM yang satu ini blak-blakan banget kalo ngomong. Segalanya harus jelas dan gamblang bagi dia dan dari dia. Bocah yang perhatian banget sama setiap orang dan bener-bener doing something untuk memperlihatkan perhatiannya itu. Super baik sekali, dan super profesional kalo kerja. Padahal dulu pop dijebak waktu mau jadi wakabem. Tapi saya percaya, ketika pop menjawab iya, itu bukan hasil jebakan kami, itu benar-benar hasil dialektika diri super panjang dan melelahkan yang pop lalui sendiri. Kalau tidak, pop tidak mungkin sekeren ini kan?

Minus Kodel


Azka Asfari Silmi lebih suka dipanggil Aska (pakai s, bukan z seperti nama aslinya). Awal ketemunya sederhana sekali, sewaktu PDKT 2013, Aska numpang tidur di basecamp panitia. Tahun 2014 ternyata sama-sama jadi BPH BEM, dan di akhir tahunnya sama-sama ngurusin Kodel-Prima yang bandel banget. Saya nggak tahu lagi kenapa bisa ada orang macam Aska. Buat saya, Aska adalah pilar BEM. Kalau Aska nggak ada, BEM-nya bakal runtuh, luluh lantah. Aska bukan cuma sibuk dengan urusan duit (seperti layaknya bendahara) tapi juga sibuk dengan urusan personalia, konsep, kesehatan orang-orang, dan kebahagiaan orang-orang. Aska ini bener-bener orang yang ngasih segalanya buat kami. Maaf ya ka, kalau saya belum bisa mengembalikan, bahkan separuh, dari apa yang sudah kamu kasih ke saya :(

Glo si rakyat jelata. Orang yang suka kami jailin abis-abisan. Ajang bulan-bulanan kami. Yang instagramnya penuh hujatan kami. Tapi Glo yang membuat kami bersatu. Bersatu memusuhi Glo hahahaha. Sungguh ya ini orang, idenya selalu aneh dan nggak jelas (pernah sih sekali dua kali ide bagus yang aneh, tapi ya sekali dua kali itu aja). Dan ambinya itu loh, nggak ada yang bisa nyaingin. Menurut saya, Glo adalah makhluk yang kerja paaaaaling keras selama di BEM. Dia selalu mencoba yang terbaik, dan mencoba selalu ada. Glo bisa jadi kakak yang lucu buat yang lain, dan bisa buat mainan lucu juga buat kami. Jasanya tak akan pernah terlupa. Cheers Glo~

Hafizh Nuur Afif Elhadi Mamesah, kesayangan saya. Sebagai rekan kerja, Hafizh dan saya sering berantem. Sugguhan. Banyak sekali pendapat kami yang berbeda. Dan diskusi ringan kami bisa berubah jadi debat yang kelihatan seperti berantem. Tapi sebagai sahabat, Hafizh is one of a kind. Hafizh adalah orang yang langsung ada di sebelah saya setiap kali saya minta ditemani. Mulai dari ngetik skripsi di perpusat, sampai karena kesepian saat lebaran, Hafizh selalu ada. Saya selalu mendeskripsikan Hafizh sebagai, kalau kamu kasih empat ke Hafizh, dia bakal kasih kamu delapan. Tapi buat ngawali Hafizh untuk mau kasih satu, butuh perjuangan. Kalau sekarang, kita sudah ngasih berapa untuk satu sama lain ya fizh?

