Pages

Showing posts with label Seri Hortensia. Show all posts
Showing posts with label Seri Hortensia. Show all posts

Friday, 11 November 2016

Seri Hortensia #8: Para Pengacau Kehidupan

Halo, kalian orang-orang nggak waras dan nggak tahu terima kasih :))
Alkisah, ada sembilan manusia ajaib yang berkumpul untuk bersama-sama membangun rumah. Masing-masing tahu kalau bangun rumah itu berat dan capek, tapi masing-masing tetap mau berpartisipasi. Tahun terakhir saya di BEM ditemani oleh mereka berdelapan ini. Tertawa ngegosipin orang dari pagi sampai pagi lagi, serius mikirin gimana BEM ke depannya setiap malam, berdarah bareng dan nangis dalam diam, makan makanan sampah sambil rapat nggak karuan, saling ejek dan hina, seru-seruan bareng secara virtual maupun di dunia nyata. Semuanya bersama delapan orang ini, sepanjang tahun.
sok sosialita kekinian

Tampang Ngeselin


Friday, 2 September 2016

Seri Hortensia #7: Rumah Saya di Kampus

Tiga dari empat tahun masa kuliah saya habiskan di Takor lantai dua. Dan keluarga besar BEM FISIP UI, lebih dari layak untuk mendapatkan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Seri Hortensia #6: Mereka Yang Berisik

Awalnya entah dari apa. Ada sebuah group chat berisi 31 orang. Ada yang curhat tiap hari, ada yang datang cuma buat di-bully, ada yang kerjaannya nge-kick orang di grup, ada yang jadi orang bijak penuh nasehat, ada yang jualan baju renang, ada yang cantik luar biasa, semuanya ada. Nama grupnya JIP. kepanjangannya apa kami sudah lupa. Sejak 8 Juli 2013, nama grupnya sudah beribu kali berubah (sekarang namanya simply JIP), icon grupnya juga sudah berjuta kali berubah (sekarang gambar rektorat). Tapi isinya tetap sama, berisik, dan hangat.

Untuk Alvin, Anom, Nisa, Bob, Abang Tian, Dean, Elisa, Ellya, Gandes, Gea, Umik Vanya, Wika, Aya, Naya, Bela, Olvy, Ranyo, Rayhan, Enok, Reza, Glo, Tiffany, Un-chan, Yobo, Kakyay, Mamih Ira, Bebe, Sarpal, Diaz, dan teteh Refa, terima kasih ya. Selama tiga tahun ini sudah berisik sekali, sudah jadi salah satu sumber kehidupan dan semangat. Maafin suka gak nyaut di grup. Tapi aku sayang kalian kok. Sungguhan. Makasih ya buat semuanya. Jangan sepi karena udah pada kerja :(



Aku sungguh berterima kasih

6. Sahabat-sahabat berisik di JIP, orang-orang yang selalu mengingatkan untuk tersenyum di kala beban sudah terlampau berat. Terima kasih untuk tiga tahun ini, obrolan informatif hingga gosip-tak-laku-di-pasaran kita akan tetap berlanjut kan?

Seri Hortensia #5: Tiga Puluh Dua Schramm Muda

Dua (dan setengah) tahun dari empat tahun kuliah saya, diramaikan oleh orang-orang ini. Ada tiga puluh dua orang dalam satu kelas Kajian Media. Kami dipertemukan dalam kelas, berbagi kecintaan pada diskusi dan ilmu pengetahuan, dan sama-sama gila karenanya. Mulai dari diskusi ala-ala Habermas, Zizek, Marx, dan pemikiran-pemikirannya; kritik-kritik sosial dalam kajian budaya; pusing-pusing ria mengutuk kapitalisme media dalam ekonomi media; dan banyak kelas-kelas lain dimana kami bersama-sama, tidak takut melihat dunia melalui sisi yang berbeda.



Kami, bersama-sama, dicap sebagai orang-orang nerd komunikasi namun dalam waktu bersamaan kami bersama menjadi orang-orang pemalas yang tidak pernah baca di hadapan dosen. Hanya kami yang tahu bahwa sesungguhnya kami hanyalah makhluk-mahkluk haus diskusi yang akan menyambar apa saja sebagai bahan bicara: mulai dari kuntilanak dan feminisme, hingga sidang kasus sianida yang tak kunjung usai. Group chat kami tak pernah sepi dengan ilmu baru. Dan selama dua (setengah) tahun ini kami saling tolong untuk meyakinkan bahwa kami bertahan bersama. Saling menguatkan idealisme masing-masing dan merasa bodoh bersama. Karena sesungguhnya, mereka yang merasa bodohlah yang akan terus mencari pengetahuan.



