Wednesday, 25 September 2013

Papan Catur

Pasca LDKMS V 2010, sampai saat ini, aku sering mengasosiasikan diriku sebagai pion catur. Bidak paling lemah yang selalu dikorbankan. Aku terpesona pada kerendahan hati sebuah pion. Yang selalu maju dan belajar perlahan dari setiap petak yang dilaluinya. Aku selalu terkesima pada keikhlasan sebuah pion untuk memulai dan menjadi bidak yang kematiannya tidak pernah disesali, justru membuka jalan bagi yang lain. Dan selama ini, aku bangga memiliki paradigma seperti itu.


Aku selalu mengasosiasikan diriku sebagai pion catur. Kenapa? Karena pion catur adalah lambang pembelajar yang abadi menurutku. Bukan karena dia bidak yang selalu dikorbankan, bukan. Tapi karena dia melangkah satu demi satu kotak. Tidak pernah berjalan mundur. Selalu berada di barisan depan perjuangan... Aku ingin menjadi seperti itu. Bestari yang kuat, yang dapat diandalkan, yang selalu belajar. Dan bila si pion catur sudah sampai di ujung, ia dapat menjelma menjadi apapun. Tapi aku belum sampai di ujung. Belum di ujungku sendiri. (lembar pengenalan diri BEM FISIP)

Hingga negara api menyerang...

Hingga tadi malam...

"Kalo Raja sebagai simbol, yang nyerang ada ratunya. Dia bisa jalan kemana aja, kanan kiri serong depan belakang. Perannya sangat krusial, kayak minion"

Dalam catur, sekian tahun ini aku mengasosiasikan diri sebagai pion. Dan sekarang ada yang mengatakan bahwa aku adalah ratu. Mungkin, aku sudah sampai di ujung dan kembali memulai. Bukan lagi sebagai tumbal, bukan lagi sebagai buruh yang maju tanpa paham mengapa harus maju.

No comments:

Post a Comment