Sudah enam bulan ya.. Lulus SMA... Entah apakah tempat ini sedemikian suck-nya, atau karena kalian sedemikian irreplaceble-nya, atau karena hati ini yang berpenyakit sehingga selalu gagal move-on. Selalu terpaku di tempat yang sama, mencoba mengulang. Meski sang waktu terlalu jahat untuk membiarkan kita menyimpan segalanya hanya sebagai kenangan.. Cuma sebatas kenangan
"Karena itulah, cinta, kenangan.. Karena hal-hal itulah manusia dapat bertahan hidup"
Dan mungkin, aku dapat bertahan hidup disini, karena dasar kenangan-kenangan yang terekam dalam kepalaku. Karena dasar cinta yang sedemikian besarnya dalam hatiku. Terhadap tempat itu, terhadap kalian. Mungkin aku berhasil bertahan disini, karena ada ilusi yang terus mendorongku untuk merubah tempat ini menjadi seperti disana, atas dasar kenangan.
"Mencintai berarti kita jadi tergerak untuk melakukan sesuatu yang baik, yang terbaik. Membuktikan kalo kita baik. Mencintai itu berarti bakal ada perubahan seiring cinta yang semakin besar. Ada pengorbanan untuk meninggalkan beberapa hal. Nggak masalah in the end bakal memiliki atau tidak, tapi energi positifnya ada. Karena ketika kamu memberi cinta, kamu akan menerima sama besarnya. Cuma kamu gak bakal tahu bakal nerima dari siapa"
Aku cinta tempat itu. Orang orang di dalamnya. Bau hujannya. Desir anginnya. Semuanya. Setiap sudut tempatnya dan setiap waktu yang kulalui disana. Banyak penyesalan yang tertinggal. Cukup banyak hingga nggak bisa disebutkan di sini. Cukup banyak hingga aku ingin mengulangnya sekali lagi.
Tapi secinta apapun aku. Sesusah apapun untuk pergi dan beranjak, karena hatiku tertinggal disana, sebagai kenangan sudah cukup kan? Dibukukan dalam memori sudah cukup kan? Dan kurasa aku akan mampu bertahan disini dengan memori tentang kalian. Iya, kalian. Yang aku cintai sepenuh hati.
Kalian, yang memberi cinta sama besarnya pada makhluk hina ini, memberiku arti.
Wednesday, 30 January 2013
Wednesday, 19 December 2012
To You
Nggak kerasa ya, sudah Ujian Akhir Semester aja tiba-tiba. Berarti secara akademis, sudah satu semester disini. Jadi orang Depok. Jadi mahasiswa. Sudah satu semester, tapi grup whatsApp nya masih ramai sekali. Sudah satu semester tapi masih suka bercanda. Masih sering cerita. Tempat itu masih jadi tempat sampah cerita kehidupan. Sudah satu semester tapi entah kenapa still dare to care. Masih mengikuti perubahan yang terjadi. Turut mencari solusi.
Baru satu semester disini. Tapi sudah rindu. Rindu berat. Membuncah ke kepala, ke ubun-ubun, hingga terkadang membawa memori ini kembali kepada kenangan-kenangan. Memutarnya layaknya film indah yang akhirnya selalu bahagia. Meski kita belum sampai pada akhirnya. Rindu sekali, mengalir ke seluruh tubuh, memaksanya mengingat lagi, setiap peristiwa, setiap emosi, setiap kebodohan yang takkan mungkin bisa diulangi betapapun aku memohon dan bersimpuh pada sang malaikat penjaga waktu.
.......
.......
Rindu..
Baru satu semester disini. Tapi sudah rindu. Rindu berat. Membuncah ke kepala, ke ubun-ubun, hingga terkadang membawa memori ini kembali kepada kenangan-kenangan. Memutarnya layaknya film indah yang akhirnya selalu bahagia. Meski kita belum sampai pada akhirnya. Rindu sekali, mengalir ke seluruh tubuh, memaksanya mengingat lagi, setiap peristiwa, setiap emosi, setiap kebodohan yang takkan mungkin bisa diulangi betapapun aku memohon dan bersimpuh pada sang malaikat penjaga waktu.
.......
.......
Rindu..
