Pages

Showing posts with label Life's Episode. Show all posts
Showing posts with label Life's Episode. Show all posts

Sunday, 3 November 2019

Life: Episode Collecting Trophies

Saya punya kakak yang pintarnya tumpah-tumpah (well, at least buat saya). Selisih umur kami lima tahun, jadi waktu saya masih kecil, kakak saya udah banyak koleksi tropi. Lomba apa lah, menang apa lah, peserta apa lah. Keren deh pokoknya. Jadi, dari kecil saya nggak sengaja menganggap bahwa hidup harus punya banyak prestasi. Harus unggul dibanding orang lain. Dalam bidang apa aja.

Me and my siblings

Sejak SD, guru-guru saya suka banding-bandingin saya sama kakak saya. Karena SD kami sama. Rata-rata bilang kalau saya nggak sepintar kakak. Dulu saya ngambek karena dibilang nggak sepintar itu (HAHA). Alhasil saya bener-bener struggle buat "berprestasi". Mencoba aktif ngapa-ngapain. Mencoba kelihatan pintar. dsb dsb. Usaha yang justru malah membuat saya punya titel anak sok sibuk, atau anak sok tau. Backfired.

Waktu SMA apa ya. Mungkin sejak itu, saya baru kenal konsep kalau orang ya.... beda. Segimana darah saya dan kakak saya sama, pada nyatanya kami individu yang beda. Semangat untuk terus jadi lebih baiknya boleh sama, tapi modal kami beda. Dan apa yang bisa kami dapat juga beda. Segimana saya mau usaha juga, saya ngga akan jago kimia seperti kakak saya. Sama halnya seperti gimanapun kakak berusaha, ngga akan bisa punya empati setinggi saya.

Jadilah saya mulai mengubah buruan saya. Masih tropi, tapi dalam bentuk yang berbeda.

Bagian favorit saya di kamar. Isinya foto orang-orang yang paling saya sayang! (Dan puzzle hogwarts!)

Di bangku putih-abu saya mulai sadar kalau saya suka banget berhubungan sama orang. Sayangnya, karena masih ada sisa-sisa sok tau dan sok sibuk, hubungan saya sama temen SMA sedikit sekali yang genuine. Hasilnya, saya cuma berhasil mengumpulkan kenangan-kenangan kecil perjalanan hidup saya di SMA. Saat itu, itulah tropi saya.

Snippet sedikit isi "Kotak Kenangan" SMA saya. Kebanyakan isinya ID Card dan scarf kepanitiaan.

Kampus, yang benar-benar membuat saya jadi "orang". Banyak orang bilang kalau masa SMA paling berkesan. Buat saya, kampus yang jadi rumah abadi. Saya bener-bener belajar banyak dan mengalami perjalanan mental, mencoba cari tau, siapa sih saya yang sebenarnya? Apa yang saya mau? Kenapa saya hidup? Perjalanan yang sampai sekarang belum selesai, tapi seenggaknya jalannya sudah beraspal, ngga lagi di tanah liat penuh batu.

Snippet kekurangkerjaan saya ngumpulin foto-foto

Di kampus lah saya banyak diskusi sama orang. Belajar untuk bilang "tidak tau" dan menghindari jadi orang sok tau. Masih sok tau sih, sekarang pun, tapi udah nggak separah dulu. Di kampus juga saya banyak membangun hubungan dengan orang. Hubungan yang beneran. Bukan sekadar karena terikat tugas atau kelompok. Tapi karena saya ingin.

Sebagian besar dari sahabat baik saya, saya temukan di masa-masa ini.

Merekalah tropi saya sekarang. Bagaimana mereka sayang sama saya. Bagaimana saya sayang mereka. Bagaimana mereka menganggap saya sebagai manusia. Semua itu yang jadi tropi buat saya.

Semuanya. Saya kumpulkan rapi. Dalam memento-memento kecil yang, mungkin bagi banyak orang tidak berarti, tapi buat saya inilah tropi.
Dua dari banyaak ucapan ulang tahun yang saya simpan dengan penuh sayang

Foto. Surat. Kado. Catatan kecil.

Sedikit dari banyaak, catatan-catatan kecil yang saya simpan

Semuanya masih ada. Dan saya simpan baik-baik. Dalam bentuk fisik, supaya hati saya tidak lupa. Bahwa saya dicintai. Bahwa hidup saya berarti buat orang lain. Bahwa kadang, mensyukuri hal-hal kecil lah yang membuat hidup kita terus maju ke depan.