Minus Aska


Retno Dyah Agustina, biasa dipanggil Eno oleh orang-orang, tapi saya lebih suka manggil Enok, dengan huruf k. Saya dan Enok sama-sama dari Smala (SMAN 5 Surabaya). Kami beda kelas, Enok dari P3 dan saya dari P7, dan juga beda kegiatan favorit. Mungkin saat itu kami saling tahu, tapi ya hanya sebatas itu. Ternyata, kami berdua sama-sama masuk komunikasi UI (dan dari Smala, hanya kami berdua). Sepertinya itu yang membuat kami jadi dekat, karena kami berekspektasi pada satu sama lain untuk ada sebagai teman. Dan saya senang. Sungguh, menemukan Enok, dengan segala ide kritis (dan sinis)-nya, dengan segala logika dan kemalasannya, saya senang saya memiliki sahabat yang bisa digantungi, yang bisa memahami dan saya pahami tanpa banyak usaha, yang mudah saya tebak sekaligus rumit saya baca. Dan yang paling penting, saya menemukan teman untuk melalui semua hal di kampus selama empat tahun. Benar-benar semua hal. Mulai dari ospek, adaptasi kehidupan kampus, BEM, kegiatan universitas, kepanitiaan, BPH, perjuangan berat semester hampir akhir, BPH inti, hingga perjuangan penyelesaian skripsi, selalu ada Enok dalam setiap ceritanya. Dan saya bersyukur untuk itu. Sungguh.

Faris Muhammad Hanif. Mungkin kalau saya punya kakak laki-laki yang jarak umurnya tidak jauh, hubungan kami akan seperti hubungan saya dan Kodel. Kami berantem (honestly, Bes, you fought with everyone), kami saling bantu, kami saling cerita, kami saling berbagi rahasia, kami saling butuh, dan dia banyak memberi saya mmm apa ya itu, nasihat? Ya semacam itu. Saya tumbuh bersama Kodel selama di kampus. Seorang Bestari yang mau disuruh apa saja dan selalu bilang iya, hingga seorang Bestari yang berani bilang tidak menyaksikan pertumbuhan luar biasa Kodel. Kodel tumbuh dari seorang penipu ulung banyak bacot sedikit baca sedikit bergerak menjadi Kodel yang...... rajin baca, simpatik, dan.... bijaksana? (ok, it sounds so wrong, but indeed, I could say that his advice were wise). Dari semua perubahan Kodel, yang paling berasa adalah bagaimana dia menakar keadaan dan memberi nasihat (?) yang paling bijak (?). Dalam banyak kondisi, Kodel adalah orang yang bisa selalu saya mintai pendapat. Mungkin terkadang jawabannya bukan jawaban yang saya inginkan, tapi dia bisa membuat saya melihat apa yang sebelumnya tidak saya lihat. Dan menerimanya dengan tangan terbuka. Meskipun saya tahu bahwa rasa sayang dan terima kasih saya pada kodel tidak reciprocal (Saya bahkan tidak yakin sama sekali Kodel menganggap saya sebagai eksistensi yang penting dalam pertumbuhannya di kampus), saya tetap bersyukur saya dapat menyaksikan Kodel tumbuh, dan memanfaatkan pertumbuhannya itu dengan baik. Hahaha. Terima kasih ya ^^

See you when I see you, ,guys. Take care.


Untuk itu semua, pengacau-pengacau, untuk kalian berdelapan, saya berterima kasih.
8. Yang tersayang, BPH Inti BEM FISIP UI 2015. Kodel, Prima, Azka, Nudi, Gloria, Hafizh, Enok, dan Bodat. Maaf ya, kita tidak bisa lulus bersama seperti yang dulu kita impikan. Terima kasih untuk gelak dan harunya satu tahun berselang, sungguh aku sayang kalian.

Edit, dua bulan setelah tulisan ini dimulai:
Sekarang Kodel, Aska, dan Nudi kerja di perusahaan yang sama (Aska bahkan jadi CEO Geev! Apa itu Geev? cek sendiri yah ^^), Bodat masih sibuk dengan skripsi dan sound system -nya. Enok dan Prima sedang mengeksplor diri mereka di sebuah perusahaan. Gloria juga sedang mengeskplor diri, lebih ekstrem, di Jepang! Dan Hafizh, sekarang saya yang berusaha ada setiap Hafizh butuh (meskipun sering gagal) dan menemani proses skripsi Hafizh. Senang melihat kita semua berkembang di jalan masing-masing ya ^^
Sekali lagi terima kasih, pengacau :)


No comments:

Post a Comment