Because... I was called a genius
Sudah dari semalem sebel. Karena banyak sekali spoiler muncul di linimasa twitter. Mereka bilang Neji mati. Buat yang suka sama Naruto, setidaknya pernah baca sampai buku yang ke-sekian-belas pasti tahu siapa Neji. Hyuuga Neji. Sebenernya Neji bukan karakter favoritku, tapi entahlah, tiba-tiba ingin membuat tulisan tentangnya.
Kalo bicara tentang Neji, artinya kita bicara tentang takdir. Hidupnya nggak bisa dilepaskan dari takdir. Dia bahkan pernah mikir bahwa takdir itu sudah pasti, nggak bakal bisa diubah.
Sebenernya takdir itu apa sih? Apakah suatu garis yang benar-benar udah strict ada? Lantas, kalau memang begitu, untuk apa kita harus mati-matian berusaha? Hmmm, kalo dalam islam, takdir itu ada dua jenisnya, ada yang bisa diubah dan ada yang tidak. Kematian, jodoh, adalah hal mutlak yang nggak bisa diubah. Tapi memilih kematian itu bisa. Dengan cara apa kita akan mati? Cara mulia dan akan didukai oleh banyak orang kah. Atau cara hina yang tak seorang pun akan mau mengingatnya. Dan Neji memilih bagaimana dia mati, akhirnya.
Belajar dari Neji adalah belajar dari seorang yang genius. Yang memang dilahirkan dengan kemampuan diatas rata-rata. Tapi melihat Neji juga bisa menjadi pelajaran, bahwa tulus itu penting. Bahwa memaafkan itu penting. Melihat Neji itu belajar tentang membuka hati dengan memaafkan orang lain, dengan tulus. Melihat Neji itu belajar untuk terus mengoptimalkan kemampuannya meski ia adalah jenius.
Hmm, entahlah, mungkin setiap orang akan merasa melihat sebagian dirinya dari Neji. Angkuh. Pintar. Takut pada takdir.
Dan melihat Neji mati, mengingatkanku pada bagaimana nanti aku akan mati. Neji memilih caranya untuk mati: melindungi Hinata dan Naruto. Lantas siapa yang akan kulindungi dengan kematianku nanti?
"Because... I was called a genius"
Kalo bicara tentang Neji, artinya kita bicara tentang takdir. Hidupnya nggak bisa dilepaskan dari takdir. Dia bahkan pernah mikir bahwa takdir itu sudah pasti, nggak bakal bisa diubah.Sebenernya takdir itu apa sih? Apakah suatu garis yang benar-benar udah strict ada? Lantas, kalau memang begitu, untuk apa kita harus mati-matian berusaha? Hmmm, kalo dalam islam, takdir itu ada dua jenisnya, ada yang bisa diubah dan ada yang tidak. Kematian, jodoh, adalah hal mutlak yang nggak bisa diubah. Tapi memilih kematian itu bisa. Dengan cara apa kita akan mati? Cara mulia dan akan didukai oleh banyak orang kah. Atau cara hina yang tak seorang pun akan mau mengingatnya. Dan Neji memilih bagaimana dia mati, akhirnya.
Belajar dari Neji adalah belajar dari seorang yang genius. Yang memang dilahirkan dengan kemampuan diatas rata-rata. Tapi melihat Neji juga bisa menjadi pelajaran, bahwa tulus itu penting. Bahwa memaafkan itu penting. Melihat Neji itu belajar tentang membuka hati dengan memaafkan orang lain, dengan tulus. Melihat Neji itu belajar untuk terus mengoptimalkan kemampuannya meski ia adalah jenius.
Hmm, entahlah, mungkin setiap orang akan merasa melihat sebagian dirinya dari Neji. Angkuh. Pintar. Takut pada takdir.
Dan melihat Neji mati, mengingatkanku pada bagaimana nanti aku akan mati. Neji memilih caranya untuk mati: melindungi Hinata dan Naruto. Lantas siapa yang akan kulindungi dengan kematianku nanti?