Snippet "Kotak Kenangan" ketiga saya

Buat saya, inilah tropi.

Sunday, 1 September 2019

Life: Episode Menunggu

Saya punya kerjaan baru. Beneran gawe, bukan kerjaan yang dibuat-buat. Jadinya sebulanan ini saya suka recokin sahabat-sahabat saya tentang kehidupan baru saya. Terus ada yang bilang kenapa ngga bikin blog aja, Bes, tentang ini? Jadi saya memutuskan akan numpahin di sini saja cerita lucu sehari-hari saya.

Mungkin harus diawali dengan gimana ceritanya saya bisa dapet kerjaan ini kali ya.

Sebelum ini, saya kerja di sebuah lembaga non-profit di Surabaya. Lembaganya berupa komunitas untuk keluarga Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) alias special needs. Awalnya kerja ngurusin media, karena saya memang lulusan komunikasi. Tapi terus saya diminta ngurusin program juga. Jadilah saya jatuh cinta sama bocah-bocah special needs ini. Menurut saya kerja untuk ABK adalah kerjaan yang sangat meaningful dan fulfilling. Dan saya merasa berada di tempat saya, seakan-akan memang dari awal ini yang harusnya jadi bagian dari hidup saya. Tapi sayangnya, hal-hal terjadi yang membuat saya resign awal November tahun lalu. 

Saya dan ABK binaan di non-profit


Nah, sahabat-sahabat saya tahu kalau saya sukaa sekali ngurusin ABK. Jadi saya dikasihlah info lowongan pekerjaan yang masih merepet-merepet ke sana. Salah satunya adalah lowongan jadi guru special needs di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Saya mikir lumayan lama sewaktu saya dapat info. Saya ngga punya latar belakang pendidikan yang sesuai (mereka minta lulusan psikologi atau Pendidikan Luar Biasa), saya ngga punya pengalaman mengajar juga. Tapi saya putuskan kepalang nekat saja. Jadilah saya masukkan lamaran saya lewat email. Saya nulis panjang lebar luas di cover letter saya tentang gimana saya selalu suka ngajar. Dan gimana saya telat nemuin passion saya. Dan sesuka apa saya sama ABK sampai kenapa saya mau kerja untuk mereka. 

Tapi dasar bocah, setelah email saya kirim, saya baru sadar kalau di email itu saya ngga nulis kalau saya pernah nanganin ABK, ha! Alhasil saya kirim lagi email baru dengan cover letter baru yang ngejelasin bahwa saya pernah kerja untuk ABK dan jenis gangguan apa saja yang pernah saya temui. Sungguhan, malu maksimal kala itu. Saya bener-bener ngerasa nggak ada harapan. Nggak berharap akan dihubungi balik karena kebodohan saya itu.

Nggak boleh emang menghitung anak ayam sebelum mereka netas.

Saya dipanggil buat wawancara. Sekitar akhir Februari jadwalnya. Saya super senang dong. Selain karena itu adalah panggilan wawancara pertama saya setelah nganggur kurang lebih tiga bulan. Rasanya seolah ada harapan? Hahaha so dramatis. Waktu itu saya berangkat ke Jakarta dengan bahagia. Sungguhan bahagia, meski cuma untuk interview. Saya bilang ke diri sendiri supaya jangan besar kepala dan harus jaga ekspektasi. Dijalani dengan santai aja dan harus terima kalau nggak diterima.

Waktu itu group interview. Dalam grup saya ada empat orang interviewee. Tiga orang selain saya semuanya lulusan psikologi UI. Hahaha saya jiper parah. Apalagi salah satu udah jadi shadow teacher juga. Beneran ngerasa salah tempat. Tapi interview-nya berjalan lancar buat saya. Saya berusaha ngejawab semua pertanyaan sejujur-jujurnya, tanpa pemanis apapun. Sebisa mungkin, saya juga tunjukkan semangat belajar saya (because honestly, at that point, my will to learn is the only appeal I have). Dan saya super senang karena ibu-ibu interviewer juga cerita pahit-pahitnya jadi guru. Apa yang harus diekspektasikan (murid yang sulit misalnya) dan apa yang jangan diekspektasikan (gaji tinggi, misalnya). Dari obrolan singkat itu (well, it does feel like a talk rather than an interview) saya belajar super banyak. Dan saya ngerasa bahwa sekolah ini punya value yang sejalan sama prinsip saya. Saya senang dikasih kesempatan ngobrol, dan saya agak sedih karena ngerasa mungkin itu terakhir kalinya saya akan ngobrol dengan para ibu itu, jadi saya berusaha menyerap banyak ilmu.