Dan untuk itu, saya berterima kasih.

5. Rekan sejawat Kajian Media yang menjadi keluarga sekaligus partner kritis selama dua setengah tahun kita bersama-sama. Untuk Ridho, David, Vira, Emil, Wika, Nadia, Chika, Yoan, Finka dan Nisa yang mengangkat toga lebih dulu. Untuk Ajet, Afifah, Artika, Afit, Dika, Annis, Bahrul, Abang Tian, Dwi, Gea, Cece, Aya, Rangjod, Subhan, Neil, Ellya dan Carnis yang sudah sama-sama panik setiap mendekati tenggat skripsi ini. Juga untuk Dinda, Edu, dan Alvin yang akan menyusul semester depan. Terkhusus Scholastica Gerintya yang menjalani susah senang bimbingan bersama-sama.

Seri Hortensia #3: Muara Karya Saya

Namanya Leila Salikha Chudori. Beliau sudah menulis banyak cerpen dan novel dan skenario film. Pulang, novel pertama beliau mengenai nasionalisme, adalah novel yang saya gunakan dalam skripsi saya. Novel ini saya analisis dan saya bedah, saya kaitkan ideologi Leila dengan isi novelnya.

Skripsi saya bisa jadi cuma analisis dangkal mengenai novel beliau. Tapi saya boleh bangga, karena, sejauh yang saya tahu, skripsi saya merupakan karya ilmiah pertama yang membahasa Pulang melalui mata feminisme. Dan untuk itu saya sangat berterima kasih pada Leila Chudori yang telah melahirkan karya ini sedemikian luar biasa yang mengajarkan saya, bukan hanya bagaimana menjadi seorang Indonesia, tapi juga menjadi seorang perempuan.

3. Leila S. Chudori, seorang penulis, jurnalis, dan perempuan penuh pengabdian yang memperkenalkan saya kepada sejarah, pewayangan, nasionalisme, keluarga, cinta, dan hakikat mencari rumah melalui Pulang. Terima kasih untuk karyanya yang mengendap dalam hati saya, skripsi ini saya dedikasikan untuk karya Anda yang luar biasa itu.

Seri Hortensia #4: Keluarga Departemen Ilmu Komunikasi

Tahun 2012, saat SNMPTN, saya memilih S1 Reguler Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama sekolah tinggi saya. Dan ternyata, semesta memang mengizinkan saya kuliah disini.



Thursday, 25 August 2016

Seri Hortensia #2: Ibunya Komunikasi

Buket hortensia yang kedua, saya berikan pada Ibundanya Komunikasi UI. Namanya Endah Triastuti, kami simply mengenalnya sebagai "Mbak Titut". Mbak Titut ini penguji saya. Beliau Kepala Program Sarjana Komunikasi, dan beliau adalah dosen yang meninggalkan banyak kenangan selama empat tahun saya berkuliah.

Kelas spesial kajian budaya


Kalau membicarakan Mbak Titut, yang paling saya ingat adalah satu hari kelas Kajian Budaya dimana kami diminta untuk memakai pakaian yang tidak semestinya dipakai oleh mahasiswa. Hari itu, teman-teman kajian media saya benar-benar seperti serombongan cosplayer. Dan menyenangkan sekali mengamati respon orang terhadap cosplay kami.

Mbak Titut yang sering saya temui dalam mata kuliah kajian media, yang mengajarkan bahwa, "dalam penelitian kualitatif, ya kita, peneliti adalah tools-nya. Kalau penelitinya nggak tajam, nggak cerdas, ya jangan harap penelitiannya akan baik". Yang selalu mengingatkan bahwa kita harus memandang segala fenomena sosial dengan God-Eye-View alias harus luas dan lihat ke segala arah. Yang selalu meminta kami untuk baca dan baca dan baca sebelum masuk kelas, untuk terlebih dahulu menjadi pelaku media, bukan hanya analisnya saja. Siapa yang sangka Mbak Titut yang itu yang akan menjadi pembimbing saya. Sungguh saya takut sekali, kali pertama saya dengar kabarnya.

Tapi yang namanya ibu tetap ibu, di ruang sidang sekalipun. Saya bersyukur sekali, sidang yang saya hadapi bukan menjadi ajang keras kepala dan arogansi tulisan yang saya buat. Sebaliknya, sidang saya justru menjadi ajang saya untuk mulai melihat dunia sebagai seorang perempuan. Dan yang terpenting, menjadi ajang bagi saya untuk berani mengapresiasi apa yang saya kerjakan. Sungguh, saya bersyukur diberikan penguji yang begitu hangat, dan menyempurnakan skripsi saya.