"Because... I was called a genius"
Thursday, 22 November 2012
Hilang, Temu
Kemarin, hari Rabu.. Hanya ada satu mata kuliah, meskipun tiga SKS. Pukul 10.45 aku sudah bebas dari penatnya belajar di dalam kelas. Aku berjanji untuk bertemu dengan teman. Sambil menunggu, aku makan di kantin Fakultas sebelah. Ku keluarkan selembar uang biru dari dalam dompetku. Dompet pertamaku. Dompet yang dipilih dan dibelikan ayahku. Ternyata selembar uang biru ku itu ditolak oleh ibu kantin, maka kuganti dengan uang yang lain, sementara uang biru ku itu kumasukkan kedalam kantong kecil di sebelah kanan tas hitamku.
Selesai makan, aku menuju Miriam Budiarjo Resource Center (mbrc), tempat ini adalah perpustakaan fakultas ku. Tempat yang nyaman. Begitu masuk, aku naik ke lantai dua. Ku letakkan tas ku di tempat penitipan. Ku bawa ponsel, serta buku tipis yang harus selesai kubaca dua hari sebelumnya, seharusnya. Aku menuju salah satu bilik dan mulai membaca.
Satu jam..
Dua jam..
Temanku mengatakan dia ingin bertemu. Aku turun, menuju musholla, meninggalkan tas hitamku di lantai dua mbrc. Aku bertemu ketua angkatanku, menuju gedung komunikasi, kembali ke mbrc lantai dua, menemui teman, turun kembali ke bawah untuk shalat, dan ke kantin fakultas. Di kantin fakultas, kami makan. Aku hanya membawa selembar uang biruku. yang akhirnya berubah menjadi beberapa lembar warna-warni. Selesai makan dan shalat, kami kembali ke mbrc lantai dua. Ku letakkan lembaran-lembaran uangku di dalam kantong sebelah kanan tas hitamku. Kutinggalkan, dan aku kembali menuju bilik yang sama.
Satu jam..
Dua jam..
Urusan kami selesai. Aku mengambil tas dan membuka kantong kecil sebelah kanan, hendak mengambil lembaran-lembaranku. Tunggu. Kutaruh disini bukan? Kucari di kantong lain. Tidak ada. Kucari di dalam dompet. Tunggu. Mana dompetku? Dompet pertamaku itu, dimana? Tunggu. Dimana? Ku keluarkan seluruh isi tasku. Namun aku tak bisa menemukan lembaran-lembaranku. Tak juga dompet pertamaku. Dompet dengan KTP di dalamnya, dengan SIM yang kudapat dengan susah payah disana, dengan KTM kuning disana. Dan yang paling krusial, dengan kartu ATM ku disana.
Tenang.
Aku tidak panik.
Kucari kembali perlahan. Ku periksa tempat sampah di dekat sana. Tidak ada. Ku minta ibu untuk menelepon ku. Ku beritakan padanya bahwa dompet pertamaku hilang. Entah siapa yang membawa. Masya Allah.. Beban mental itu.. Lebih berat. Dibandingkan menyadari bahwa dompet dengan segala kartu dan dokumen itu hilang, mengucapkan "Dompetku hilang" kepada ibunda, terasa 12 kali lebih berat. Berat sekali.
Seorang kakak menunjukkan keprihatinan dengan wajahnya. Seolah berpikir mencari solusi apa yang bisa ia lakukan untukku.
Seorang kakak mengantarku dengan motornya, meski tak sampai di tujuan, namun dengan kehangatan hatinya untuk peduli, dibawah selimut jas hujan dan di tengah dinginnya kota Depok. Dengan berbagai kata dan ceritanya yang menenangkan hati.
Seorang teman menjaminku bahwa aku akan baik-baik saja, bahwa segalanya bisa diusahakan dan semua akan kembali normal.
Aku kehilangan dompetku. Dompet pertamaku, yang dipilih dan dibeli oleh ayahku. Dompet dengan segala kartu dan dokumen penting di dalamnya.
Tapi aku menemukan, bahwa masih ada yang peduli. Masih ada yang mau memberikan kehangatan hatinya untuk peduli.
Selesai makan, aku menuju Miriam Budiarjo Resource Center (mbrc), tempat ini adalah perpustakaan fakultas ku. Tempat yang nyaman. Begitu masuk, aku naik ke lantai dua. Ku letakkan tas ku di tempat penitipan. Ku bawa ponsel, serta buku tipis yang harus selesai kubaca dua hari sebelumnya, seharusnya. Aku menuju salah satu bilik dan mulai membaca.
Satu jam..
Dua jam..