Seminggu, dua minggu setelah interview, saya belum dihubungi. Jujur saya cemas karena buat saya kabar, buruk sekalipun, sejuta kali lebih baik dari tidak ada kabar. Minggu ketiga setelah saya udah pasrah, saya dapat undangan untuk melakukan demo teaching. Rasanya? Ecstatic! Beyond happy. Soalnya saya akhirnya bisa ngelihat sendiri value sekolah ini at practice. In their everyday live. Langsung. Otomatis saya siapkan demo teaching ini sebaik-baik yang saya bisa. Saya luangkan seminggu di Jakarta. Dua hari untuk observasi sebelum demo, dan hari-H demonya. Super gugup, tapi menanti-nanti juga.

Sebelum saya berangkat, saya sudah dikasih list, saya akan demo teaching di mana, ngajar apa, dan siapa aja nama muridnya.

Sekolah ini sekolah inklusi dengan kelas reguler untuk early education, primary, middle school, dan high school. Tapi juga punya departemen special needs. Departemen ini punya empat unit: dua untuk usia SD dan dua untuk usia SMP-SMA. Di setiap jenjang usia dibedakan lagi unit untuk anak yang High Function dan High Support. Dari empat unit ini, saya diminta demo di tiga unit. Belakangan aja saya baru tau kalau nggak semua kandidat diminta demo di lebih dari satu unit. Mungkin mereka lihat potensi saya di tiga unit. Atau mungkin mereka lihat saya nggak punya potensi menonjol makanya dicobain di tiga unit HAHA. 

Demo teaching ini cerita seru lagi. Meski saya udah dua hari observasi, saya tetap kalang kabut waktu hari-H demonya. Terutama di salah satu unit yang saya diminta untuk dongeng. Pingin nangis rasanya hahaha. Di unit lain saya ngajar IPA dan beneran harus kreatif mengubah objektif pelajaran. Di unit terakhir, saya ngajar bahasa inggris. Jauh lebih lancar meski tetap kalang kabut karena kondisi kognisi muridnya beda satu sama lain, jadi kecepatan mengerjakannya juga beda. Waktu demo ini ibu-ibu yang punya departemen special needs tahu kalau saya dari Surabaya dan ke Jakarta cuma untuk ini. 

Sebulan lagi berlalu. Saya ditelpon Ibu Kepala Departemen, beliau bilang kalau beliau sebenernya suka sama saya. Tapi ternyata jumlah murid belum memerlukan guru baru (karena ada murid yang keluar), jadi saya diminta menunggu sampai murid baru kembalikan formulir daftar ulang. Kejadian ini sekitar bulan April. Kalau dipikir sekarang, saya berterima kasih sekali dikabari, nggak digantung tanpa hasil.

Akhirnya saya menunggu..

Sambil tunggu, saya cari-cari lowongan lain. Tapi waktu itu, saya sudah masuk terlalu dalam. Hahaha. Saya sudah ketemu anak-anaknya, saya sudah tahu sedikit budayanya, saya ngobrol sama guru-gurunya.. Dan buat saya, semuanya seakan memang bagian dari saya. Begitupun sebaliknya. Meski saya apply ke tempat lain, setiap saya kirim email, hati saya selalu bilang tapi saya mau ngajar di tempat yang itu. Meski saya berusaha legowo dan merelakan, menganggap muridnya memang nggak butuh guru baru, saya tetap nggak rela.

Dan terjadilah.

Berkah ramadhan memang. Awal bulan Mei. Saya ditelpon lagi, dikabari bahwa saya diterima. Bahwa muridnya bertambah dan mereka butuh guru baru. Bahwa mereka butuh saya. Bahwa saya sekali lagi akan terbang ke Jakarta untuk bertemu anak-anak yang sudah nempel di hati saya sejak hari pertama saya lihat mereka.