Dan untuk itu, saya berterima kasih.

2. Clara Endah Triastuti, ibu satu anak, seorang perempuan, seorang dosen, sekaligus Penguji Ahli yang telah meminjamkan kacamata pengetahuannya pada saya untuk melihat hal-hal yang luput dalam skripsi ini. Untuk semua kekurangan skripsi ini yang Mbak tunjukkan, juga untuk kelebihan skripsi ini yang Mbak apresiasi, sungguh, saya ucapkan terima kasih banyak.

Seri Hortensia #1: Ibu Yang Terlambat Saya Temukan

Buket hortensia yang pertama, ceritanya saya berikan pada seorang perempuan berambut pendek yang anggun sekali. Namanya Billy Sarwono (gelarnya Profesor) yang saya panggil dengan "Mbak Oni" saja. Meski banyak orang manggil beliau Bu Oni. (Di pogram sarjana FISIP UI, ada tradisi memanggil dosen dengan sebutan mbak dan mas, seberapa pun jauh jarak umur antara dosen dan mahasiswa).

Mbak Oni ini, cerdas sekali. Dan baik luar biasa. Saya masih ingat loh, bimbingan pertama, beliau bilang begini pada saya, "Bestari, coba deh kamu tulis apa yang mau kamu tulis. Nggak perlu dikhawatirkan kajian ilmiahnya, teori siapa, sumbernya dari mana. Tulis aja dulu kamu sebenarnya mau ngapain sih? Kalau kayak begini namanya tayloring. Kamu ambil teori-teori terus kamu jahit jadi satu di tulisan kamu. Saya jadi nggak dapet maksudnya apa. Tulis aja dulu, bebas. Nggak perlu ilmiah. Nanti kalau kamu sudah bisa menuangkan apa yang mau kamu tulis, baru saya bantu mengilmiahkannya."

Dalam bimbingan-bimbingan selanjutnya pun, Mbak Oni nggak kalah baik. Beliau benar-benar bantu brainstorming sampai bantu cari metode, kasih pinjam buku-buku, nge-chat saya duluan, telpon saya, dan bahkan mengizinkan saya datang ke rumahnya untuk bimbingan. Yang paling bikin tersentuh, H-1 sidang saya, beliau minta saya ke rumah beliau. Di rumah beliau, kita "simulasi" sidang. Mbak Oni bertanya dan eksplorasi skripsi saya dan saya coba jawab. Terharu sekali, merasa dibimbing dengan segala keilmuan yang dicurahkan buat saya, mahasiswa cupu S1 yang nulis saja masih jelek sekali. Padahal Mbak Oni yang sudah profesor juga membimbing mahasiswa S2 dan S3. Tapi beliau selalu berusaha menjadi pembimbing yang baik tanpa menyepelekan satu mahasiswa pun. Saya merasa beruntung mendapat pembimbing semenyenangkan Mbak Oni.

Dan untuk itu, saya berterima kasih.

1. Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A. selaku pembimbing skripsi saya, yang membantu proses berpikir dan pengembangan diri saya selama melahirkan skripsi ini. Untuk semua waktu yang Mbak berikan di sela kesibukan sebagai seorang perempuan dan akademisi yang hebat; untuk semua kehangatan obrolan dan kepedulian Mbak, baik di Depok, di Salemba, hingga di teras rumah yang menyenangkan di Pasar Minggu, saya ingin mempersembahkan skripsi ini untuk waktu-waktu tersebut. Saya belajar banyak, Mbak. Terima kasih.

Seri Hortensia: Awal


Salah satu bahasa bunga dari hortensia (hydrangea) adalah terima kasih. Dan melalui rangkaian pos berjudul seri hortensia ini saya mau ngucapin terima kasih untuk beberapa orang yang selama beberapa bulan dan beberapa tahun ini berkontribusi untuk kelahiran anak saya: skripsi setipis delapan puluh satu halaman berjudul Studi Semiotika Roland Barthes terhadap Karya Penulis Perempuan Indonesia (Menilik Ideologi Posfeminisme Leila S. Chudori dalam Novel Pulang). 

Dikarenakan halaman ucapan terima kasih di skripsi yang terbatas sekali, dan berhubung hari-hari ini dekat dengan pekan wisuda, saya ingin mengabadikan rasa terima kasih saya pada orang-orang ini lewat setiap pos seri hortensia. Semoga kalian baca yah~

Enjoy