Temanku mengatakan dia ingin bertemu. Aku turun, menuju musholla, meninggalkan tas hitamku di lantai dua mbrc. Aku bertemu ketua angkatanku, menuju gedung komunikasi, kembali ke mbrc lantai dua, menemui teman, turun kembali ke bawah untuk shalat, dan ke kantin fakultas. Di kantin fakultas, kami makan. Aku hanya membawa selembar uang biruku. yang akhirnya berubah menjadi beberapa lembar warna-warni. Selesai makan dan shalat, kami kembali ke mbrc lantai dua. Ku letakkan lembaran-lembaran uangku di dalam kantong sebelah kanan tas hitamku. Kutinggalkan, dan aku kembali menuju bilik yang sama.
Satu jam..
Dua jam..
Urusan kami selesai. Aku mengambil tas dan membuka kantong kecil sebelah kanan, hendak mengambil lembaran-lembaranku. Tunggu. Kutaruh disini bukan? Kucari di kantong lain. Tidak ada. Kucari di dalam dompet. Tunggu. Mana dompetku? Dompet pertamaku itu, dimana? Tunggu. Dimana? Ku keluarkan seluruh isi tasku. Namun aku tak bisa menemukan lembaran-lembaranku. Tak juga dompet pertamaku. Dompet dengan KTP di dalamnya, dengan SIM yang kudapat dengan susah payah disana, dengan KTM kuning disana. Dan yang paling krusial, dengan kartu ATM ku disana.
Tenang.
Aku tidak panik.
Kucari kembali perlahan. Ku periksa tempat sampah di dekat sana. Tidak ada. Ku minta ibu untuk menelepon ku. Ku beritakan padanya bahwa dompet pertamaku hilang. Entah siapa yang membawa. Masya Allah.. Beban mental itu.. Lebih berat. Dibandingkan menyadari bahwa dompet dengan segala kartu dan dokumen itu hilang, mengucapkan "Dompetku hilang" kepada ibunda, terasa 12 kali lebih berat. Berat sekali.
Seorang kakak menunjukkan keprihatinan dengan wajahnya. Seolah berpikir mencari solusi apa yang bisa ia lakukan untukku.
Seorang kakak mengantarku dengan motornya, meski tak sampai di tujuan, namun dengan kehangatan hatinya untuk peduli, dibawah selimut jas hujan dan di tengah dinginnya kota Depok. Dengan berbagai kata dan ceritanya yang menenangkan hati.
Seorang teman menjaminku bahwa aku akan baik-baik saja, bahwa segalanya bisa diusahakan dan semua akan kembali normal.
Aku kehilangan dompetku. Dompet pertamaku, yang dipilih dan dibeli oleh ayahku. Dompet dengan segala kartu dan dokumen penting di dalamnya.
Tapi aku menemukan, bahwa masih ada yang peduli. Masih ada yang mau memberikan kehangatan hatinya untuk peduli.
Thursday, 1 November 2012
Aksi (?)
Aksi
Aksi
Aksi
Tiga bulan di kampus rakyat ini, aku sering mendengar kata itu. Kata yang digunakan dibelakang kata "seruan" dan biasa dirangkai dengan frasa "kenakan jakunmu!" Aksi. Sebetulnya beberapa bulan ini aku sering bertanya. Entah pada siapa. Mungkin aku juga sedang memecahkan teka-teki malamku sendiri. Sebenarnya apa aksi itu? Pada hakikatnya, secara harfiahnya, apa aksi itu? Benarkah selama ini bila kata itu digunakan untuk suatu seruan? Dengan dalih membela rakyat atau memperjuangkan aspirasi? Ah, tidakkah kata itu hanya digunakan untuk memperhalus kata "Demonstrasi"? Sama halnya frasa "masa aksi" digunakan untuk memperhalus "demonstran"? Benarkah begitu? Atau logika ku yang salah? Ah, aku tidak tahu. Aku masih mencari dimana ujung selubungnya, untuk kusibak pada akhirnya.
Bukan, bukan berarti aku sentimen terhadap aksi. Aku pernah melakukannya. Aku turun ke jalan dan melakukan aksi. Lebih dari sekali malah. Tapi entahlah, tiba-tiba muncul banyak pertanyaan belakangan ini. banyaaaak sekali.