Keluarga baru saya!

Super nggak mudah, sungguhan. Menunggu. Banyak galaunya. Banyak sedihnya. Sejak bulan februari saya kirim email itu, sampai akhirnya mei saya diberi job offer. Dan juli ketika saya beneran mulai masuk. Selama delapan bulan menganggur, hampir enam bulan saya habiskan untuk menunggu. Tapi ujung penantiannya beneran membuat bahagia. Saya bisa bilang kalau satu setengah bulan saya di sini adalah salah satu masa-masa paling bahagia saya. 

Jadi untuk yang sedang menunggu, atau yang belum tahu harus melakukan apa dengan hidup, atau yang merasa nggak berharga untuk dapat sesuatu, percayalah kalau pada waktunya semua akan baik-baik saja. Mungkin bukan baik seperti yang kita bayangkan, tapi toh tetap baik. Jadi jangan terlalu keras sama diri sendiri. Puk puk diri sendiri itu penting. Berprasangka baik terhadap hidup itu penting. 



Dan yang paling penting, setiap orang punya garis waktunya masing-masing! Selamat menunggu :)

Tuesday, 23 April 2019

Life: Episode Buku

Setiap kali ditanya, apa hobinya? Saya nggak pernah ragu buat jawab, "baca buku!". Meskipun belakangan ini malu ngakunya karena udah jarang sekali baca buku. Tetap, buku jadi bagian yang sangat sangat penting dalam membentuk identitas saya.

Rak buku saya yang super penuh dan debuan. Isinya sekitar 200 buku.


Sejujurnya, saya nggak pernah ingat apa buku pertama yang saya baca atau apa buku pertama yang saya pilih sendiri. Orang tua saya berulang kali selalu bilang, "Bawa Tari keluar selalu ngerepotin karena dia ngerengek minta pulang. Kecuali kalau dikasih buku, pasti langsung diem." hahahaha. Punya dua orang tua yang kerja sebagai guru mungkin jadi faktor utama kenapa saya suka sekali sama buku. Dari kecil, suplai buku saya nggak pernah berhenti.  Selalu ada aja yang dibawa orang tua pulang. Dan isinya selalu macam-macam, mulai dari cerita detektif, dongeng, fabel, sejarah, sampai buku percobaan sains. Hampir semuanya dibawakan bukan untuk dipunyai, cuma lewat saja, minjam dari perpustakaan. Waktu itu, beli buku adalah kemewahan, dan keluarga saya belum punya kemewahan itu.

Paling ingat sewaktu dibelikan set buku dongeng lengkap sama istana kertasnya. Ada dua belas buku! Dan semuanya nggak perlu dikembalikan karena itu punya kami. Waktu itu saya belum bisa baca. Tapi saya suka minta dibacakan sama kakak atau orang tua. Lantas ceritanya saya teruskan ke teman-teman di rumah. Harap dicatat ya, saya belum bisa baca, jadi saya cuma bluffing aja pura-pura baca. Padahal saya hafal ceritanya, atau nggak, saya karang sendiri berdasarkan gambarnya. Teman-teman saya percaya aja tuh. Akhirnya, waktu saya umur empat tahun (kira-kira) dan mulai bisa baca sendiri, saya tercenung-cenung karena akhirnya tau cerita dongeng yang benar, bukan karangan, hahaha. Mungkin karena saya segitunya suka buku ya, akhirnya di antara teman-teman, saya yang paling cepat bisa baca. Dan saya pilih-pilih kalau sayang sama keluarga besar berdasarkan ada buku di rumahnya atau tidak. Logika anak kecil.

Salah satu buku pertama yang saya baca sebelum masuk SD


Waktu saya SD, saya mulai ketemu beberapa teman yang hobi baca juga. Biasanya kami nongkrong di perpustakaan sepulang sekolah. Sekolah saya ada di pinggiran Surabaya, jadi akses ke perpustakaan daerah cukup sulit, adanya ya perpustakaan sekolah yang bukunya terbatas sekali. Saya masih ingat buku favorit saya dulu judulnya SIM-B, ceritanya tentang anak yang ingin pelihara binatang tapi nggak boleh sama ibunya. Jadi dia lampiaskan lewat hobi koleksi figur dinosaurus. Saya jadi tau banyak tentang dinosaurus dari buku itu. Akhirnya ibunya ngasih anak ini SIM-B, Surat Izin Memelihara Binatang, dan si bocah pelihara iguana karena mirip dinosaurus.

