Pages

Saturday, 18 November 2017

Fearless and Seamless

Dua hal ini jadi semangat hidup sendiri buat saya belakangan. Saya ingat dulu saya baca ini di internet, people always afraid with the things they don’t know. Dan saya mengakui, saya punya banyak sekali ketakutan. Mulai dari hal sederhana semacam oke nggak ya kalau pakai baju ini buat besok sampai hal-hal besar dan menyangkut hidup seperti bisa nggak ya menuhin kebutuhan hidup kalau ambil kerjaan ini. Dan quotes tadi selalu muncul setiap saya akan memutuskan hal-hal dengan takut dan ragu. Well, turn out I really just feel afraid because I don’t know what will wait me at the end of the road. And that feeling limit me to explore many things I’ve never tried before. Jadi yah, jadi fearless itu penting untuk aktualisasi diri kita. Dan ternyata karena saya nggak bisa fearless, makanya saya di sini-sini aja kemampuannya, nggak berkembang.

Nah, setelah saya mulai fearless dan selalu coba untuk ngelakuin hal baru, yang selanjutnya harus saya pegang adalah seamless. Sederhana sekali mulanya, karena saya suka sekali ketika dipuji dan dibilang pekerjaan saya seamless. Jadi sekarang saya selalu melakukan segalanya dengan harapan saya bisa dipuji seamless lagi. Hahahaha.

Jadi, ini moto hidup baru saya, diawali dengan fearless dan diakhiri dengan seamless.




Tuesday, 31 October 2017

May The Odds Be Ever In Your Favour

Saya suka sekali dengan kalimat ini. Meskipun kalimat ini digunakan oleh Effie Trinket yang berasal dari Capitol, meskipun Katniss dan Gale seringkali mengolok Effie dan kalimat ini, meskipun kalimat ini digunakan sebagai ucapan "semoga beruntung" untuk permainan paling berbahaya, saya suka sekali dengan kalimat ini?

Karena kalimat ini powerfull.

May the odds, semoga segala rintangan
Be ever in your favour, berada dalam belas kasihanmu

See?

Kalimat ini bilang kalo kamu yang punya kekuatan buat kasih belas kasihan. Artinya kamu yang kuat, kamu yang jadi rajanya disini, bukan rintangannya. And it do speak a lot. It always remind me that we are strong enough, if only we believe in it. Odds have no chance against us. Because we are the one giving favour.

May the odds, be ever in your favour.

Tuesday, 28 March 2017

Life's Episode

Selamat datang di labeled-series terbaru~
Seri ini saya buat karena banyak kejadian hidup saya yang menyenangkan, dan punya pelajaran. Dan karena saya tidak mau lupa, maka disinilah episode-episode hidup saya, saya arsipkan ^^

Selamat bersenang-senang~

Life: Episode SNMPTN

Tahun 2012 kemarin, saya adalah peserta SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya nggak tahu apa namanya sekarang, yang jelas itu adalah seleksi tulis se-Indonesia untuk bisa masuk ke PTN. Karena pada tahun itu nggak semua siswa bisa dapat kesempatan untuk undangan, dan saya sadar diri karena nilai-nilai SMA saya sungguh memalukan, saya mencurahkan semua fokus saya untuk SNMPTN.

Maka tibalah hari-hari menjelang SNMPTN. Banyak try out sudah saya ikuti, saya belajar benar-benar karena saya ingin sekali masuk komunikasi UI. H-1 SNMPTN, saya diantar oleh ayah saya pergi ke UNESA (tempat saya tes). Disana, saya mencari benar-benar gedung tempat saya tes, ruangannya, bahkan saya mengukur waktu yang dibutuhkan dari rumah menuju ke UNESA, dan saya memeriksa kamar mandi terdekat dari ruangan saya dan sebagainya dan sebagainya. Intinya, saya benar benar tidak mau terlambat dan tanpa persiapan.

Saat hari-H tiba, saya masuk dengan tenang, tanpa panik. Saya tahu dimana gedung dan ruangan saya. Saat tes pertama (tes kemampuan dasar dan TPA), saya mengerjakan dengan baik-baik saja. Hingga tiba-tiba di tengah ujian itu, saya ingin ke kamar mandi. Bayangkan, ingin buang air kecil di tengah-tengah ujian yang tidak diizinkan keluar sama sekali. Konsentrasi saya seketika buyar. Alih-alih mengerjakan soal, konsentrasi saya justru saya curahkan pada bagaimana caranya supaya saya bisa menahan pipis. Sepuluh menit........ Dua puluh menit......

Dan tiba-tiba

.....

Ada suara aliran air, dan kepala-kepala peserta ujian yang menengok.

Termasuk saya

Seorang perempuan, duduk di arah jam 11 saya, mengompol begitu saja. Di ruangan. Saat ujian masuk perguruan tinggi. Tanpa kata.

Seketika itu juga, keinginan saya untuk ke kamar mandi hilang. Terima kasih, mbak.

Nb: ketika pengumuman SNMPTN di koran, saya hitung nomor ujian si mbaknya, dan ternyata dia tidak lulus :( Yang tabah ya mbak.

Life: Episode Cuci Karpet

Cerita ini tentang episode hidup saya saat berumur 6-15an tahun. Dulu, rumah saya hanya bangunan yang kami fungsikan sebagai tempat makan dan tidur. Orang tua saya, keduanya guru, dan dengan penghasilan (yang saat itu) tidak seberapa, serta (saat itu) dua anak yang harus disekolahkan, rumah kami benar-benar tidak seperti rumah.

Di ruang depan, yang kami fungsikan sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, sekaligus tempat tidur, tidak ada sofa, yang ada hanya sebuah karpet seperti karpet masjid zaman dulu. Besaaar, ada dua lapis, yang dibawah berwarna merah, dan yang diatas berwarna abu-abu. Karpet itu, sejauh saya mengingat, sudah ada bersama rumah kami. Dan setiap hari permukaan karpet itu hanya dibersihkan seperlunya. Bayangkan berapa banyak debu dan rambut yang berkumpul disana. Hahaha.

Jadi karena karpetnya besaar sekali, bagaimana kami membersihkannya? Karpet itu mungkin hanya kami cuci dua kali setahun. Setiap hujan lebat. Karpet super besar itu kami keluarkan dan kami bentangkan di jalan (yes, you read it right. Di jalan). Kemudian saya dan ayah saya akan hujan-hujan sambil mencuci karpet. Menggunakan air hujan, sikat cuci baju, dan sabun cuci. Karpetnya besar sekali sehingga biasanya baru akan selesai setelah dua jam kami hujan-hujan.

Sekarang, bertahun-tahun setelah rumah kami renovasi dan ruang depan kami tanpa karpet, saya tidak tahu kemana karpet legendaris itu pergi :( kadang, rindu rumah adalah mengingat sesuatu sesederhana mencuci karpet di tengah hujan bersama ayah.

Nb: that was the only photo of me and my dada alone that I can find~ I cannot find the photo of that big carpet too~ Nor the photo of our old home~