Benarkah yg ku lakukan ini?
Apakah ini langkah yang paling tepat?
Sebenarnya apa yang ku perjuangkan?
Apakah sesungguhnya aku hanya batang kayu yang mengikuti arus deras?
Yang melakukan aksi hanya karena itu terlihat keren?
Atau aku memang tahu apa yang kulakukan?
Lanas apa sebenarnya aksi itu?
Jangan salah, sekali lagi jangan salah. Aku adalah orang yang dinamis. Aku akan terus bergerak. Dan bergerak memerjuangkan keadilan. Tapi aku tak tahu, kawan. Sungguh, aku sedang berada dalam kebingungan dan kegalauan yang luar biasa hanya karena satu kata yang entah mengapa menggetarkan hatiku itu: aksi.
Aku menemukan nyawaku disana, tak bisa dipungkiri itu. Tapi aku tak tahu apa yang kulakukan ini benar. Entahlah, mungkin aku terpengaruh pemikiran seorang aktivis yang abadi dalam buku hariannya. Tapi bagiku ini layak dipertanyakan.
Apa hakikat aksi ini? Hanya sebatas redaksi kah? Atau..... Ah, entahlah. Aku pribadi menganggap aksi adalah perbuatan kita. Segala sesuatu yang kuperbuat. Segalanya. Tidak terbatas pada demonstrasi dan turun ke jalan saja.
Entahlah. Entahlah. Entah. Aku tak tahu.
Tapi aku masih mau tahu.
Aksi
Aksi
Tiga bulan di kampus rakyat ini, aku sering mendengar kata itu. Kata yang digunakan dibelakang kata "seruan" dan biasa dirangkai dengan frasa "kenakan jakunmu!" Aksi. Sebetulnya beberapa bulan ini aku sering bertanya. Entah pada siapa. Mungkin aku juga sedang memecahkan teka-teki malamku sendiri. Sebenarnya apa aksi itu? Pada hakikatnya, secara harfiahnya, apa aksi itu? Benarkah selama ini bila kata itu digunakan untuk suatu seruan? Dengan dalih membela rakyat atau memperjuangkan aspirasi? Ah, tidakkah kata itu hanya digunakan untuk memperhalus kata "Demonstrasi"? Sama halnya frasa "masa aksi" digunakan untuk memperhalus "demonstran"? Benarkah begitu? Atau logika ku yang salah? Ah, aku tidak tahu. Aku masih mencari dimana ujung selubungnya, untuk kusibak pada akhirnya.
Bukan, bukan berarti aku sentimen terhadap aksi. Aku pernah melakukannya. Aku turun ke jalan dan melakukan aksi. Lebih dari sekali malah. Tapi entahlah, tiba-tiba muncul banyak pertanyaan belakangan ini. banyaaaak sekali.
Benarkah yg ku lakukan ini?
Apakah ini langkah yang paling tepat?
Sebenarnya apa yang ku perjuangkan?
Apakah sesungguhnya aku hanya batang kayu yang mengikuti arus deras?
Yang melakukan aksi hanya karena itu terlihat keren?
Atau aku memang tahu apa yang kulakukan?
Lanas apa sebenarnya aksi itu?
Jangan salah, sekali lagi jangan salah. Aku adalah orang yang dinamis. Aku akan terus bergerak. Dan bergerak memerjuangkan keadilan. Tapi aku tak tahu, kawan. Sungguh, aku sedang berada dalam kebingungan dan kegalauan yang luar biasa hanya karena satu kata yang entah mengapa menggetarkan hatiku itu: aksi.
Aku menemukan nyawaku disana, tak bisa dipungkiri itu. Tapi aku tak tahu apa yang kulakukan ini benar. Entahlah, mungkin aku terpengaruh pemikiran seorang aktivis yang abadi dalam buku hariannya. Tapi bagiku ini layak dipertanyakan.
Apa hakikat aksi ini? Hanya sebatas redaksi kah? Atau..... Ah, entahlah. Aku pribadi menganggap aksi adalah perbuatan kita. Segala sesuatu yang kuperbuat. Segalanya. Tidak terbatas pada demonstrasi dan turun ke jalan saja.
Entahlah. Entahlah. Entah. Aku tak tahu.
Tapi aku masih mau tahu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