Waktu SD juga saya mulai kenal sama komik. Detektif Conan jadi komik pertama yang saya baca. Sungguhan deh, dulu saya iri sekali sama teman yang bisa koleksi Conan. Kerjaan saya kalau nunggu jemputan adalah ke rumah temen saya itu dan nimbrung baca Conan berjam-jam. Waktu kelas 3-4 juga saya masuk siang, sehingga paginya saya ikut bapak ke tempat beliau ngajar. Biasanya saya di perpustakaan, baca buku meski sebagian besar isinya buku pelajaran. Saya paling suka baca buku bahasa dan PPKn waktu itu.

Koleksi komik saya yang super sedikit, ini pun dikasih teman set miiko-nya.


Waktu SMP saya sekolah di pusat surabaya. Ketemu teman-teman yang punya privilege untuk mengakses buku dengan mudah karena jarak dan uang, membantu saya tahu lebih banyak tentang buku-buku populer. Perpustakaan sekolah juga jauh lebih besar dibanding waktu SD dan saya suka kabur ke perpustakaan dibanding ikut class meeting. Kartu perpustakaan saya penuuuh sekali dulu. Dan saya selalu bangga kalau saya pinjam buku yang jarang dipinjam orang. Waktu SMP inilah saya mulai baca novel klasik, mulai dari karya Arthur Conan Doyle, Marga T, NH Dini, Hilman, sampai buku-buku yang muncul potongannya di buku pelajaran macam Siti Nurbaya. Saya juga mulai berani beli buku sendiri dengan nabung (mengingat saya boros, ini patut dicatat sebagai prestasi!). Masih ingat dulu saya bela-belain jalan kaki ke kios di Tidar buat beli naruto atau conan.

Saat SMA minat baca saya mulai turun. Bukan cuma karena saya lebih senang ikut kepanitiaan, tapi juga karena buku pertama yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah, saya kembalikan di hari saya lulus, makanya saya takut sekali masuk perpustakaan sekolah. Kalau dipikir sekarang, mungkin juga saya malas baca buku waktu SMA karena saya mati-matian belajar. Kalau sebelumnya waktu belajar saya pakai buat baca buku, waktu SMA, saya belajar aja masih nggak paham. Tapi saya ketemu sama lebih banyak teman yang suka baca dan dikenalkan dengan aliran-aliran pop macam Ika Natassa, Ayu Utami, Andrea Hirata, dan kawan-kawan.

Dua bagian rak yang isinya buku-buku paling favorit saya.


Kemudian waktu saya duduk di bangku kampus dan mengalokasikan keuangan saya sendiri, saya baru mulai liar beli buku. Kalap. Sungguhan. Sebagian besar buku yang saya beli adalah buku-buku yang dulu pernah saya baca dan saya suka sekali. Sebagian alasannya karena saya payah dalam pilih buku tanpa rekomendasi, sebagian lagi karena saya ingin koleksi buku-buku pinjaman yang dulu saya sayang.

Buku paling tua yang saya punya. Beli di braga karena iseng.


Jadilah sampai sekarang koleksi buku saya nggak banyak-banyak amat untuk ukuran orang yang suka baca buku. Dan semakin ke sini saya juga semakin jarang baca buku karena main hp dan baca fanfiction lebih seru. Banyak buku-buku saya yang belum saya baca, padahal setiap hari mereka lambai-lambai tanpa dosa minta dibaca. Tetap, sampai sekarang pun saya belum selesai memburu buku-buku lama yang dulu membuat saya ter-aah dan ter-oooh. Saya masih bercita-cita untuk bisa koleksi buku, minimal sebanyak buku Yusaku Kudo. Supaya nanti anak saya bisa punya privilege baca buku tanpa khawatir, dan tanpa batas.

Jadi begitulah, kenapa sampai sekarang saya selalu bilang hobi saya baca meski sudah sangat jarang dilakukan. Karena kalau dilihat ke belakang, saya nggak pernah suka sesuatu sampai sebegininya saya suka sama buku. Dan ketika ada teman yang menjadikan buku adalah bagian dari identitas saya, saya bangga luar biasa.

