Thursday, 25 August 2016

Seri Hortensia #1: Ibu Yang Terlambat Saya Temukan

Buket hortensia yang pertama, ceritanya saya berikan pada seorang perempuan berambut pendek yang anggun sekali. Namanya Billy Sarwono (gelarnya Profesor) yang saya panggil dengan "Mbak Oni" saja. Meski banyak orang manggil beliau Bu Oni. (Di pogram sarjana FISIP UI, ada tradisi memanggil dosen dengan sebutan mbak dan mas, seberapa pun jauh jarak umur antara dosen dan mahasiswa).

Mbak Oni ini, cerdas sekali. Dan baik luar biasa. Saya masih ingat loh, bimbingan pertama, beliau bilang begini pada saya, "Bestari, coba deh kamu tulis apa yang mau kamu tulis. Nggak perlu dikhawatirkan kajian ilmiahnya, teori siapa, sumbernya dari mana. Tulis aja dulu kamu sebenarnya mau ngapain sih? Kalau kayak begini namanya tayloring. Kamu ambil teori-teori terus kamu jahit jadi satu di tulisan kamu. Saya jadi nggak dapet maksudnya apa. Tulis aja dulu, bebas. Nggak perlu ilmiah. Nanti kalau kamu sudah bisa menuangkan apa yang mau kamu tulis, baru saya bantu mengilmiahkannya."

Dalam bimbingan-bimbingan selanjutnya pun, Mbak Oni nggak kalah baik. Beliau benar-benar bantu brainstorming sampai bantu cari metode, kasih pinjam buku-buku, nge-chat saya duluan, telpon saya, dan bahkan mengizinkan saya datang ke rumahnya untuk bimbingan. Yang paling bikin tersentuh, H-1 sidang saya, beliau minta saya ke rumah beliau. Di rumah beliau, kita "simulasi" sidang. Mbak Oni bertanya dan eksplorasi skripsi saya dan saya coba jawab. Terharu sekali, merasa dibimbing dengan segala keilmuan yang dicurahkan buat saya, mahasiswa cupu S1 yang nulis saja masih jelek sekali. Padahal Mbak Oni yang sudah profesor juga membimbing mahasiswa S2 dan S3. Tapi beliau selalu berusaha menjadi pembimbing yang baik tanpa menyepelekan satu mahasiswa pun. Saya merasa beruntung mendapat pembimbing semenyenangkan Mbak Oni.

Dan untuk itu, saya berterima kasih.

1. Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A. selaku pembimbing skripsi saya, yang membantu proses berpikir dan pengembangan diri saya selama melahirkan skripsi ini. Untuk semua waktu yang Mbak berikan di sela kesibukan sebagai seorang perempuan dan akademisi yang hebat; untuk semua kehangatan obrolan dan kepedulian Mbak, baik di Depok, di Salemba, hingga di teras rumah yang menyenangkan di Pasar Minggu, saya ingin mempersembahkan skripsi ini untuk waktu-waktu tersebut. Saya belajar banyak, Mbak. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment