Wednesday, 2 March 2016

Membicarakan Tentang Filsafat Islam

40 menit yang penuh berisi konsep mindblowing dari kelas pertama filsafat islam:

Filsafat berasal dari bahasa Yunani philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan/kebenaran) yang artinya, mempelajari filsafat adalah untuk mendekati kebijaksanaan dan kebenaran karena orang-orang yang mempelajarinya seharusnya adalah orang-orang yang mencintai kebenaran.

Salah satu filsuf pertama Yunani, Phytagoras (ya, phytagoras yang rumusnya kita kenal waktu SD itu) menyatakan bahwa hakikat filsafat adalah untuk mempelajari kebenaran, karena itu diperlukan dua kualifikasi untuk mempelajari filsafat: Intelektualitas yang tinggi, dan spiritual yang matang. Spiritual yang matang. 

Dan dosenku pun berkata, "Maka seharusnya orang yang mempelajari filsafat dengan esensial akan jauh dari atheis dan agnostik, mereka tidak akan belajar untuk meragukan kebenaran tapi belajar untuk mencari kebenaran. Maka seharusnya filsafat bukan menjadikan kita tidak percaya pada Tuhan atau agama tapi justru membuat kita semakin dekat dengan itu semua"

Pemikiran ini diteruskan oleh Socrates dengan konsep Euidaimonia miliknya. Socrates mengatakan bahwa kita harus mengenali diri sendiri untuk bisa mengenali Tuhan dan mendekati kebenaran. Karena pada dasarnya kebenaran itu absolut dan untuk itu, kita harus masuk ke dalam kebenaran itu. Kebenaran adalah sesuatu yang universal dan tidak dapat diganggu gugat, inilah yang kita namakan dengan moral.

"Coba kalau kita lihat fenomena sekarang. Kebenaran selalu dikatakan sebagai sesuatu yang subjektif, tergantung dari mana kita lihat kebenaran itu. Kenapa itu terjadi? Karena kita hanya melihat kebenaran dari luarnya saja. Kita tidak masuk ke dalam kebenaran itu. Karena seharusnya kebenaran itu universal, dan berlaku sama untuk semua orang"

Ajaran Socrates ini, ditegaskan lagi oleh Plato (yang adalah murid Socrates) yang mengatakan bahwa kebenaran yang universal itu dibatasi oleh paca indera kita. Akhirnya karena terbatas, apa yang bisa kita anggap sebagai kebenaran itu relatif dan spekulatif, maka kebenaran yang relatif ini kita sebut sebagai doksa (dugaan). Filsafat memang ilmu yang spekulatif, tapi spekulasi yang telah melalui proses pemikiran yang rasional.

Nah, Apa hubungan ini semua dengan filsafat islam?

Jelas berhubungan, karena Filsafat islam berkembang dari filsafat Yunani. Ilmu filsafat yang berkembang di Yunani, dibawa oleh Alexander The Great ke India, Mesir, dan Persia. Pada abad ke 2-3 Masehi, Romawi yang menyebarkan ajarannya menutup Academia (Sekolah Filsafat yang didirikan Plato di Yunani) karena dianggap bertentangan dengan ajaran gereja (masyarakat Yunani saat itu sebagian besar adalah kaum pagan - baca tentang pagan di sini atau di sini). Pada abad ke-7, Khalifah Umar Bin Khattab memperluas kekhalifahan Islam hingga ke India, Mesir, dan Persia. Disana, Umar tidak menutup sekolah Filsafat yang telah berkembang disana karena tidak ada ketakutan filsafat akan mengganggu iman. Tapi, karena saat itu, kekhalifahan sedang berfokus pada pengumpulan mushaf Al-Quran, maka filsafat islam belum berkembang. Filsafat islam baru benar-benar mulai berkembang pada abad ke-8 ketika negara mulai terlibat langsung dalam perkembangan filsafat islam.

Kenapa islam mau mempelajari filsafat yang bermula dari Yunani yang paganis? Karena islam melihat bahwa intisari ajaran filsafat sejalan dengan islam: meningkatkan intelektualitas dan mematangkan spiritualitas.

Mindblowing kan?

No comments:

Post a Comment