Saya lagi suka nitip dibelikan buku dongeng lokal kalau ada teman yang lagi di luar negeri


Untuk semua yang suka buku juga, selamat hari buku sedunia!

Monday, 14 May 2018

Life: Episode Wisuda

Halo!
Ceritanya malam ini saya sedang bersihin folder-folder di laptop supaya lebih rapi. Terus saya nggak sengaja buka folder foto-foto wisuda. Jadi mikir banyak sih hahaha.

Yang pertama, wah time did fly so fast. Foto-foto wisuda ini diambil bulan Agustus 2016, hampir dua tahun yang lalu. Saya jadi mikir lagi, kok rasanya baru minggu lalu ya wisuda? Saya sudah buat apa saja di kehidupan paska-kampus saya? Sudah sejauh mana saya menjalani mimpi-mimpi yang saya gantung dulu? Ternyata semakin usia kita nambah, waktu benar-benar jadi hal yang luar biasa berharga. Apalagi saya lihat-lihat fotonya sambil mikir, si A dan si B yang saat itu foto sama saya sekarang di mana ya, kabarnya bagaimana ya. Padahal baru dua tahun ya, tapi sudah banyak yang lepas kontak :"

Renungan yang terlintas lagi adalah, wow, so so so many people care about me. Dan saya selalu lupa bersyukur untuk itu. Di foto-foto wisuda saya (diambil oleh adik saya yang suka candid), banyak sekali terekam wajah-wajah hangat dan pelukan-pelukan erat. Sungguhan deh, saya merasa disayang sama banyak orang. Bukan tentang banyaknya bunga dan hadiah yang saya dapat ya (meski saya juga suka bagian itu), tapi tentang ucapan perpisahan dari junior-junior, senior-senior, bahkan rekan kerja yang hanya pernah saya temui beberapa kali. Rasanya seolah saya memang bagian dari hidup mereka, seolah saya memberikan manfaat (meski sedikiiit sekali) di kehidupan-kehidupan lain.

Gosh, I really should be grateful... 

Pelajaran moralnya, buat kalian yang merasa nggak berguna dalam hidup atau merasa nggak disayangi sama siapapun, kita nggak akan pernah tahu. Kita nggak akan pernah tahu siapa yang melihat kita saat berbuat apa. Kita nggak akan tahu kita membantu orang dalam bentuk apa dan seberapa besar kehadiran kita ternyata bermakna buat orang lain. Jadi be kind, for everyone we meet is fighting a hard battle (Ian McLaren). Jadi kita harus baik sama orang, nggak peduli apa, karena kita nggak tahu kapan kebaikan itu bakal balik ke kita. Kita nggak tahu kapan hidup kita ternyata bisa jadi inspirasi buat orang lain, sehina apapun hidup kita. Seperti kata Lee Hwi In dalam bukunya A Traveler's Read, someone's life may become another's scenery.

Yang terakhir, lihat-lihat foto kampus emang selalu bikin kangen berat!







Saturday, 18 November 2017

Life: Episode Lomba Orasi

Jadi, tiba-tiba saya ingat cerita ini.
Dulu, waktu saya masih SMA (wow, it has been that long?) saya ikutan lomba nulis esai plus orasi. Jadi intinya peserta harus tulis esai di pleminary, terus sepuluh besar akan diumumkan untuk orasi. Kebetulan saya masuk sepuluh besar dan harus orasi. Di tempat orasinya, disediakan microphone untuk para orator. But being a stubborn person I am, I refused to use the mic and instead, I showed off my ability to be loud and clear without mic. 

Tahu apa yang terjadi?

Ada tiga juri di sana. Sementara yang dua muji-muji saya, satu juri ini bilang dengan lembut, "Saya salut sama kamu yang mencoba untuk berbeda. Tapi akan lebih baik kalau kita tidak sombong dan bisa memanfaatkan semua resource yang ada".

And that stirred up my mind. Nempel di otak saya sampai sekarang.

Tuesday, 28 March 2017

Life's Episode

Selamat datang di labeled-series terbaru~
Seri ini saya buat karena banyak kejadian hidup saya yang menyenangkan, dan punya pelajaran. Dan karena saya tidak mau lupa, maka disinilah episode-episode hidup saya, saya arsipkan ^^

Selamat bersenang-senang~

Life: Episode SNMPTN

Tahun 2012 kemarin, saya adalah peserta SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya nggak tahu apa namanya sekarang, yang jelas itu adalah seleksi tulis se-Indonesia untuk bisa masuk ke PTN. Karena pada tahun itu nggak semua siswa bisa dapat kesempatan untuk undangan, dan saya sadar diri karena nilai-nilai SMA saya sungguh memalukan, saya mencurahkan semua fokus saya untuk SNMPTN.

Maka tibalah hari-hari menjelang SNMPTN. Banyak try out sudah saya ikuti, saya belajar benar-benar karena saya ingin sekali masuk komunikasi UI. H-1 SNMPTN, saya diantar oleh ayah saya pergi ke UNESA (tempat saya tes). Disana, saya mencari benar-benar gedung tempat saya tes, ruangannya, bahkan saya mengukur waktu yang dibutuhkan dari rumah menuju ke UNESA, dan saya memeriksa kamar mandi terdekat dari ruangan saya dan sebagainya dan sebagainya. Intinya, saya benar benar tidak mau terlambat dan tanpa persiapan.

Saat hari-H tiba, saya masuk dengan tenang, tanpa panik. Saya tahu dimana gedung dan ruangan saya. Saat tes pertama (tes kemampuan dasar dan TPA), saya mengerjakan dengan baik-baik saja. Hingga tiba-tiba di tengah ujian itu, saya ingin ke kamar mandi. Bayangkan, ingin buang air kecil di tengah-tengah ujian yang tidak diizinkan keluar sama sekali. Konsentrasi saya seketika buyar. Alih-alih mengerjakan soal, konsentrasi saya justru saya curahkan pada bagaimana caranya supaya saya bisa menahan pipis. Sepuluh menit........ Dua puluh menit......

Dan tiba-tiba

.....

Ada suara aliran air, dan kepala-kepala peserta ujian yang menengok.

Termasuk saya

Seorang perempuan, duduk di arah jam 11 saya, mengompol begitu saja. Di ruangan. Saat ujian masuk perguruan tinggi. Tanpa kata.

Seketika itu juga, keinginan saya untuk ke kamar mandi hilang. Terima kasih, mbak.

Nb: ketika pengumuman SNMPTN di koran, saya hitung nomor ujian si mbaknya, dan ternyata dia tidak lulus :( Yang tabah ya mbak.

Life: Episode Cuci Karpet

Cerita ini tentang episode hidup saya saat berumur 6-15an tahun. Dulu, rumah saya hanya bangunan yang kami fungsikan sebagai tempat makan dan tidur. Orang tua saya, keduanya guru, dan dengan penghasilan (yang saat itu) tidak seberapa, serta (saat itu) dua anak yang harus disekolahkan, rumah kami benar-benar tidak seperti rumah.

Di ruang depan, yang kami fungsikan sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, sekaligus tempat tidur, tidak ada sofa, yang ada hanya sebuah karpet seperti karpet masjid zaman dulu. Besaaar, ada dua lapis, yang dibawah berwarna merah, dan yang diatas berwarna abu-abu. Karpet itu, sejauh saya mengingat, sudah ada bersama rumah kami. Dan setiap hari permukaan karpet itu hanya dibersihkan seperlunya. Bayangkan berapa banyak debu dan rambut yang berkumpul disana. Hahaha.

Jadi karena karpetnya besaar sekali, bagaimana kami membersihkannya? Karpet itu mungkin hanya kami cuci dua kali setahun. Setiap hujan lebat. Karpet super besar itu kami keluarkan dan kami bentangkan di jalan (yes, you read it right. Di jalan). Kemudian saya dan ayah saya akan hujan-hujan sambil mencuci karpet. Menggunakan air hujan, sikat cuci baju, dan sabun cuci. Karpetnya besar sekali sehingga biasanya baru akan selesai setelah dua jam kami hujan-hujan.

Sekarang, bertahun-tahun setelah rumah kami renovasi dan ruang depan kami tanpa karpet, saya tidak tahu kemana karpet legendaris itu pergi :( kadang, rindu rumah adalah mengingat sesuatu sesederhana mencuci karpet di tengah hujan bersama ayah.

Nb: that was the only photo of me and my dada alone that I can find~ I cannot find the photo of that big carpet too~ Nor the photo of our old home~